Korelasi Antara Pilkada dan Piala Dunia

Sekilas dua gelaran ini, Pilkada dan Piala Dunia tampaknya tak berkorelasi. Namun dalam perjalanannya, ada beberapa persamaan di antara event nasional dengan event internasional beda dimensi ini.

Kecanduan Game Masuk Gangguan Mental, Kecanduan Rokok Kapan?

WHO telah secara resmi menetapkan kecanduan bermain video game sebagai gangguan mental. Mestinya, kecanduan merokok juga bernasib sama.

Teman Anda Depresi? Yuk Bantu Dia dengan Enam Cara Ini!

Jangan diam ketika teman Anda dilanda depresi. Mari bantu dia meredakan depresinya dengan enam cara berikut ini.

Kampanye yang Sia-Sia Belaka

Beragam kampanye melawan hal-hal negatif nan merusak terus dilakukan. Namun sebagian di antaranya seakan menjadi sia-sia. Apa penyebabnya?

Tidak Perlu Ragu Kuliah di Universitas Terbuka

Kampus yang memiliki unit pembelajaran di berbagai daerah di Indonesia ini bisa menjadi pilihan dalam menempuh pendidikan tinggi.

Rabu, 11 Juli 2018

Bahaya Sering Begadang bagi Kesehatan, Bisa Picu Diabetes hingga Kematian!

ilustrasi
BERAKTIVITAS seharian penuh seringkali menyebabkan waktu tidur terganggu. Padahal tidur cukup, olahraga teratur disertai pola makan seimbang sangat dibutuhkan agar tubuh tetap prima.

Kurangnya waktu tidur bisa meningkatkan produksi kortisol dalam tubuh atau dikenal sebagai hormon stres. Selain itu, ada beragam masalah lain yang disebabkan oleh kurang tidur. Jika Anda secara rutin begadang, Anda mungkin lebih mungkin untuk meninggal, menderita diabetes atau mengembangkan penyakit psikologis.

Sabtu, 07 Juli 2018

Serba Ada di Samarinda

Peralatan terkait FURS dan laser di ruang operasi.


Catatan menarik Dahlan Iskan tentang lengkapnya fasilitas medis di Rumah Sakit AW Sjahranie Samarinda, tak kalah dari Singapura dan Tiongkok.

***

Saya video kamar VIP istri saya. Saya kirimkan ke teman saya. Yang di Singapura. Juga yang di Tiongkok. “Benarkah itu rumah sakit di Samarinda?,” ujar mereka.

Keduanya pernah ke Samarinda. Hampir sepuluh tahun lalu. Saat Samarinda masih gelap: sering mati lampu.

”Kelihatannya lebih bagus dari kamar Anda di RS Singapura itu,” ujar teman saya yang Singapura. Dalam bahasa Inggris.

”Hahaha…lebih bagus dari kamar Anda di lantai 10 RS Tianjin …” komentar teman Tiongkok saya. Dalam bahasa Mandarin.

”Padahal tarifnya hanya 25 persennya,” jawab saya. Dengan kepala membesar.

Maka tidak menyesal saya membatalkan ini: membawa istri ke Singapura. Meski sudah terlanjur bikin janji dengan dokter di sana.

Tentu dunia kedokteran tidak boleh hanya adu penampilan fisiknya. Kualitas layanannya ikut menentukan. Juga peralatannya. Dan yang utama kualitas medikalnya.

Saya tentu tidak ingin memperjudikan istri saya. Sekadar untuk kebanggaan kampung halaman. Begitu tiba di RS Wahab Syachrani ini saya kelilingi fasilitasnya. Saya kuat-kuatkan kaki saya. Rumah sakit ini tanahnya 33 ha.

Ternyata memang jauh di atas bayangan saya: kamar operasinya 26! Rumah sakit di daerah yang dulu begitu terpencil punya OK begitu banyaknya. Dengan AC sentral.

Sudah mampu pula melakukan operasi jantung: tiap hari. Punya MRI. Punya CT scan yang 126 slice. Coba tanya di kota Anda: siapa yang punya 126 slice. Masih ada dua lagi yang di bawah itu.

Untuk kanker pun sudah punya petscan. Hanya ada empat rumah sakit di Indonesia yang memiliki petscan. Kota sebesar Surabaya pun belum punya. Bahkan belum ada rencana punya. Baru sebatas ingin punya.

Dengan petscan itu benih kanker sekecil 2 mm pun sudah bisa dideteksi. Sedangkan untuk terapinya jangan kaget: sudah punya radio nuklir. Pasien yang terkena kanker teroid diterapi radio nuklir. Lalu dimasukkan ruang isolasi selama tiga hari.

Ruang ini sangat khusus: terisolasi dari radiasi nuklir. Pembuatan ruangnya harus atas pengawasan Bapeten: badan yang bertanggung jawab untuk keamanan nuklir.

Penggunaannya juga harus seizin Bapeten. RS Wahab Syachrani Samarinda ini punya enam ruang isolasi seperti itu. Enam. Edan.

Saya pun mantap: menyerahkan istri saya pada tim dokter di kampung kelahiran istri saya itu. Yang sudah 40 tahun ditinggalkannya itu.

Saya pun berdiskusi dengan tim dokternya: dokter Boyke Soebhali, dokter Kuntjoro Yakti, dokter Satria Sewu, dokter Moh Furqon dan dokter Teddy Ferdinand Indrasutanto. Juga melihat alat yang bernama FURS: pencari posisi batu ginjal yang bisa fleksibel. Bisa belok-belok mencari di slempitan mana batu itu berada.

Dokter Rachim Dinata, sang kepala rumah sakit, hadir: memperkenalkan dokter-dokter itu. Lalu menyilahkan kami diskusi sendiri. Rachim Dinatalah di balik semua prestasi itu. Ia dokter ahli bedah. Lulusan Universitas Padjadjaran Bandung. Kini dokter Rachim telah membalik dunia: dari kuno ke modern.

Tidak hanya alat dan fisiknya. Tapi juga sistem dan SDM-nya.

Penghasilan dokter di rumah sakit ini empat kali lipat dari penghasilan dokter di rumah sakit kota saya. Dokter Rachim menyebutkan angka-angkanya. Tapi biarlah imajinasi menuliskan angkanya sendiri.

Dokter Rachim menerapkan sistem prestasi. Di atas hirarkhi. Di atas senioritas. Di atas penampilan fisik.

Dokter Boyke misalnya: lebih bertampang rocker daripada dokter. Rambutnya dibiarkan gondrong. Celananya jean. Bawaannya ransel. Mainannya gitar.

Suatu saat pasien yang sok terdidik bertanya padanya: apakah ia mahasiswa yang lagi magang. Si pasien terperanjat ketika akhirnya tahu: yang ditanya itu adalah dokter spesialis urologi.

”Ada empat dokter yang gondrong di sini,” ujar dr Nurliana Andriati Noor. ”Yang penting kegondrongannya tidak menganggu kerja dokternya,” tambah dokter  Nana.

Di akhir diskusi saya putuskan: saya serahkan istri saya kepada tim dokter. Lakukan apa pun yang terbaik menurut dokter. Saya tandatangani dua pernyataan: setuju dibius total dan setuju dilakukan operasi. Jadwal ditetapkan: keesokan harinya. Jam 9 pagi.

Istri saya pernah operasi syaraf tulang belakang. Akibat HNP, 20 tahun lalu. Saya diajak Prof Hafidz Surabaya untuk ikut masuk ruang operasi. Tiga tahun lalu istri saya operasi ganti lutut. Saya diajak dokter Dwikora Surabaya ikut masuk ruang operasi. Kemarin, saya diajak dokter Boyke masuk ruang operasi.

Saya pun bisa melihat bagaimana FURS masuk ke ginjal. Lalu dibelok-belokkan. Memasuki ruang-ruang yang ada di dalam ginjal. Mencari di mana batu itu sembunyi.

Ketemu: satu batu. Lalu FURS itu diajak menjelajah ruang-ruang lain dalam ginjal. Ketemu: satu lagi. Lebih besar. Total: dua batu.

Yang satu batu lagi sudah dikeluarkan di Surabaya dua minggu lalu. Yang posisinya sudah di saluran kencing. Yang sudah bernanah. Yang menyebarkan infeksi ke seluruh tubuh. Yang membuat istri saya koma. Yang memaksa saya mendadak pulang dari Amerika.

Dokter Boyke terus menggerakkan alatnya. Diiringi lagu-lagu barat. Yang ia setel dari stock yang ada di HP-nya.

Anak ‘wedok’ saya, Isna Fitriana, mendekatkan mulutnya ke telinga saya. ”Wow… kegemaran dokter Boyke rupanya sama dengan saya: lagu-lagu Bon Jovi,” bisik anak wedok saya itu.

Ternyata dokter Boyke juga seperti anak saya itu: gemar bersepeda. Bahkan sepedanya sama: merk Wdnsdy. Baca: Wednesday. Yang diproduksi oleh Azrul Ananda. Anak sulung saya.

Oleh dokter Boyke batu yang lebih kecil itu diusik. Dipindahkan dari tempatnya. Dijadikan satu dengan batu yang lebih besar. Saya pikir mau dihancurkan bersamaan. Ternyata tidak. Hanya dibandingkan ukurannya. Lalu batu yang lebih kecil dimasukkan jaring. Yang dipasang di ujung alatnya. Jaring ditarik.

Ternyata ukuran batu itu lebih kecil dari saluran air kencing. Maka batu pun  dikeluarkan. Tidak dihancurkan.

Yang besar pun kemudian dijaring. Dicoba ditarik. Ternyata lebih besar dari saluran kencing. Maka batu itu dikembalikan lagi ke tempat asalnya: akan ditembak dengan laser.

Saya pikir batu itu akan langsung hancur saat dilaser. Ternyata laser itu hanya mencuil-cuil batu. Maka lasernya terus ditembakkan. Ratusan cuilan terlepas dari batu. Lama-lama batunya tinggal secuil. Menembaknya kian sulit. Cuilan terakhir itu lari-lari. Terbawa arus air yang disemprotkan: untuk mendinginkan bagian ginjal di sekitar laser yang sangat panas.

Selesai. Satu jam persis.

Cuilan-cuilan batu itu ukurannya sebutir pasir. Akan keluar bersama air kencing.
Satu jam kemudian istri saya sudah kembali di kamar yang lebih baik dari lantai 10 RS Tianjin tadi.

”Saya ingin lihat batunya,” ujar istri saya. Maka saya serahkan batu yang tidak dihancurkan tadi. Juga satu cuilan batu sebesar pasir hasil tembakan laser.

Istri saya memang sempat berharap dokter Boyke kecele: tidak menemukan batunya. Mengapa? Dua hari sebelumnya istri saya merebus kelapa hijau muda. Lalu meminum airnya. Keesokan harinya dia rebus lagi kelapa hijau muda. Diminum lagi.

Dengan cara itu dia harapkan batu bisa keluar sendiri. Seperti yang banyak dishare di media sosial. Ternyata fakultas kedokteran  tidak bisa digantikan kelapa hijau rebus. (dis)

Sumber: Disway.id

Telinga Anak Nyeri saat di Pesawat Terbang? Ini Cara Mengatasinya!

ilustrasi

SAAT traveling dengan menggunakan pesawat terbang, tekanan kabin di telinga sangatlah membuat tidak nyaman. Apalagi bagi anak-anak dengan telinga yang lebih sensitif, pasti benar-benar menyakitkan. Ada beberapa solusi untuk mengatasinya, seperti dilansir laman MSN.

Kamis, 05 Juli 2018

Mengenal Mangalitsa, Babi Berbulu Biri-Biri

Babi Mangalitsa
Belakangan santer di media sosial tentang binatang bernama Mangalitsa, khususnya melalui Whatsapp. Dalam informasi tersebut disebutkan bahwa Mangalitsa merupakan hasil persilangan babi dengan biri-biri (domba). Ditambah lagi data-data bahwa dagingnya telah tersebar dengan harga murah dari Wikipedia yang belum jelas sumbernya. Akibatnya, informasi itu cukup meresahkan masyarakat, terutama bagi konsumen muslim. Berikut sedikit ulasan tentang mangalitsa.

Menurut para ahli perhewanan IPB (12/2), Mangalitsa merupakan  nama untuk  satu spesis binatang, yaitu: Babi Berbulu seperti Biri-biri, atau dalam bahasa Hungaria dikenal dengan istilah Mangalica yang dikenal sebagai Hog kerinting rambut. Babi Mangalitsa  merupakan babi jenis lain yang mempunyai bulu yang panjang, yaitu jenis “Lincolnshire Curly Coat of England”. Sebelumnya Mangalitsa diternak untuk mendapatkan lemak babi.

Rabu, 04 Juli 2018

Alkisah Kemenangan Kotak Kosong di Makassar

ilustrasi

Catatan Rudi S Kamri

Alkisah Kemenangan Kotak Kosong di Makassar: Saat Partai Politik Takluk oleh Daulat Rakyat

Rakyat Makassar dengan cerdik dan gemilang telah mengukir sejarah baru di Indonesia. Untuk pertama kali dalam sejarah Pilkada di negeri ini, calon tunggal yang diusung 10 Partai (PDIP, PKS, PKB, PBB, PPP, PKPI, Golkar, Gerindra, Nasdem dan Hanura) DIKALAHKAN SECARA SANGAT MEMALUKAN oleh KOTAK KOSONG dengan persentase suara 53%.

Selasa, 03 Juli 2018

Korelasi Antara Pilkada dan Piala Dunia

TPS yang didesain bertema Piala Dunia 2018.

Catatan Lukman M, Redaktur Bontang Post

PEKAN terakhir Juni kemarin merupakan masa yang menentukan. Setidaknya bagi para pasangan calon (paslon) kepala daerah yang mengikuti Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak 2018. Sebanyak 171 daerah pada 27 Juni lalu menyelenggarakan hajatan demokrasi untuk menentukan pemimpin baru dalam kurun waktu lima tahun ke depan.

Di sisi lain, pekan lalu juga menjadi penentuan bagi para tim sepak bola dunia untuk bisa terus berlaga di turnamen akbar empat tahunan, Piala Dunia 2018. Bertempat di Rusia, laga terakhir masing-masing grup di fase penyisihan tercatat menjadi laga penentu bagi beberapa tim, khususnya tim-tim besar Eropa dan Amerika untuk bisa lolos ke fase gugur 16 besar.

Sabtu, 30 Juni 2018

Kecanduan Game Masuk Gangguan Mental, Kecanduan Rokok Kapan?

ilustrasi

Oleh Lukman Maulana, Redaktur Bontang Post

DIKUTIP dari laman CumaGamer.com, pada 18 Juni lalu, organisasi kesehatan dunia WHO secara resmi menetapkan kecanduan bermain video game sebagai salah satu gangguan mental. Banyak hal telah dipertimbangkan WHO sebelum akhirnya memasukkan kecanduan jenis ini ke dalam versi terbaru International Statistical Classification of Diseases (ICD).

ICD merupakan sistem yang berisi daftar penyakit berikut gejala, tanda, dan penyebab yang dikeluarkan WHO. Berkaitan dengan kecanduan game, WHO memasukkan kecanduan game ini ke daftar penyakit yang disebabkan oleh kebiasaan atau kecanduan. Menurut mereka, kecanduan game bisa disebut penyakit bila memenuhi tiga hal.

Teman Anda Depresi? Yuk Bantu Dia dengan Enam Cara Ini!

ilustrasi

KEHIDUPAN yang begitu kompleks ditambah rumitnya masalah psikologis yang dihadapi saat ini sering membuat seseorang terperangkap dalam depresi. Kondisi ini pun diperparah dengan kurangnya kepedulian dan stigma negatif terhadap penderitanya, mengakibatkan angka kejadian depresi kian mencuat dari tahun ke tahun.

Sebenarnya, depresi merupakan salah satu gangguan mental dengan tingkat kesembuhan atau prognosis yang besar. Semakin cepat terdeteksi dan ditangani, maka akan semakin besar pula peluang kesembuhan yang didapat penderitanya.

Jumat, 29 Juni 2018

Kampanye yang Sia-Sia Belaka

ilustrasi


Oleh Lukman M, Redaktur Bontang Post

KAMPANYE. Menurut KBBI, punya dua arti. Yang pertama yaitu gerakan (tindakan) serentak (untuk melawan, mengadakan aksi, dan sebagainya). Arti kedua yaitu kegiatan yang dilaksanakan oleh organisasi politik atau calon yang bersaing memperebutkan kedudukan dalam parlemen dan sebagainya untuk mendapat dukungan massa pemilih dalam suatu pemungutan suara.

Belakangan, kata ini sedang hangat di masyarakat Indonesia. Maklum saja, kita baru saja melewati pesta demokrasi Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Serentak 2018 dan menyongsong Pemilu 2019. Namun sejatinya, kampanye bukan hanya milik entitas politik. Sesuai definisi KBBI, kampanye punya arti luas yang meliputi berbagai aspek kehidupan, bila melihat arti pertama dalam KBBI.

Kamis, 28 Juni 2018

Pancasila yang Terus Mendapat Penghinaan

ilustrasi

Oleh Lukman M, Redaktur Bontang Post

Jumat (1/6/2018) kemarin, bangsa ini memperingati hari kelahiran Pancasila, ideologi yang menjadi dasar negara tercinta Indonesia. Sayangnya peristiwa yang sedang ramai belakangan ini mencoreng dan merupakan penghinaan terhadap momen penuh makna tersebut. Yang ironisnya dilakukan oleh pihak-pihak yang mengaku paling Pancasila.

Belakangan ini, gaji pimpinan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) menjadi sorotan masyarakat. Hal ini dikarenakan gaji para pimpinan lembaga tersebut terbilang fantastis, melampaui Rp 100 juta. Gaji super besar yang bahkan melampaui gaji presiden RI ini dituangkan dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 42 Tahun 2018.

Jangan Viral, Berat!

ilustrasi

Oleh Lukman Maulana, Redaktur Bontang Post

Dalam beberapa tahun terakhir sejak penggunaan gadget membudaya, masyarakat kita mengenal istilah “viral”. Istilah ini merujuk pada sebuah informasi, bisa berupa potongan gambar, video, tulisan, atau sejenisnya, yang menyebar melalui distribusi internet yang lantas muncul di gadget untuk kemudian “dinikmati” masyarakat dan menjadi pembicaraan ramai.

Merujuk Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), viral memiliki dua arti. Arti pertama yaitu sesuatu yang berkenaan dengan virus, sementara arti kedua yaitu “bersifat menyebar luas dan cepat seperti virus”. Dalm konteks ini, arti kedua rasanya lebih relevan menjelaskan makna viral. Walaupun saya yakin masyarakat zaman now sudah paham benar dan tidak asing lagi dengan istilah tersebut.

Senin, 21 Mei 2018

Tidak Ada Surga untuk Teroris

ilustrasi penanganan teroris.



Catatan Lukman Maulana, Redaktur Bontang Post


Teror bom bunuh diri yang mengguncang Surabaya, lantas Riau, mengundang kembali kesedihan mendalam bagi masyarakat Indonesia.  Pasalnya teror bom yang dalam beberapa waktu terakhir sempat terhenti, kini muncul kembali bahkan dengan skala dan radius yang begitu tak terduga. Yang lebih memprihatinkan, selain menelan banyak korban, pelaku teror turut mebawa serta keluarga mereka yang usianya masih sangat belia, bahkan ada yang belum genap 10 tahun.

Tentu menjadi pertanyaan apa yang sebenarnya dicari oleh para teroris ini sehingga mereka bisa melakukan apa saja yang di luar nalar manusia. Bunuh diri jelaslah hal yang dilarang agama. Dan ini sudah jelas di agama Islam, diterangkan adalm Alquran dan hadis sahih. Apalagi bila bunuh diri yang dilakukan bertujuan untuk membunuh orang lain, maka betapa berlapisnya dosa si pelaku karena secara jelas agama Islam melarang membunuh, apalagi yang dibunuh merupakan umat beragama lain yang tengah melakukan ibadahnya dengan damai.

Bila bunuh diri dan membunuh saja sudah begitu dosanya, lantas tambahan dosa apalagi yang akan didapatkan ketika mengajak serta buah hati yang belum akil balig melakukan dua perbuatan terkutuk itu? Apakah dengan dosa seperti itu, surga menanti jiwa-jiwa mereka di akhirat? Apakah yang melakukan itu akan selamat dari siksa di alam barzah?

Saya bukan ustaz atau ahli agama, akan tetapi bila merujuk pada Alquran dan hadis sahih, sudah jelas dapat dipahami bahwa apa yang dilakukan oleh teroris merupakan tindakan dosa. Bahkan termasuk dosa besar, yang ancamannya adalah neraka. Lantas bila merujuk pada tindakan itu saja, apakah layak disebut bila teroris bisa mendapat surga dengan kekejian yang dilakukan?

Itu baru dilihat dari kitab suci, belum bila melihat pada kisah nabi. Bagi umat Islam yang taat, pasti sudah mengerti seperti apa keteladanan yang kebaikan hati dari sang uswatun hasanah. Nabi Muhammad tak pernah mengajarkan teror. Yang diperbolehkan adalah berperang ketika terjadi kesewenang-wenangan. Itu pun bukan sekadar perang, melainkan perang sesungguhnya yang begitu menganut hukum-hukum peperangan.

Indonesia, meskipun tidak bisa dikatakan sepenuhnya sejahtera, namun kondisinya berada dalam kedamaian. Masyarakatnya rukun antaragama, suku, ras, dan golongan. Tidak sedang dalam perang. Sehingga perang yang dijadikan alasan para teroris sejatinya tidak pernah ada. Mereka sendirilah yang menyulut perang tanpa mengindahkan aturan-aturannya.

Hukum perang yang dianut Rasulullah adalah hukum perang yang adil, yang fair saling berhadapan satu sama lain. Saling adu kekuatan di medan tempur. Tidak ada yang datang ke rumah ibadah lantas meledakkan diri. Tidak pernah ada. Bahkan saking santunnya hukum perang Rasulullah, para tahanan perang diperlakukan dengan baik, tak boleh ada penyiksaan ketika lawan sudah menyerah.

Keadilan perang yang ditunjukkan Rasulullah juga meliputi mereka yang terlibat di medan tempur. Anak-anak yang belum cukup umur dan juga perempuan tidak diperkenankan ikut perang. Bahkan orang yang dianggap masih punya tanggungan hidup, disarankan tetap berada di rumah. Kisah ini mestinya menunjukkan betapa yang dilakukan para teroris sama sekali tidak punya dasar. Membawa perempuan dan anak-anak menyerang tempat ibadah, sama sekali tidak pernah ada contohnya.

Perlakuan terhadap umat beragama lain, juga sejatinya secara jelas telah ditunjukkan teladannya oleh Rasulullah. Yaitu selama tidak mengganggu atau menindas, maka haram untuk diperangi. Keberadaan umat berbeda keyakinan ini malahan harus dijaga dan dirangkul, dipastikan keamanannya sebagaimana yang dilakukan Rasulullah pada pemeluk Yahudi dan Nasrani yang ada di Madinah. Maka, nabi yang mana yang diikuti para teroris?

Dengan begitu banyaknya pelanggaran atas perintah Allah dan sabda nabi, sudah seharusnya tudingan Islam mengajarkan terorisme dihapuskan. Sebaliknya, ajaran kedamaian dan cinta kasih Islam harus lebih dikampanyekan. Aksi para teroris, mulai dari Bom Bali, Bom Surabaya, hingga ISIS, sudah seharusnya dilepaskan dari embel-embel Islam. Karena Islam tak pernah mengajarkan semua itu.

Makanya saya heran dengan cuitan Ade Armando yang menyebut Islam tak bisa dilepaskan dari aksi teroris. Pria berkacamata yang mengaku dosen itu menyebut ada banyak ayat di Alquran yang merujuk pada aksi terorisme. Mendapati pendapat tak berdasar itu, saya berkeyakinan bila Ade Armando ini tidak pernah mempelajari Alquran.

Logikanya, kalau memang Alquran mengajarkan terorisme, maka Indonesia ini akan binasa dari dulu, karena mayoritas penduduknya adalah Islam. Faktanya, justru umat Islam tercatat sejak zaman penjajahan, kemerdekaan, hingga sekarang ini sebagai garda terdepan dalam menyelematkan negeri. Sungguh pendapat yang amat beracun yang sangat disayangkan keluar dari mulut seorang dosen yang katanya beragama Islam.

Memang, banyak pihak yang telah dibutakan oleh aksi terorisme mengatasnamakan Islam sehingga dengan kepentingan pribadi atau golongan, dengan menggunakan emosi yang labil bisa mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang kontroversial yang bukannya meneteramkan, tapi justru semakin memperkeruh suasana. Yang seperti itu menurut saya juga layak dilabeli teroris, karena dengan kalimat-kalimatnya bisa menjadi provokator yang meresahkan masyarakat.

Saya bukan Tuhan, dan saya pikir saya juga tidak berhak menghakimi. Tapi saya rasa kita semua sepakat terlepas dari apapun keyakinan kita,  bahwa tidak pernah ada surga untuk teroris. Karena surga tidak pernah bisa “dibeli” dengan penderitaan manusia lain. Alih-alih seperti mujahid atau para pejuang syahid, para teroris mengatasnamakan agama ini justru berakhir seperti Firaun yang jasadnya tidak diterima bumi. Lihatlah betapa muncul beragam penolakan di berbagai daerah terhadap jenazah para teroris. Mirip dengan yang terjadi pada Firaun di zaman Nabi Musa.

Maka berhenti mengaitkan terorisme dengan Islam atau dengan agama apapun. Karena saya meyakini semua agama mengajarkan perdamaian. Stigma ini seharusnya sudah hilang di zaman now, tapi tetap saja Islam selalu menjadi kambing hitam bahkan di negeri mayoritas muslim itu sendiri. Ditambah lagi dengan kebodohan aparat yang bisa dengan mudah mengaitkan Islam dengan aksi kekerasan.

Kita pasti ingat komentar salah seorang petinggi aparat keamanan yang dengan mudahnya menyebut ucapan “Allahu Akbar” sebagai ciri teroris. Lantas yang terbaru, betapa Alquran yang begitu suci dijadikan barang bukti untuk kejahatan terorisme. Belum lagi tudingan dan tuduhan keji kepada para santri maupun muslim yang berjenggot atau bercadar. Sungguh hal-hal yang sangat disayangkan oleh negeri yang dasar negaranya bersumber dari agama Islam.

Entah apa yang dituju oleh para teroris, entah apa yang mereka cari, tapi jelas itu bukanlah jalan yang diridai Allah. Karena kalamullah, Alquran tak pernah mengajarkan itu. Maka cukup wajar bila kita lantas  berasumsi bahwa  aksi-aksi teroris itu sengaja dilakukan untuk menjelekkan nama Islam. Untuk memperburuk citra Islam, untuk membuat dunia membenci Islam. Bahwa aksi terorisme yang belakangan marak merupakan agenda besar untuk menjauhkan umat dari kebenaran. Wallahu a’lam bishawab. (*)

Ilustrasi foto: Antara

Senin, 14 Mei 2018

Bela Diri... atau Bunuh Diri?

ilustrasi



Catatan Lukman Maulana, Redaktur Bontang Post

BEBERAPA waktu lalu, publik Bumi Etam dikejutkan dengan kabar seorang remaja yang tewas terlindas mobil pikap. Yang membuat miris, remaja tersebut mengembuskan napas terakhirnya dalam sebuah atraksi bela diri di suatu momen perpisahan sebuah sekolah menengah di Berau. Ya, dilindasnya sang remaja nahas merupakan bagian dari atraksi tersebut.

Tentu ini merupakan hal yang sangat disayangkan semua pihak. Seorang remaja yang masih memiliki masa depan cerah mesti berakhir di bawah roda. Memang hal ini bisa diketagorikan sebagai kecelakaan dengan unsur kelalaian, namun latar belakang terjadinya kasus inilah yang patut menjadi perhatian banyak pihak.

Atraksi unjuk kebolehan diri dengan menantang nyawa bukan hal baru dalam pertunjukan seni di Indonesia. Kebanyakan dilakukan para profesional bela diri atau pesulap yang telah berpengalaman puluhan tahun. Bahkan tak jarang bila atraksi seperti ini dibumbui hal-hal berbau mistis. Sehingga dalam setiap pertunjukan tersebut, selalu dipesankan bahwa adegan-adegan yang dilakukan merupakan adegan berbahaya sehingga diharap untuk tidak melakukannya di rumah.

Maka, cukup menjadi pertanyaan bila remaja 16 tahun yang dalam hukum negara dikategorikan masih di bawah umur lantas terlibat dalam aksi menantang maut. Tak main-main, bersama rekan-rekannya yang lain, tubuh kecil sang remaja mesti dilindas oleh pikap yang sudah tentu berat.

Wajar sebelum aksi dimulai, perasaan bergidik menghampiri mereka yang menyaksikan. Khawatir terjadi hal yang tak diinginkan pada si bocah. Walaupun dalam pendampingan orang dewasa, kecemasan itu sulit akan lepas. Benar saja, setelah mobil melintasi enam remaja, dua di antaranya yang berada paling depan terlihat lemas. Tragisnya, itulah akhir dari remaja 16 tahun yang pertama kali dilindas pikap.

Menyaksikan videonya yang viral saja sudah membuat bergidik, apalagi membayangkan diri ini menjadi para penonton langsung di acara. Lantas kemudian membayangkan diri ini menjadi orang tua dari korban. Betapa sedih dan hancurnya perasaan ini melihat masa depan putra yang merupakan kebanggaan mesti berakhir dengan cara yang amat tragis.

Ya kejadian itu memang musibah, kecelakaan. Tapi takkan menjadi musibah bila kita semua bisa peduli dan berhati-hati. Bukan kali ini saja kegiatan bela diri memakan korban anak-anak muda. Kerap muncul di media, kabar tewasnya remaja yang tengah mengikuti kegiatan perguruan bela diri. Di antaranya saat ujian kenaikan pangkat, ujian kekebalan tubuh, hingga yang terbaru tragedi di Berau.

Dengan tragedi-tragedi seperti itu, tentu menjadi pertanyaan bagaimana mungkin kegiatan bela diri yang sejatinya untuk melindungi diri, malah mengakibatkan diri terbunuh. Kasus di Berau seakan menunjukkan bahwa tragedi ini terus-menerus berulang. Bisa saja di tahun-tahun yang akan datang, remaja-remaja kita kembali berakhir tragis dalam latihan bela diri, sebelum sempat “membela diri”.

Maka para pengurus kegiatan bela diri sudah seharusnya menjadikan tragedi-tragedi tersebut sebagai pembelajaran ke depan. Bahwa, apa yang diajarkan kepada para muridnya adalah ilmu untuk membela diri, tanpa ada potensi untuk bunuh diri. Tak perlu lagi ada ujian-ujian atau aksi-aksi yang menantang maut, yang bisa membuat masa depan mereka terenggut.

Bela diri itu tak bisa dipukul rata untuk semua orang. Mental dan kemampuan tubuh manusia itu berbeda satu sama lain. Sesuatu yang bisa diatasi oleh seseorang, belum tentu dapat diatasi orang lainnya. Bahkan dengan pelatihan yang intensif sekalipun. Inilah yang mestinya disadari benar, bahwa potensi kecelakaan itu selalu ada.

Saat ini, kita hidup di zaman yang serba modern dengan kemajuan teknologi yang makin pesat. Kondisi masyarakat tak lagi seperti era kerajaan dan penjajahan. Maka sudah sepatutnya ada penyesuaian bentuk pendidikan bela diri. Walaupun sekadar untuk atraksi dan pertunjukan, harus dipastikan keamanan sehingga tidak berujung “bunuh diri”.

Dari segi pendidikan, harus diingat bahwa murid-murid hanyalah titipan orang tua untuk dididik. Maka harus disadari bahwa keselamatan mereka adalah kewajiban. Seberat apapun materi pendidikan yang diberikan, tidak boleh mengecewakan mereka yang telah menitipkan. Sehingga dengan demikian, sebelum hendak “macam-macam” dengan si murid, harus dipikirkan terlebih dulu tanggung jawab yang dipegang. Mau jadi guru yang amanah atau khianat?

Sebagai pihak yang mendidik dan menilai, para guru tentunya tahu kemampuan dan kapasitas murid-muridnya. Sehingga sekalipun muridnya merasa tidak keberatan atau menginginkan suatu aksi menantang maut, guru bisa menentukan hal itu diperbolehkan atau tidak. Jangan lantas karena persetujuan si murid, bisa semena-mena membuat keputusan yang bisa membahayakan nyawa.

Tentu para guru juga merupakan orang tua atau setidaknya orang yang dituakan. Bila membayangkan bahwa anak didik seperti anak sendiri, apakah bisa tega menempatkan mereka dalam kondisi yang membahayakan? Seharusnya jawabannya adalah tidak. Membayangkan diri menjadi orang tua yang kehilangan anak untuk selama-lamanya di usia yang muda saja pasti sudah sangat berat.

Ya memang tidak bisa disamaratakan, bisa saja guru-guru yang lalai tersebut adalah oknum. Akan tetapi, apa yang dilakukan oknum ini harus menjadi pelajaran. Agar para guru yang baik, tidak turut menjadi oknum di kemudian hari. Karena guru adalah pendidik, bukan pembunuh.

Di satu sisi, peran orang tua juga tidak bisa dilepaskan. Memang merupakan niat baik memasukkan anak ke perguruan bela diri. Agar sang anak bisa mendapatkan banyak manfaat yang kelak berguna. Bisa dalam bentuk ilmu bela diri yang memang fungsi utamanya untuk membela diri, mendapatkan tubuh yang sehat karena olahraga, atau kemampuan-kemampuan sosial lainnya.

Namun institusi ini berbeda dengan pendidikan formal di sekolah biasanya. Akan banyak adu fisik, mental, dan mungkin aksi kebal yang menyertai hari-hari anak. Sehingga maka dari itu, orang tua pun masih tetap harus melakukan pengawasan. Pengawasan penting demi memastikan kesayangan dan kebanggaan kita tidak mati sia-sia karena hal-hal yang sejatinya tidak perlu.

Dalam hal ini, orang tua perlu berdiskusi dengan anak mengenai kegiatan-kegiatannya di sekolah maupun di kegiatan ekstra sekolah. Dari diskusi ini, bisa diketahui apakah kegiatan anak sudah dalam jalur yang tepat atau belum. Bila lantas didapati adanya kegiatan-kegiatan yang dianggap membahayakan keselamatan sang anak, maka orang tua harus dengan tegas memberikan larangan, sekalipun ada pengawasan dari pihak guru.

Pengawasan orang tua seperti ini di era sekarang memang cukup berat dilakukan. Jangankan untuk mengawasi kegiatan bela diri, untuk menjaga anak di rumah saja kadang orang tua masih dikalahkan oleh “pesona” gadget yang mampu mengalihkan perhatian secara penuh. Maka ini menjadi pekerjaan rumah yang harus diperhatikan demi keselamatan buah hati.

Sementara bagi para remaja yang ikut atau ingin ikut dalam perguruan bela diri, juga masih harus terus waspada dan berhati-hati. Agar dapat mengambil keputusan yang tepat dalam setiap kegiatan yang ada di perguruannya masing-masing. Guru atau kakak senior tetaplah orang lain, keputusan mutlak tetap ada pada diri sendiri. Bila apa yang dikatakan guru dan senior dianggap baik, maka harus dilakukan. Namun bila perkataan mereka berpotensi mencelakakan, maka harus ditinggalkan.

Karena untuk apa belajar bela diri bila pada akhirnya malah mati bunuh diri? Artinya, ilmu bela diri yang diajarkan ternyata tidak mampu untuk membela diri melainkan membahayakan diri. Kalau begitu sih lebih baik tidak usah belajar bela diri sekalian ketimbang mati konyol.

Saran saya, marilah bersama-sama mempraktikkan pembelajaran bela diri yang baik. Bela diri yang memang diperuntukkan membela diri. Ajari gerakan-gerakan fisik untuk membela diri berikut rangkaian jurusnya. Berlatih dengan duel yang aman dan kompetisi yang sehat. Tak perlulah aksi-aksi berbau kesombongan macam ilmu kebal, tak perlu pula ujian-ujian kenaikan pangkat yang membahayakan. Karena sekali ini, bela diri adalah untuk membela diri, bukan untuk membunuh diri. (*)