Isu SARA yang Terus Merajalela

Setelah kasus penistaan agama oleh Ahok, isu-isu SARA seakan merajalela di masyarakat.

Hoax Tak Lagi Mengenal Batas

Penyebaran hoax kini tak lagi mengenal batasan. Siapa saja bisa terjebak dan ikut menyebarkannya.

Makanan Pedas Bisa Sembuhkan Sakit Kepala? Ini Faktanya!

Pendapat yang menyatakan makanan pedas bisa menyembuhkan sakit kepala terbukti benar adanya. Berikut penjelasan ilmiah bagaimana rasa pedas mematikan rasa sakit...

Tuan Guru dengan Masa Depan yang Panjang

Catatan lawas Dahlan Iskan tentang sosok dan kepemimpinan Gubernur NTB Zainul Majdi.

Tidak Perlu Ragu Kuliah di Universitas Terbuka

Kampus yang memiliki unit pembelajaran di berbagai daerah di Indonesia ini bisa menjadi pilihan dalam menempuh pendidikan tinggi.

Minggu, 15 April 2018

Isu SARA yang Terus Merajalela

ilustrasi



Catatan Lukman Maulana, Redaktur Bontang Post

BELAKANGAN ini puisi berjudul “Ibu Indonesia” buah karya Sukmawati Soekarnoputri ramai diperbincangkan. Puisi yang dibacakan putri presiden pertama RI tersebut mengundang kontroversi karena dianggap menyinggung agama Islam. Pasalnya dalam puisi yang dibacakan dalam sebuah kegiatan fashion tersebut, Sukmawati dengan bebasnya membandingkan unsur-unsur budaya nusantara dengan ajaran agama.

Praktis muncul beragam protes dan kecaman terhadap Sukmawati. Dianggap melakukan penistaan agama, sejumlah pihak ramai-ramai melaporkan politisi PDI Peruangan tersebut ke aparat kepolisian. Tentu kontroversi ini merupakan hal yang sangat disayangkan terjadi. Seakan mengulang kembali memori penistaan agama yang telah membawa Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, Gubernur DKI Jakarta kala itu masuk ruang tahanan.

Memang, sejak kasus Ahok, kasus-kasus penistaan agama begitu marak dan masif ditemukan. Khususnya yang terjadi di media sosial, seakan tak henti laporan masuk ke kepolisian akibat tulisan-tulisan yang dianggap menyinggung SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan), lebih khususnya yaitu penistaan agama. Dan laporan atas pelanggaran norma seperti ini merupakan hal yang diperbolehkan karena telah ada peraturan yang berlaku untuk itu. Ancaman pidana penjara menanti bagi mereka yang tidak memiliki kepekaan sosial dan terbukti menistakan agama.

Seharusnya kasus Ahok menjadi pelajaran bagi masyarakat kita untuk lebih cerdas dan berhati-hati dalam bertindak. Jangan sampai ucapan, tindakan, atau tulisan yang dibuat bersinggungan dengan SARA, dalam hal ini agama, yang bisa berujung pada pelaporan di kepolisian. Namun nyatanya, masih ada bahkan banyak orang-orang bernalar pendek yang sengaja membuat keributan dengan menyinggung persoalan yang sangat sensitif ini.

Di media sosial misalnya, mudah ditemukan tulisan-tulisan baik berupa kiriman atau komentar yang bila dibaca, secara jelas menyinggung kelompok-kelompok tertentu. Hal ini tentu tidak sehat, mengingat media sosial kini menjadi ruang publik yang bisa diakses siapa saja. Tulisan-tulisan bernada SARA itu ketika terunggah, bukan lantas berhenti di situ. Melainkan memunculkan lebih banyak lagi tulisan sejenis yang menjadi balasan atau penguat dari tulisan yang memulakannya.

Media sosial, sebagaimana bentuk-bentuk teknologi lainnya, ibarat pisau bermata dua. Di satu sisi bisa berguna dalam membantu pekerjaan manusia menjadi lebih mudah, di satu sisi bisa malah mencelakakan. Sehingga sangat diperlukan kearifan dan kecerdasan dalam menyikapinya agar nantinya tidak berujung petaka. Malahan mungkin lebih baik menghindarinya sama sekali bila memang belum mampu “menahan diri” untuk tidak menyinggung SARA.

Indonesia merupakan negara dengan profil dan demografi yang beragam, sebagaimana ditegaskan dalam semboyan bangsa, “Bhineka Tunggal Ika”. Biarpun berbeda-beda, namun tetap satu jua. Hal ini yang harusnya disadari oleh masyarakat Indonesia dewasa ini bahwa segala perbuatan yang bisa menyinggung SARA sebaiknya dihindari. Kebanggaan akan kelompok sendiri jangan lantas dijadikan alasan untuk menjatuhkan atau menghina kelompok lainnya.

Keberadaan peraturan atas pelanggaran ini sejatinya sudah menjadi sebuah peringatan bagi siapa saja untuk lebih berhati-hati. Ditambah lagi sudah banyak kasus terjadi dan sudah banyak pula korban sia-sia yang menjalani hukumannya karena penistaan agama. Apapun alasannya, tak ada pembenaran bagi individu di tanah nusantara ini untuk menghina satu sama lain, apalagi sampai menghina SARA.

Tak ada dalih yang boleh digunakan sebagai pembenaran atas tindakan-tindakan yang dapat dikategorikan penistaan agama. Bahkan dalam seni dan kebebasan berekspresi serta menyampaikan pendapat, selalu harus dilakukan dengan penuh bertanggung jawab. Artinya, sebagai masyarakat yang menjunjung tinggi keberagaman, setiap karya yang dihasilkan sudah semestinya tidak menyinggung SARA atau keyakinan orang lain.

Persoalan SARA di negeri ini sejatinya sudah eksis sejak puluhan tahun lalu. Pun dengan yang berakhir konflik berdarah yang tentu sangat disesalkan dapat terjadi. Sehingga bukan hal yang baru ketika dalam setiap kesempatan, selalu ditekankan oleh mereka yang paham dan mengerti, yang terus-menerus mengingatkan agar tidak menyinggung SARA di setiap kesempatan. Itu pun tercantum dalam setiap kriteria lomba atau yang sejenis itu.

Seharusnya dari semua bentuk pelajaran itu, tidak ada lagi bentuk-bentuk penghinaan berbau SARA lagi di negeri tercinta ini. Keragaman adalah fitrah, maka tentu sudah seharusnya diterima dengan penuh semangat persatuan dan kesatuan. Tidak ada lagi individu-invididu maupun kelompok-kelompok yang merasa lebih pintar, lebih tinggi, atau lebih baik dari yang lainnya. Semuanya sama, sama-sama anak bumi pertiwi.

Maka sudah tepat ketika ada peraturan yang dibuat untuk menjaga persatuan dan kesatuan tersebut. Di satu sisi, aparat berwenang juga harus bekerja dengan penuh keadilan. Jangan sampai upaya penindakan suatu kasus berbeda dengan kasus lainnya yang memiliki derajat yang sama. Siapapun pelaku penistaan atas SARA, entah itu warga biasa, gubernur, anggota dewan, atau putri presiden sekalipun, sudah seharusnya mendapat perlakuan yang sama. Semua harus ditindak dengan prosedur hukum tanpa pembedaan agar legalitas hukum tetap terjaga, memunculkan efek jera dan menjadi pelajaran bagi kita semua.

Marilah kita terus bersama-sama saling menghormati dan tenggang rasa satu sama lain. Sebagaimana yang diajarkan dalam pelajaran PMP, PPKn, atau PKn. Tunjukkan bahwa kita bangsa yang santun. Karena sejatinya bangsa ini lahir dari segala bentuk perbedaan yang melebur menjadi satu. Jangan sampai ego pribadi atau kepentingan kelompok merusak persatuan dam kesatuan yang telah begitu susah payah dibangun. Merdeka. (*)

Sumber ilustrasi: pilarbanten.com

Hoax Tak Lagi Mengenal Batas

ilustrasi



Catatan Lukman Maulana, Redaktur Bontang Post

KABAR bohong alias hoax seakan sedang menjadi tren belakangan ini. Sekalipun kampanye anti hoax begitu masif didengungkan oleh pemerintah maupun kelompok-kelompok masyarakat lainnya, tetap saja keberadaan hoax ini masih jamak ditemukan khususnya di media sosial.

Tak bisa dimungkiri bila perubahan pola gaya hidup masyarakat ke dunia teknologi informasi begitu berpengaruh menyuburkan lahirnya hoax dewasa ini. Tambang uang melalui beragam potensi di dunia digital membuat banyak pihak mengejar trafik tinggi dari setiap “ladang bisnis” yang dibuat.

Rabu, 14 Maret 2018

Makanan Pedas Bisa Sembuhkan Sakit Kepala? Ini Faktanya!

ilustrasi

Ada pendapat menyatakan makanan pedas bisa menghilangkan keluhan sakit kepala. Benarkah itu? Berikut penjelasannya:

Makanan Indonesia identik dengan rasa pedas. Rasa pedas tersebut terutama disebabkan oleh kandungan cabai yang dominan. Apa yang membuat cabai pedas? Tumbuhan cabe memproduksi zat bernama kapsaisin untuk pertahanan diri agar tidak dimakan oleh hewan. Kapsaisin ini memiliki rasa pedas dan ternyata disukai oleh manusia untuk menambah cita rasa makanan.

Selasa, 06 Maret 2018

Tuan Guru dengan Masa Depan yang Panjang

TGB Zainul Majdi (tengah) bersama Dahlan Iskan (paling kiri).
Catatan lawas Dahlan Iskan tentang sosok Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), Tuan Guru Bajang (TGB) Zainul Majdi. Sosok inspiratif dan pemimpin yang dirindukan negeri. Berikut catatannya:

Tuan Guru dengan Masa Depan yang Panjang
Senin,  22 Februari 2016

Inilah gubernur yang berani mengkritik pers. Secara terbuka. Di puncak acara Hari Pers Nasional (HPN) pula. Di depan hampir semua tokoh pers se-Indonesia. Pun di depan Presiden Jokowi segala. Di Lombok. Tanggal 9 Februari lalu.

Inilah gubernur yang kalau mengkritik tidak membuat sasarannya terluka. Bahkan tertawa-tawa. Saking mengenanya dan lucunya. ”Yang akan saya ceritakan ini tidak terjadi di Indonesia,” kata sang gubernur. ”Ini di Mesir.”

Minggu, 04 Maret 2018

Kakek 99 Tahun Pecahkan Rekor Dunia Renang

George Corones.


PEKIKAN sukacita terdengar di kolam renang Gold Coast Aquatic Centre, Queensland, Australia, Rabu (28/2/2018). George Corones yang baru keluar dari air langsung disambut dengan pelukan. Pria 99 tahun itu berhasil menorehkan sejarah baru. Yakni, memecahkan rekor renang 50 meter gaya bebas untuk kategori 100–104 tahun.

Capaian waktunya adalah 56,12 detik. Rekor sebelumnya dipegang perenang Inggris John Harrison pada 2014 dengan waktu 1 menit 31,19 detik. Corones sebenarnya berenang untuk uji coba renang Commonwealth Games. Dia menjadi satu-satunya perenang di kategori tersebut. Dia memang belum berusia 100 tahun. Kurang sedikit. Tapi, dia berhak mengikuti kategori itu karena berulang tahun April mendatang. Pertandingan Commonweath Games sendiri diselenggarakan pada 4–15 April.

Jumat, 09 Februari 2018

Dahlan: Media Cetak Siap-siap Kehilangan Wartawan

Dahlan Iskan membaca koran.

PADANG —Sekitar 70 persen pemilik media cyber berasal dari wartawan surat kabar. Berbagai faktor yang mendorong pelaku pers lari dari surat kabar menuju online. Mulai dari surat kabar tidak maju, pimpinannya kurang inovatif dan tidak bisa diandalkan hingga masalah kesejahteraan.

“Untuk mendirikan sebuah media online tidak menghabiskan dana yang besar. Biayanya cukup Rp 11 juta, pendapatan bisa tembus Rp 10 juta. Bekerjanya bisa sendirian, dibantu istri atau anaknya masih kuliah. Kondisi ini dianggap lebih baik daripada bekerja di perusahaan media cetak yang gajinya, misalnya hanya Rp 2 juta atau di atasnya, atau bahkan tidak digaji,” kata tokoh pers, Dahlan Iskan, saat Konvensi Nasional Media Cetak dalam rangka Hari Pers Nasional 2018, di Hotel Grand Inna Padang, kemarin.

Mantan CEO Jawa Pos itu menilai keputusan melahirkan media online seperti itu adalah langkah yang terbaik untuk saat ini. “Silakan saja, masing-masing keluar dari medianya dan mendirikan dot com sendiri-sendiri. Sebab, sekecil-kecil pendapatannya dari dot com, masih lebih besar dari gajinya yang Rp 2 juta misalnya. Bisa pula membanggakan diri sebagai bos dot com, pemilik media itu. Eksistensinya sebagai wartawan juga terawat,” terang Dahlan.

Konvensi bertajuk “Iklim Bermedia yang Sehat dan Seimbang serta Mempertahankan Eksistensi Media Massa Nasional dalam Lanskap Informasi Global terhadap Persaingan Usaha Media Pascarevolusi Digital itu juga dihadiri Menteri Kominfo Rudiantara, Menteri Keuangan Sri Mulyani, tokoh pers dan ratusan wartawan se-Nusantara.

Kondisi ini juga perlu dikhawatirkan media cetak. Sebab, ke depan bisa saja akan lebih banyak wartawan dan redakturnya berhenti bekerja untuk mendirikan media online. “Ini tantangan media cetak. Itu menurut saya biasa saja. Karena perubahan akan terus berjalan. Pada akhirnya, persaingan ini akan sangat bebas,” ucap mantan Menteri BUMN ini.

Dahlan mengingatkan lakukan apa yang penting Anda lakukan saat ini. Yang penting niatnya baik, untuk menghidupi anak, istri dan keluarga, menjaga eksistensi diri sebagai wartawan. “Jangan memeras, melanggar kode etik jurnalistik,” tegas Dahlan Iskan. 

Presiden Direktur VIVA Media Group, Anindya Novyan Bakrie menegaskan kendati banyak tekanan yang menghimpit media nasional saat ini, bukan berarti media nasional ini harus menyerah. Justru munculnya tantangan ini membuat semua pemain yang ada di dalamnya mencari jalan keluar agar bisnis ini ‘sustainable’.

Media ke depan harus berpikir lebih banyak, kata Anin, mendengarkan lebih baik dari sisi pelanggan dan mencoba melayani secara 360 derajat. Artinya, media ke depan harus menjadi gabungan platform yang ada, seperti gabungan event management, talent production dan content management. 

“Jadi, ini murni untuk melayani pelanggan dengan lebih baik, di tengah tekanan yang besar itu tadi,” tuturnya.

Tekanan selanjutnya, terang Anin, disrupsi teknologi yang ditandai masuknya platform baru, di mana pemain-pemain asing masuk dan bersaing. Karena, tidak sedikit pemain-pemain yang memiliki platform teknologi beralih menjadi pemain media.

Mereka juga melakukan konsolidasi dari sisi aplikasi atau platform. Tadinya hanya berupa media sosial, berubah menjadi chat Apps, search engine, dan video streaming. ”Tekanan itu yang menjadi deflasi di industri ini akan terus terjadi, dan ini tak bisa dielakkan,” tutur Anin.

PERS BERPERAN BANGUN INDONESIA

Sementara, Menteri Keuangan RI Sri Mulyani saat Konvensi Nasional Media Massa mengatakan pers adalah salah satu pemangku kepentingan dan aktor penting dominan dalam proses pembangunan di negara ini.

“Pemerintah menggunakan pers untuk menyalurkan informasi dan mengedukasi serta menyampaikan program-program pembangunan oleh pemerintah,” kata Sri Mulyani.

Namun pada dasarnya, kata dia, rakyat Indonesia bertanggung jawab untuk membesarkan bangsa. Termasuk juga insan pers yang menjadi pemegang tongkat estafet dari setiap program yang telah dikerjakan pemerintah.

“Apa pun bidang pekerjaan yang kita geluti, pada akhirnya tujuan kita adalah sama, yaitu membawa Indonesia maju, yang sejahtera adil dan makmur,” tutur Sri Mulyani.

Sri Mulyani menambahkan, salah satu program pemerintah tentang ekonomi inklusif tidak akan pernah berhasil tanpa ada peran insan pers dalam mengabarkan program tersebut.

“Kami rangkum satu program unggulan dalam membangun ekonomi nasional dalam program ekonomi inklusif di mana masyarakat dapat terlibat dalam pembangunan dan merasakan hasil dari apa yang dikerjakan,” ucapnya.

Sementara, Ketua Dewan Pers Indonesia Yosep Adi Prasetyo menjelaskan Kemerdekaan Pers sama dengan kebebasan berekspresi dan demokrasi. “Kebebasan pers diperlukan untuk wujudkan keadilan, keterbukaan, memajukan dan mencerdaskan bangsa,” sebutnya.

Wakil Gubernur Sumbar Nasrul Abit mengatakan saat ini hoaks atau fitnah merupakan masalah utama. “Oleh karena itu, kami mengimbau membangun pers yang sehat, berimbang, membangun, menyejukkan, dan tidak menyesatkan masyarakat,” harapnya. (ril)

Sumber: Padang Express

Senin, 22 Januari 2018

Ketemu Audry yang Tidak Bisa Tidur

Dahlan Iskan bersama Audry
Catatan Dahlan Iskan

Saya dapat kabar Audry lagi di Singapura. Gadis Surabaya yang genius. Dan pernah saya tulis panjang lebar. Kebetulan saya juga lagi di Singapura. Baru keluar dari rumah sakit. Tapi belum boleh pulang. Masih harus kontrol ke dokter lagi.

Saya balas WeChat Audry, yang mengabarkan keberadaannya di Singapura. Saya ajak Audry makan siang. Saya tahu, Audry juga lagi kurang sehat. Karena itu saya pilihkan tempat makan di dekat tempatnya menginap.

Audry tidak langsung menyanggupi tawaran makan siang itu. Katanya: sejak kemarin saya belum tidur. Kasihan. Pasti badannya meriang semua. Karena itu, biar pun saat itu pagi hari, saya balas WeChatnya: good night!

Saya urungkan ajakan makan siang agar dia segera tidur.Ternyata Audry balas lagi: saya tetap tidak bisa tidur. Masih terpengaruh bau kamar tadi malam. Bau rokok. Audry tidak bisa menerima bau rokok. Ternyata Audry bermalam di hotel kecil yang murah. Meski pun kamar itu adalah kamar nonsmoking, rupanya banyak tamu yang melanggar.

Audry. Meski anak orang kaya (orang tuanya tinggal di Graha Family, perumahan paling mewah di Surabaya), dia tetap memilih jalan sederhana. Sepatunya jelek. Bajunya biasa. Tasnya ransel. Bahkan kalau lagi di Surabaya, Audry tidak mau tinggal di rumah mewah orang tuanya. Dia pilih tinggal di rumah orang tuanya yang lain. Yang lebih sederhana. Hanya kacamatanya yang terlihat tebal dan mahal.

Saya pernah mempertanyakannya: kok kacamatamu mahal sekali? Dia bilang: ini menyangkut kesehatan mata, untuk membaca dan melihat. Saya belinya di Shanghai, katanya. Oh, dia rasional sekali. Untuk organ matanya yang penting, dia tidak mau sembarangan. Akhirnya Audry pilih ikut makan siang. Di Paragon. Dekat Orchard Road.

Kami pun asyik diskusi panjang. Pakai bahasa Inggris, Prancis, Mandarin, dan Indonesia secara bergantian. Sesekali bahasa Suroboyoan. Terutama kalau lagi bicara dengan istri saya, atau dengan Kang Sahidin dan Niki yang ikut mengurus saya.

Audry bicara Prancis kalau lagi menjawab pertanyaan istri Robert Lai. Bicara Mandarin kalau lagi menjawab pertanyaan tamu saya dari Beijing. Siang itu kami makan bersebelas. Seru sekali. Kami bahas mengenai konsep penciptaan alam, iman, komunisme, konsep-konsep keagamaan dan kemasyarakatan.

Kini Audry berumur 29 tahun. Cerdasnya bukan main. Umur 13 tahun dia memang sudah tamat SMA. Lalu, karena tidak ada universitas yang mau terima mahasiswa berumur 13 tahun, dia kuliah di Amerika. Ambil jurusan fisika murni.

Hanya dua tahun kuliah sudah lulus sarjana fisika dengan predikat bukan main: magna cumlaude. Setahun kemudian sudah lulus post graduate dengan predikat yang sama tingginya. Saat makan siang itu, Audry tidak kelihatan mengantuk. Bicaranya masih secepat pikirannya.

Audry masih juga bicara betapa menderita batinnya karena orang tua yang tidak nyambung. Tidak bisa memahami cara berpikirnya. Orang tuanya, kata Audry, hanya bicara uang, uang dan uang. Dia benci sekali.

Dua hari kemudian, Sabtu kemarin, dia kembali WeChat saya. Mengabarkan kalau orang tuanya ada di Singapura. Untuk urusan bisnis. Ingin mengundang saya sekeluarga makan siang. Saya sanggupi untuk makan siang pada hari Minggu kemarin.

Orang tua Audry memilih lokasi di Mandarin Oriental Hotel. Inilah hotel yang menjadi favoritnya pengusaha dari Indonesia. Sekarang hotel di Orchard Road ini menjadi milik grup Lippo. Ayah ibu Audry sudah di meja makan ketika kami tiba berlima: saya, istri, Robert Lai, Kang Sahidin dan Niki.
Audry tiba terakhir.

Rupanya Audry tidak mau tinggal di Hotel Mandarin mewah, yang ditempati orang tuanya. Audry terlihat membawa banyak buku. Begitu duduk dia lebih membuka-buka bukunya daripada bersosialisasi dengan kami atau orang tuanya.

Saya pun memanggil namanya: Audry, sudah bisa tidur? Jawabnya mengagetkan: belum juga. Berarti sudah tiga hari kurang tidur. Saya tanya lagi: itu buku-buku apa? Dia jawab: buku-buku pelajaran bahasa Latin.

Katanya: saya harus bisa bahasa Latin. Sebagai syarat untuk bisa diterima kuliah di salah satu universitas di Amerika. Oh. Kuliah lagi. Kuliah lagi. Meski dapat predikat magna cumlaude, Audry pernah mengaku kepada saya bahwa dia tidak menyukai fisika. Katanya: terlalu mudah.

Audry dulu ambil fisika hanya untuk menyenangkan orang tua. Dengan mengambil fisika Audry yakin bisa meraih predikat tertinggi. Dan orang tuanya senang. Katanya: pokoknya orang tua saya senang begitu-begitulah. Saya benci sekali.

Kedua orang tuanya lebih banyak diam ketika kami berdebat seru soal juru selamat, soal surga, neraka, filsafat Dante, soal pacar, lelaki idaman yang dia inginkan bakal jadi suaminya dan soal perkawinan.

“Kami tidak pernah paham pembicaraan begini-begini,” ujar ibunya kepada saya. Setengah berbisik.
Saya bisa bayangkan betapa dingin hubungan anak-orang tua ini. Padahal Audry adalah anak satu-satunya.

Bahwa Audry tadi datang membawa buku-buku berbahasa Latin, mungkin dia membayangkan makan siang yang dihadiri orang tuanya ini akan sangat membosankan. Karena itu dia siap dengan temannya sendiri yang lebih mengasyikkan: buku.

Ternyata buku itu akhirnya tidak dia tengok lagi. Kami berdebat seperti dua hari lalu. Atau seperti saat makan malam di Shanghai tiga bulan lalu. Ada yang berubah sekarang: orang tuanya sudah lebih bisa menerima Audry apa adanya.

Orang tua Audry sudah beda dengan dulu. Yang selalu ingin mengubah Audry. Menjadi gadis modis, cantik, pintar, sukses, dapat suami kaya dan hidup makmur dan kaya raya.

Kini orang tuanya ikut saya juga, menerima Audry mau apa. Meski dia anak tunggal, Audry sudah dewasa. Begitulah saran kami juga. Memang tetap tidak nyambung, tapi sudah tidak bertentangan. (*)

Senin, 08 Januari 2018

Adu Tegas Anies, Jokowi dan Ahok


Sebuah catatan yang menarik tentang ketegasan dalam menjadi seorang pemimpin. Tony Rosyid membandingkan kepemimpinan Ahok, Anies Baswedan, dan Jokowi. Patut untuk disimak.

Masih segar ingatan publik terhadap reklamasi. Era Gubernur Jokowi, Ahok dan Djarot Syaeful Hidayat, reklamasi diperjuangkan, Anies menghentikannya. Kebijakan ini diambil hanya beberapa waktu setelah pelantikan. Berbagai ancaman taipan dan sikap represif penguasa dihadapi, bahkan dilawannya. Reklamasi adalah hunian para konglomerat yang menggusur nelayan. Reklamasi berpotensi menambah kemiskinan dan pengangguran, selain merusak alam. Alasan ini yang mendorong Anies bertekad menghentikannya.

Tak lama berselang, Alexis, bisnis esek-esek kelas kakap ditutup. Meski milyaran rupiah pajak yang disetor ke DKI, tapi dampak kerusakan moral yang harus ditanggung masyarakat Jakarta dan bangsa ini lebih besar. Sejumlah politisi dan orang besar miris jika video yang diperoleh Anies terbongkar. Salah satu partai bersimpuh dan memohon agar video itu tidak dipublis.

Seiring dengan kabar video Alexis, sejumlah anggota legislatif dari partai tertentu mulai melunak, begitu juga penguasa. Adakah kaitannya? Hanya Tuhan dan mereka yang tahu.

Soal tegas, ukurannya bukan kata-kata, apalagi kemarahan, kata Anies. Tegas itu sikap dan kebijakan. Inilah yang membedakan Anies dengan gubernur sebelumnya.

Saat TGUPP diajukan ke Kemendagri, Tjahyo Kumolo langsung mencoretnya. TGUPP diminta dibatalkan. Mendengar itu, Anies tidak terima dan melawan. Ini sikap diskriminatif. Jika pada masa Jokowi, Ahok dan Djarot diperbolehkan, kenapa pada masa kepemimpinan kami tidak diijinkan? Kata Anies. Perlawanan Anies ternyata efektif. Mendagri akhirnya terpaksa mengijinkan, dari pada harus berhadapan dengan rakyat.

Ketegasan ini dibuktikan kembali oleh Anies terkait pedagang kaki lima di tanah abang. Mereka adalah orang kecil yang mencari rizki dan sesuap nasi di negeri sendiri. Mereka orang susah yang mencoba bertahan hidup di Jakarta. Kata Anies: jika orang kecil memakai tanah negara diributkan. Kenapa ketika melihat banyak mall yang dibangun di atas tanah negara semua pada diam? Bukankah negara ada untuk memakmurkan rakyatnya?

Menggusur bukan cara yang tepat untuk memperlakukan orang kecil. Mereka perlu dicarikan tempat yang layak dan dibangunkan gedung yang pantas. Saya bersama Sandi, kata Anies, sepakat untuk membela orang-orang kecil. Kami menegaskan bahwa kami berada di pihak wong cilik.

Sejumlah video terkait ketegasan dan keberpihakan Anies telah viral di medsos. Menyaksikan video itu, rakyat seolah mendapatkan pemimpinnya. Pemimpin yang mengayomi. Sampai disini Anies telah menunjukkan karakter dan keberpihakannya. Apakah ini hanya di awal saja, atau akan menjadi pilihan seterusnya? Atau malah sekedar pencitraan? Rakyat perlu dengan cerdas mengawasi dan mengawalnya.

Sesuai tagline kampanye Anies-Sandi: Maju Kotanya, Bahagia Warganya. Membangun kota tidak selayaknya mengorbankan kenyamanan dan kebahagiaan warga. Idealnya dua hal itu mesti seimbang. Orientasi infrastruktur mengabaikan perasaan bahagia yang merupakan bagian dari unsur suprastruktur masyarakat adalah abdurd. Sebuah kebijakan anomali. Anies ingin membangun keduanya. Dengan langkahnya selama ini, Anies nampak konsisten.

Lalu, bagaimana ketegasan Anies soal birokrasi? Kabarnya, Anies telah memanggil semua kepala dinas. Mereka adalah orang-orang yang belum lama ini diposisikan Djarot menjelang hari lengsernya. Kepada masing-masing mereka Anies bertanya: apakah saya bisa percaya kepada saudara? Pertanyaan ini tampak sederhana, tapi seperti "pakta integritas" untuk mengukur komitmen dan loyalitas para pegawai. Apakah Anies akan berani mengganti para pejabatnya yang dianggap tidak becus bekerja? Ada waktu 6 bulan bagi Anies untuk menilai para pejabatnya. Setelah itu, kita tunggu Anies membuktikan ketegasannya.

Masih soal birokrasi. Baru-baru ini Anies-Sandi membentuk team KPK (Komite Pencegahan Korupsi) DKI. Mirip Komisi Pemberantasan Korupsi, hanya beda tugas dan wewenang. Anies-Sandi memilih Bambang Widjajanto sebagai ketuanya. Dibantu Komjen (purn polisi) Oegroseno, Nursyahbani, Tatak Ujiyati, dan Muhammad Yusup.

Mereka adalah orang-orang yang tidak diragukan lagi pengalaman, kapasitas, ketegasan dan integritasnya. Bambang Widjajanto adalah mantan wakil ketua KPK. Pengalamannya di KPK membuat indra penciumannya terhadap koruptor sangat peka. Bagi pejabat dan pegawai DKI, juga pengusaha yang bermain proyek dengan pemprov DKI, rasanya ngeri-ngeri sedap. Dibantu salah satunya oleh Oegroseno, mantan wakapolri ini dikenal sebagai polisi yang paling tegas soal urusan duit.

Komposisi KPK DKI di atas memperlihatkan keseriusan gubernur DKI sekarang untuk memastikan "good and clean government." Dengan pengawasan ini diharapkan tidak akan ada lagi kasus seperti suap reklamasi Teluk Jakarta, lahan rumah sakit Sumber Waras, taman BMW, tanah Cengkareng, dan yang lain.

Team KPK DKI diharapkan bisa serius mengawasi secara detil dan jeli semua operasional proyek yang ada di DKI. Tidak hanya itu, mesti ada keberanian untuk merekomendasikan teguran hingga pemecatan bagi pegawai dan pejabat yang terindikasi korupsi. Bahkan melaporkan bukti temuannya ke Komisi Pemberantasan Korupsi. Apakah tim KPK DKI ini punya nyali? Kita tunggu kerja mereka.

Korupsi yang menjadi masalah serius di era demokrasi bebas dan liberal ini mesti mendapatkan penanganan khusus. Langkah Gubernur DKI patut diapresiasi. Langkah ini layak menjadi inspirasi yang bisa diikuti oleh para pemimpin daerah yang lain.

Sejumlah langkah dan kebijakan Anies perlu didukung, tidak saja oleh masyarakat Jakarta, tapi terutama oleh DPRD dan pemerintahan pusat. Selama bertujuan untuk membangun kota dan mensejahterakan warga Jakarta, serta tentu saja tidak melanggar aturan, maka tidak ada alasan untuk tidak mendukung.

Mengandaikan perbandingan ketegasan dan langkah taktis Anies dengan Ahok, ketemu perbedaannya. Jika Ahok dikesankan tegas dengan marah dan menggusur, maka Anies dengan kebijakan dan berani ambil resiko demi keberpihakan kepada rakyat kecil.

Bagaimana dengan Jokowi? Jokowi kurang beruntung. Publik terlanjur "mengesankan" Jokowi sebagai pemimpin yang suka membonsai lawan dengan aturan. Perppu ormas, sandera hukum dan kriminalisasi sering dilekatkan citranya oleh publik kepada orang nomor satu di Indonesia ini. Jokowi dianggap tegas kepada lawan politik, tapi lembek terhadap kawan politiknya. Ini soal citra dan persepsi masyarakat. Karena politik berada di dua ranah itu.

Tidak hanya ulama, belakangan Demokrat pun berteriak. Mereka menuduh penguasa telah melakukan kriminalisasi terhadap sejumlah kader Demokrat yang berniat maju di pilkada serentak 2018.

Citra yang kurang baik pada Jokowi menjadi pelajaran bagi Anies untuk lebih berhati-hati soal aturan. Anies nampak berupaya tegas soal bagaimana berkomitmen terhadap aturan. Dan ini telah dibuktikannya dalam kasus penghentian reklamasi dan Alexis. Keduanya dianggap telah menabrak aturan. Bahkan pembelian rumah sakit Sumber Waras dianulir, karena tidak sesuai dengan regulasi yang berlaku.

Anies tergolong gubernur yang fenomenal. Meski baru beberapa bulan kerja, sekitar 96% masyarakat Jakarta telah menerimanya. Istilah anak mudanya: banyak yang sudah "move on". Hanya tersisa 4% yang kadang-kadang suaranya lebih nyaring.

Sesuatu yang wajar, di era demokrasi ada perbedaan. "Likulli ra'sin ra'yun", kata pepatah Arab. Setiap kepala ada pendapat. Perbedaan bisa mengisi ketidaksempurnaan seorang pemimpin. Karena itu, perbedaan mesti dikapitalisasi menjadi motivasi dan langkah yang konstruktif.

Jika Anies konsisten dengan sikap tegas dan keberpihakan kepada rakyat kecil, sangat terbuka kemungkinan rakyat menghendakinya maju ke pilpres 2019. Buktikan dulu kepada rakyat melalui program dan kebijakan di DKI Jakarta, nasib baik hanya untuk mereka yang berniat dan berikhtiar baik. (*)

Ditulis oleh Tony Rosyid
Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa

Sabtu, 06 Januari 2018

Memanusiakan Manusia ala Aqua Dwipayana

Aqua Dwipayana (tengah) bersama penulis (kaus merah).

Mendapatkan banyak inspirasi dari Aqua Dwipayana, motivator kenamaan yang sudah teruji reputasinya. Berikut catatan dari Irham Thoriq, wartawan Jawa Pos Radar Malang yang baru saja bertamu ke rumahnya. Kesan begitu mendalam dia rasakan setelah bertemu dengan pria peraih gelar doktor dari Universitas Padjajaran, Bandung ini.
Hari terakhir di 2017. Langit Yogyakarta masih petang ketika saya tiba di Stasiun Tugu. Kereta yang saya tumpangi telat beberapa menit dari jadwal. Tentu saja, orang yang menjemput saya terpaksa menunggu kurang lebih setengah jam. Masalahnya, si penjemput bukan orang sembarangan.

Dia adalah motivator nasional Aqua Dwipayana dan anak bungsunya Savero Karamiveta Dwipayana. Saya, istri, dan dua orang teman yang ikut dalam rombongan tentu saja terkejut yang menjemput adalah Pak Aqua dan anaknya langsung. Sebelumnya, saya tidak pernah bertemu dengan Pak Aqua.

Kami cuman sebatas kenal melalui percakapan whatsapp. Tapi, ketika saya menyampaikan rencana liburan di Jogjakarta dan ingin bertemu dengan beliau, Pak Aqua tiba-tiba menelepon.”Sudah dapat penginapan belum, kalau belum saya sediakan penginapan,” katanya di ujung telepon.
Dan benar saja, ketika tiba di Yogjakarta, saya sudah disediakan penginapan. Saat subuh berkumandang, kita tiba di penginapan yang tidak jauh dari rumah Pak Aqua. Tentu saya sedikit kikuk dengan kebaikan Pak Aqua; saya bukan siapa-siapa, dan diperlakukan seperti teman akrab yang sudah kenal lama.

Belakangan, saya kian takjub, karena saat menjemput saya Pak Aqua cuman tidur satu jam, karena banyaknya tamu yang bertandang ke rumahnya.”Ya sudah biasa seperti ini, santai aja,” kata Pak Aqua.

Rupanya, apa yang dilakukan Pak Aqua itu merupakan wujud dari caranya memanusiakan manusia. Dalam menjalin hubungan, Pak Aqua tidak pernah membeda-bedakan jabatan seseorang.”Allah saja tidak membeda-bedakan umatnya, kalau manusia membeda-bedakan umatnya, itu sudah melebihi Allah, itu kuwalat,” kata pak Aqua dalam sebuah wawancara di rumahnya.

Sikap memanusiakan manusia ini juga saya dapat dari Pak Aqua saat bertandang ke rumahnya. Kepada pembantunya yang menghidangkan minuman, Pak Aqua tak lupa bilang terima kasih. Saat kita makan malam, beberapa sopir juga diajak makan bersama.

Belakangan, seorang sopir Pak Aqua bilang kalau memang sikap Pak Aqua seperti itu.”Wong saya sopir, tapi diajak makan satu meja dengan anggota DPR sudah biasa,” kata sopir itu. Mungkin, dengan cara seperti itulah Pak Aqua ingin memanusiakan manusia.

Begitulah Pak Aqua yang sederhana dan bersahaja. Tidak membeda-membedakan manusia berdasarkan jabatan, harta, dan kekuasaannya. Karena sikap itulah, the power silaturahim yang dia gemakan, mendapatkan respons positif dari puluhan ribu orang.

Ini terbukti dari laris manisnya buku beliau tentang silaturahim, yakni laku 40 ribu eksemplar hanya dalam dua bulan. Hasil dari penjualan buku ini oleh Pak Aqua dibuat untuk memberangkatkan umrah gratis sebanyak 35 orang. Sikap Pak Aqua yang memanusiakan manusia layak kita tiru dan amalkan. Selamat mencoba.

Aqua Dwipayana bukanlah ahli tasawuf. Tapi, dalam beberapa kesempatan ngobrol dengan Pak Aqua, sejatinya pak Aqua sudah mengamalkan ilmu tasawuf, sebuah ilmu tentang olah hati yang begitu populer di kalangan santri.

Selain beliau adalah sosok yang memanusiakan manusia, sebagaimana saya tulis di awal catatan ini, Pak Aqua adalah seorang yang rendah hati. Kita tahu, sikap rendah hati hanya bisa dilakukan oleh orang yang bersih hatinya.

Hati yang bersih inilah yang mengantarkan Pak Aqua sebagai pribadi yang terbuka, positif thinking, dan mudah bergaul. Dia bergaul dengan siapa aja, dan semua diperlakukan sama oleh Pak Aqua. Mulai dari pembantu, sopir, jenderal, menteri, dan lain-lain, semuanya dihormati secara sama oleh Pak Aqua.

Rupanya, hati yang bersih itu, disadari betul pentingnya oleh Pak Aqua. Dalam bukunya yang fenomenal yakni The Power of Silaturahim, bab pertama yang dibahas oleh Pak Aqua adalah kebersihan hati.

Beliau membuka bab pertamanya dengan sebuah hadis, intinya di badan manusia ini ada segumpal darah, jika segumpal darah itu baik maka akan baik orang itu, jika segumpal darah buruk, maka akan buruk orang itu. Segumpal darah itu adalah hati.

Karena hati yang bersih, Pak Aqua dalam menjalankan ilmu silaturahmi-nya dengan bersih pula. Yakni, silaturahmi yang tidak berdasarkan kepentingan.”Jadi, kalau kita bertemu dengan seseorang, pikirkan apa yang saya bisa bantu dari orang itu,” ucap Pak Aqua.”Jangan berpikir apa yang saya peroleh dari orang itu,” imbuhnya.

Silaturahmi tanpa kepentingan itu, sudah mengantarkan Pak Aqua sebagai sosok yang luas jaringannya. Setiap hari, Pak Aqua mengirim tulisan tentang aktivitasnya kepada sekitar lima ribu orang melalui whatsapp. Kira-kira, sebanyak itulah teman pak Aqua, atau mungkin lebih karena ada juga orang yang tidak pakai whatsapp.

Dalam kesempatan berbincang senin pagi (1/1) di rumah, Pak Aqua menyayangkan pola komunikasi mayoritas wartawan kepada narasumbernya selama ini. Yang disinggung profesi wartawan, karena kebetulan saya wartawan, pak Aqua mengawali karir sebagai wartawan dan waktu itu ada juga wartawan senior dari Surabaya yakni Bapak Yamin Ahmad.”Ini yang salah kaprah, wartawan berkomunikasi dengan narasumber saat ada perlunya saja, seperti ada perlunya cari berita,” imbuhnya.

Sedangkan, komunikasi-komunikasi kecil yang membuat akrab wartawan dengan narasumber sering disepelekan. Saat saya berada di rumahnya, beberapakali Pak Aqua menelepon temannya untuk mengucapkan selamat tahun baru 2018. Tampaknya, komunikasi-komunikasi kecil inilah yang membuat Pak Aqua mudah akrab dengan orang. Menurut saya, ini sebuah komunikasi efektif yang mungkin jarang diajarkan di bangku kuliah.

Selanjutnya, menurut Pak Aqua, dalam berkomunikasi kita tidak boleh hanya memikirkan jangka pendek.”Saya pernah bantu orang, mau dikasih uang. Saya tidak mau, karena kalau saya terima ya sudah sampai disitu saja pertemanan kita,” katanya.”Jadi, pikirkanlah jangka panjang tidak hanya jangka pendek,” pungkas doktor komunikasi dari Universitas Padjajaran ini.

Aktivitas yang padat sebagai motivator nasional, membuat Aqua Diwipayana jarang berada di rumah. Tapi, kendati demikian tamu-tamu Pak Aqua selalu datang hampir tiap hari. Entah itu tamu di rumahnya yang di Bogor atau di Jogjakarta. Dan meski tanpa pak Aqua, tamu-tamu dari berbagai kalangan itu tetap dilayani dan dihormati.

Di Jogjakarta, menurut salah seorang sopir Pak Aqua bernama Mas Heri, tamu Pak Aqua hampir ada tiap hari.”Meski beliau sedang tidak ada di rumah,” kata Mas Heri saat mengantarkan saya kesejumlah tempat wisata.

Menurut sepengamatan saya, Pak Aqua dan sekeluarga seolah mempunyai SOP (Standar Operasional Prosedur) dalam melayani tamunya. Pertama, tamu diberi penginapan gratis. Kalau di rumahnya masih cukup, maka tamu akan menginap di rumah Pak Aqua. Kalau tidak cukup, tamu akan dicarikan penginapan yang dekat dengan rumah Pak Aqua.

Tamu diprioritaskan menginap dekat rumah Pak Aqua, karena Pak Aqua akan mengajak tamunya untuk makan bersama. Entah itu makan malam atau sarapan. Disela-sela makan itu, tamu akan diajak ngobrol oleh Pak Aqua yang membuat tamu semakin akrab dengan tuan rumah. Cukup sampai disitu? ternyata tidak.

Tamu-tamu Pak Aqua selalu disediakan mobil plus sopirnya untuk berwisata di Jogjakarta. Di hari pertama, salah seorang sopir Pak Aqua menjemput saya di penginapan, tapi karena saya terlanjur menyewa mobil di agen wisata, maka saya berkeliling jogjakarta di hari pertama itu dengan mobil agen wisata.”Saya di Jogjakarta ada dua mobil, di Bogor juga ada dua mobil, ya mobil-mobil itu ada untuk melayani tamu,” kata Pak Aqua saat diwawancarai di rumahnya.

Sebagaimana saya tulis di atas, dalam silaturahim ke orang, Pak Aqua memang selalu berpikir apa yang bisa diberikan ke orang itu. Tidak berpikir apa yang akan dia dapatkan. Dan yang membuat dia lega, keluarga Pak Aqua yakni sang istri Retno Setiasih dan dua anaknya yakni Alira Vania Putri Dwipayana dan Savero Karamiveta Dwipayana segendang sepenarian dalam hal memberi memanfatan kepada orang lain.”Seperti Ero, dia bisa tidak tidur kalau ada tamu tidak dapat kamar,” kata doktor ilmu komunikasi ini.

Seirama dalam berbagi ini juga yang dia rasakan ketika Pak Aqua mengumrahkan 35 orang gratis. Tahun ini, rencananya akan ada 35 orang lagi yang diumrahkan.”Saya berterima kasih sekali kepada keluarga, karena sebenarnya uang itu hak mereka, tapi mereka ikhlas untuk mengumrahkan orang,” kata Pak Aqua.

Apa yang dilakukan Pak Aqua ini terjadi karena dalam beberapa tahun terakhir, Pak Aqua memang menekankan 85 persen aktivitasnya untuk kegiatan sosial. Begitulah Pak Aqua yang langka, dan patut kita tiru kiprahnya. (*)

Ditulis oleh Irham Thoriq, wartawan Jawa Pos Radar Malang
Diambil dari situs radarmalang.id

Selasa, 19 Desember 2017

Perjuangan Epi, Tetap Kuliah di Tengah Penyakit Langka

Epi (foto kiri). Saat masa kritis (foto kanan).

Myasthenia gravis membuat Epi Fania tak bisa bergerak bebas. Penyakit langka ini merongrong kesehatannya dengan melemahkan fungsi otot-otot tubuh. Namun dalam keterbatasan gerak yang dialami, Epi tak gentar untuk berusaha tetap melanjutkan pendidikan.

*Ditulis oleh Lukman Maulana, wartawan Metro Samarinda

Epi, begitu panggilan karibnya, tak pernah menyangka bakal berkenalan dengan myasthenia gravis. Bukan nama orang asing, ini adalah penyakit langka yang disebabkan kelainan autoimun tubuh. Alih-alih melindungi tubuh, antibodi malah menyerang otot-otot di tubuh sendiri yang menyebabkan tubuh melemah.

“Gejalanya pertama kali saya alami tahun 2000. Saat itu saya masih umur 14 tahun, masih di SMP,” kenang Epi kepada Metro Samarinda (Kaltim Post Group).

Suara yang mengecil dan sengau karena penyakit ini membuat Epi melayani wawancara melalui tulisan. Gejala-gejala yang dialaminya waktu itu dijabarkannya dengan terperinci. Awal gejalanya, kata Epi, dimulai dengan kelopak mata yang turun. Objek yang dilihatnya menjadi ganda. Ekspresi wajahnya menjadi kaku. Bila tersenyum, ekspresinya seperti meringis.

“Leher sulit untuk ditegakkan. Tangan dan kaki susah diangkat. Bila habis duduk atau jongkok, sulit untuk bangkit berdiri. Suara jadi cadel, mengecil, dan bisa serak. Susah menelan dan mengunyah, buat bernapas juga berat,” urainya.

Awalnya Epi dan keluarga tidak mengetahui penyakit apa yang dideritanya tersebut. Dokter yang merawat sempat geleng-geleng mengetahui jenis penyakit apa yang menyerang Epi. Hingga setahun kemudian di 2001, barulah diketahui Epi menderita myasthenia gravis. Penyakit yang bisa juga disebut sebagai kelemahan otot yang berat.

“Rasanya sedih dan bingung saat didiagnosis myasthenia gravis. Tapi ada perasaan lega karena saya tahu apa penyakit saya,” ungkap Epi.

Oleh dokter, Epi disarankan untuk mengurangi aktivitas. Karena penderita penyakit ini tidak boleh mengalami kelelahan. Bila sampai kelelahan atau terpapar cuaca yang terlalu panas atau terlalu dingin, gejala-gejalanya akan kambuh. Mau tidak mau Epi harus bergantung pada obat-obatan untuk beraktivitas sehari-hari.

Pada awalnya Epi sulit menerima kondisi kesehatannya tersebut. Apalagi penyakit tersebut begitu membatasi geraknya. Proses belajar di sekolah pun jadi terganggu karenanya. Kelelahan sedikit, tubuhnya bisa jatuh tanpa bisa dia kendalikan. Namun begitu perlahan kondisi Epi berangsur membaik.

“Dukungan orang tua dan keluarga jadi motivasi terbesar bagi saya untuk terus melanjutkan pendidikan,” jelas sulung dari dua bersaudara ini.

Epi mengisahkan, di awal menderita penyakit ini dia tidak bisa pergi ke sekolah. Karena dia harus bolak-balik ke dokter demi memeriksakan kondisi kesehatannya.  Alhasil selama beberapa bulan dia tidak merasakan bangku sekolah. Beruntung pihak sekolah memaklumi kondisi kesehatannya. Kata Epi, kondisi tersebut sempat membuatnya frustrasi dan khawatir tidak bisa melanjutkan sekolahnya.

“Tapi tidak pernah ada keinginan untuk berhenti sekolah. Saya mendapat banyak dukungan dari teman-teman. Mereka banyak yang awam tentang penyakit ini, jadi perlu dijelaskan dengan detail. Walaupun tidak semuanya mengerti, tapi mereka mendukung saya,” terangnya.

Kondisi Epi sebenarnya sempat membaik atau dalam kondisi yang disebut remisi. Dia bisa beraktivitas seperti biasa dan berhenti mengonsumsi obat-obatan. Namun kemudian, penyakit ini kembali kambuh. Bukan itu saja, bahkan menjadi semakin parah. Epi sampai kesulitan mengunyah, menelan, hingga sulit untuk bernapas.

“Bila sampai susah menelan, makanan harus diblender atau menggunakan selang makan. Supaya asupan nutrisi tetap terjaga,” kata Epi.

Rupanya bukan hanya faktor kelelahan yang memicu kambuhnya penyakit Epi. Kondisi emosional juga sangat berpengaruh. Dalam hal ini, Epi tidak boleh merasakan sedih, marah, atau terlalu bahagia. Sekalipun rutin minum obat, penyakitnya bisa tetap kambuh. Karena obat tersebut hanya membantu mengurangi gejala penyakit, bukan menyembuhkannya secara total.

“Sampai sekarang faktor utama penyebab penyakit saya belum diketahui. Faktor X yang di dunia medis pun belum bisa menjelaskan. Soal penyebab, yang dicurigai adalah kelenjar thymus yang terus memproduksi antibodi. Tapi itu bukan satu-satunya,” paparnya. Karena setelah operasi pengangkatan kelenjar thymus, gejalanya tidak sepenuhnya hilang walaupun ada perbaikan.

Kondisi sakit tak menghalangi Epi untuk terus sekolah. Saat SMA, Epi pernah masuk dalam peringkat sepuluh besar di kelasnya. Dia berhasil lolos dalam program penerimaan Universitas Tanjungpura Pontianak tanpa ujian tulis. Tahun 2004 dia mulai kuliah di jurusan studi pembangunan fakultas ekonomi universitas negeri itu.

Namun ketika asanya di bangku kuliah sedang meninggi, penyakit Epi kembali kambuh. Kondisi kesehatannya memburuk dengan kaki dan tangan sulit digerakkan. “Waktu itu kaki sudah sulit untuk berjalan. Tangan juga terasa lemah untuk menulis. Obat-obatan pun reaksinya tidak begitu membantu,” tutur Epi yang sempat bercita-cita menjadi tenaga medis ini.

Meski begitu Epi tetap memaksakan diri untuk kuliah. Dengan ibunda tercinta, Angelia, Epi berangkat ke kampus. Dia juga dibantu oleh seorang teman semasa SMA yang kuliah di jurusan yang sama dengannya. Sang teman memegang tubuhhnya, membantu Epi berjalan untuk menaiki tangga kelas. Namun sekeras apapun Epi mencoba kala itu, dia hanya bisa merasakan kuliah selama satu pekan saja.

“Awalnya saya berencana cuti selama satu atau dua semester. Tapi beberapa bulan kemudian saya mulai sering masuk rumah sakit. Apabila gejalanya sampai menyerang otot pernafasan, saya harus memakai alat bantu pernafasan di ruangan ICU. Akhirnya saya putuskan berhenti kuliah,” bebernya.

Epi menerangkan, selain melemahkan tubuh, myasthenia gravis juga bisa membahayakan nyawa penderitanya. Salah satunya bila penyakit ini menyerang bagian pernapasan. Pertolongan pertama harus segera dilakukan dengan menggunakan alat bantu napas di ICU. Apabila terlambat bisa menyebabkan kematian. Beberapa kali sudah Epi mengalami masa kritis yang sempat membahayakan nyawanya.

“Mungkin sudah belasan kali saya masuk ICU sejak 2004 sampai saat ini. Biasanya, awalnya karena batuk dan radang tenggorokan,” ujar Epi.

Kondisi yang memburuk membuat Epi mesti melewati treatment khusus yang disebut plasmaferesis atau cuci plasma darah, dan infus imunoglobulin intravena (IVIG). Meski dalam kondisi kritis, Epi mengaku tidak pernah mengalami koma. Dia tetap memiliki kesadaran yang membuatnya bisa melihat dan mendengar apa yang ada di sekelilingnya. Hanya saja, dia tidak bisa menggerakkan tubuhnya.

Bagian yang diserang penyakit ini sendiri, jelas Epi, bisa bervariasi. Bisa hanya otot-otot tertentu atau seluruh otot. Epi mencatat setidaknya sudah 30 kali lebih dia opname di rumah sakit. Menurutnya yang terberat dari penyakit ini bila menyerang otot-otot pernapasan hingga harus masuk ruang ICU.
“Pernah suatu ketika karena kesulitan bernapas, pandangan saya menjadi gelap. Tapi tidak berlangsung lama, hanya beberapa detik,” ungkapnya.

Setelah berhenti kuliah, Epi lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah. Dengan kondisinya tersebut, dia benar-benar istirahat total di rumah. Tak banyak yang bisa dilakukan Epi, bahkan dia mesti bergantung pada sang ibu untuk kebutuhan sehari-hari. Sang ibu dengan sabarnya memandikan Epi dan memakaikan baju padanya.

“Tanpa dukungan ibu, saya tidak akan mampu bertahan sampai saat ini. Apalagi ayah juga sudah meninggal. Sepeninggal ayah, ibu juga harus mencari nafkah dengan menjual kue dan buka warung kecil-kecilan di depan rumah,” terang Epi.

Dia menuturkan, segala usaha telah dikerahkan keluarga demi kesembuhan dirinya. Dukungan keluarga inilah yang membuat harapan untuk bisa kuliah lagi tidak pernah pupus. Tapi bila harus kuliah secara reguler, kondisi kesehatan Epi tidak memungkinkan untuk itu.

Hingga kemudian di tahun 2009, setelah operasi bedah thorak untuk membuang kelenjar thymus, dia bertemu sesama penderita myasthenia gravis. Hanya saja gejalanya berbeda, rekannya tersebut susah berjalan karena penyakitnya dominan menyerang di kaki dan mata. Dari rekannya itulah dia mengetahui tentang Universitas Terbuka (UT).

“Dulunya saya hanya tahu bahwa UT adalah universitas untuk guru-guru yang kuliah sambil mengajar. Namun ternyata tidak begitu,” kata dia.

Informasi yang dia dapatkan dari teman tersebut, UT merupakan perguruan tinggi negeri terakreditasi yang menawarkan beragam program studi. Sistem belajarnya jarak jauh, mahasiwa juga menggunakan modul sebagai materi pembelajaran dan mahasiswa bisa mendaftar di Unit Pembelajaran Jarak Jauh (UPBJJ) UT di daerah masing-masing.

“Saya semakin tertarik dan segera ingin kuliah lagi. Tapi waktu itu saya tidak langsung mendaftar. Karena dalam masa pemulihan pasca operasi bedah thorax,” kenang Epi.

Setahun kemudian, barulah dia mendaftar di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UT program studi ilmu komunikasi. Dia merasa cocok kuliah di UT karena sesuai dengan dirinya yang sulit beraktivitas di luar rumah. Apalagi UT juga menawarkan tutorial online yang membuatnya semakin tertarik.

“Saya mendaftar di UPBJJ Pontianak. Saya pilih jurusan ilmu komunikasi karena tertarik mendalaminya. Mungkin dengan bekal ilmu komunikasi, saya bisa lebih banyak mengampanyekan dan meningkatkan kepedulian, kesadaran masyarakat tentang penyakit ini,” jelasnya.

Dia menjabarkan, bahan ajar yang digunakan dan tutorial online di UT sangat membantunya. Dengan tutorial online, sebenarnya dia bisa mengurangi aktivitas fisik di luar rumah. Walau begitu, tetap saja ada tantangan ketika kondisi fisiknya memburuk sewaktu-waktu. Sehingga meskipun telah berusaha membagi waktu ketika membaca materi dan mengerjakan tugas, ada kalanya dia kelelahan sampai harus melewatkan tugas dan tutorial online.

“Beberapa kali saya juga tidak bisa mengikuti ujian akhir semester dan terpaksa harus mengulang pada semester berikutnya. Pernah pula saya bisa hadir pada hari pertama jadwal ujian semester, tapi di hari kedua saya sudah berbaring di rumah sakit,” kisah penggemar menu bakso ini.

Namun begitu kendala-kendala kesehatan tersebut tidak menyurutkan niatnya untuk menyelesaikan kuliah. Epi semakin membulatkan tekad untuk bisa lulus. Apalagi ketika ujian akhir semester, dia bertemu dengan rekan-rekan mahasiswa lain yang juga bercerita bagaimana harus membagi waktu antara bekerja dan kuliah.

“Ada juga ibu rumah tangga yang kuliah. Kami sama-sama berjuang untuk menyelesaikan pendidikan di UT,” sambungnya.

Pada akhirnya, dengan lika-liku dan suka duka tersendiri, Epi berhasil menyelesaikan kuliahnya tahun 2015. Dia mengikuti upacara penyerahan ijazah (UPI) di Pontianak pada Agustus 2016 silam. Dia pun berterima kasih pada UT yang telah memuluskan jalannya untuk menempuh pendidikan. Harapannya, UT bisa terus berkembang dan semakin baik lagi ke depan.

“Serta lulusan UT memiliki daya saing yang tidak kalah baiknya dengan perguruan tinggi lainnya,” harap Epi.

Adapun saat ini, Epi mengaku kondisinya mulai membaik. Sekarang dia bisa melakukan aktivitas-aktivitas ringan. Akan tetapi berbagai keterbatasan masih harus dijalaninya. Di antaranya, meski bisa berjalan kaki, dia tidak bisa terlalu jauh. Suaranya juga masih bermasalah. Sementara ototnya untuk menelan juga masih sering kambuh. Pola makannya pun masih harus diatur.

“Secara medis, menurut dokter penderita penyakit ini sulit untuk sembuh. Jika ada kondisi remisi atau membaik, terkadang perlu dipantau juga,” sebut pehobi nonton film dan membaca ini.

Kini, dalam beberapa tahun terakhir, Epi aktif melakukan kampanye mysthenia gravis. Bersama dengan rekan-rekannya di Komunitas Myasthenia Gravis Indonesia. Tujuannya untuk meningkatkan kesadaran tentang penyakit ini. Serta saling berbagi semangat kepada teman-teman sesama penderita.
“Saya juga pernah ditunjuk Yayasan Myasthenia Gravis Indonesia (YMGI) menjadi koordinator wilayah Kalimantan Barat,” kata Epi.

Melalui kiprahnya di komunitas, Epi berharap bisa memberikan motivasi kepada sesama penderita atau caregiver untuk tidak putus asa. Selain itu sekarang ada YMGI yang mewadahi para penderita penyakit ini. kami. Melalui komunitas dan yayasan, Epi bersama rekan-rekannya senasib sepenanggungan mengumpulkan donasi untuk mendukung pengadaan obat-obatan bagi para penderita lainnya.

“Walaupun pemerintah sekarang melalui BPJS sudah mulai mendukung obat-obatan tapi tetap ada keterbatasan,” paparnya.

Epi mengurai, misalnya dalam formularium nasional, obat mestinon yang maksimal bisa didapat jumlah empat tablet saja per hari. Tetapi ada penderita yang kebutuhannya mencapai enam tablet sehari. Jadi jika dikalikan sebulan, maksimal hanya bisa mendapatkan 120 tablet. Jadi penderita masih perlu membeli bila terdapat kekurangan. Dan itu pun tidak semua RSUD menyediakan.

“Ke depan saya ingin lebih aktif lagi di komunitas myasthenia gravis Indonesia. Saat ini YMGI melakukan edukasi via website dan jejaring sosial, serta ada grup whatsapp sebagai sarana berbagi pengalaman,” tuturnya.

Sementara untuk harapan pribadi, Epi punya keinginan bisa bekerja sesuai bidang ilmu komunikasi yang dipelajarinya. Walaupun saat ini dia tetap masih terkendala kondisi fisiknya. Dia ingin bisa bekerja dari rumah serta melanjutkan pendidikannya.

“Prinsip hidup saya, tetap bersyukur apapun yang dihadapi. Jangan menyerah karena Tuhan akan selalu membuka jalan. Kalau bisa saya juga ingin belajar menulis. Jadi bisa mempraktikan apa yang saya dapat selama kuliah,” pungkas perempuan kelahiran Batu Ampar, 31 tahun lalu ini. (***)

Senin, 11 Desember 2017

"Menjual" Toleransi di Lapangan Kinibalu

Lapangan Kinibalu, Samarinda

Ditulis oleh Lukman Maulana, wartawan Metro Samarinda

SETIDAKNYA ada beberapa kata yang cukup populer didengar atau dibaca di media dalam dua tahun terakhir ini. Toleransi, radikalisme, pancasila, seakan masih enggan pergi dari tajuk-tajuk berita media nusantara. Bahkan kini, kata-kata tersebut seakan menjadi bahan “jualan” yang ampuh dalam menarik simpati dan memuluskan keinginan.

Kata “toleransi” misalnya, seakan menjadi kata baru yang harus dihapal oleh semua warga negara. Padahal kata ini sudah lama ada dalam buku-buku pendidikan moral dan kewarganegaraan bersama frasa padanannya, tenggang rasa. Kasus penistaan agama yang dilakukan oknum gubernur di ibukota setahun lalu semakin mempopulerkan kata ini ke peringkat atas “top chart”.

Menariknya, dengan mengklaim diri sebagai orang yang toleran, seakan menjadi berhak meng-intoleran-kan orang lain yang dianggap berbeda pandangan. Lihat saja pendukung gubernur penista agama yang sebelumnya berkoar-koar toleran dan menuduh lawannya sebagai radikal, justru melakukan aksi intoleran nyata dengan aksi walk-out dalam suatu acara resmi.

Hal yang sama berlaku pada kalimat “pancasila”, yang menjadi tameng bagi melakukan pembenaran atas perilaku yang sejatinya bertentangan dengan dasar negara tersebut. Peristiwa kekinian menjadi gambaran bagaimana pancasila sekadar jargon dan pembenaran atas suatu kesalahan. Lihatlah betapa sekelompok ormas yang mengklaim paling pancasila, paling toleran, justru melakukan aksi barbar nan radikal dengan membubarkan atau menolak kedatangan pemuka agama di suatu daerah. 

Padahal sejatinya toleransi, sebagaimana diartikan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berasal dari kata dasar toleran. Artinya, bersifat atau bersikap menenggang (menghargai, membiarkan, membolehkan) pendirian (pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, kelakukan, dan sebagainya) yang berbeda atau bertentangan dengan pendirian sendiri.

“Jualan” toleransi belakangan juga terjadi di bumi etam. Tapi kasusnya tidak sama dengan paragraf sebelumnya. Melainkan, dijadikan alasan pendukung untuk melancarkan pembangunan rumah ibadah yang ramai mengundang kontroversi. Ya, saya membahas rencana pembangunan Masjid Al-Faruq di Lapangan Kinibalu, Samarinda.

Rencana pembangunan masjid tersebut memang diliputi pro dan kontra. Namun saya tidak dalam posisi mendukung atau menolak. Saya hanya ingin mengkritisi penggunaan kata “toleransi” yang disebut-sebut menjadi salah satu alasan kenapa masjid itu dibangun. Dalam keterangan persnya, Gubernur Kaltim Awang Faroek Ishak mengatakan bila pembangunan masjid ini bakal semakin menguatkan simbol toleransi Kaltim karena berada di antara katedral dan gereja.

Ya itu benar, tapi dengan harga yang mahal. Rp 73,8 miliar itu bukan angka yang kecil. Kelewat besar malahan kalau hanya untuk simbol toleransi. Sementara kontroversi yang berkembang memunculkan opini bahwa pembangunan masjid ini belum perlu. Baik di tengah kondisi perekonomian Kaltim yang tengah defisit, hingga pertentangan yang terjadi di masyarakat.

Mereka yang kontra beralasan Lapangan Kinibalu merupakan situs bersejarah, masih banyak masjid yang memerlukan bantuan, dan ada yang menyebut permasalahan lahan masih belum selesai. Ketimbang membangun masjid baru, alangkah eloknya bila masjid-masjid yang ada diperbaiki terlebih dahulu. Begitu katanya.

Di satu sisi, gubernur juga punya dasar. Dengan dalih lahan seluas 1,6 hektare itu merupakan kepunyaan pemprov, maka merupakan hak pemprov untuk membangun di atasnya. Pun begitu kapasitas masjid yang untuk menampung para pegawai pemprov diklaim masih kurang. Sehingga pembangunan masjid dirasa perlu.

Sebenarnya tujuan menampung jemaah salat pegawai pemprov sudah cukup memberikan alasan bagi gubernur. Tinggal nantinya bagaimana persoalan hukum berjalan di antara pemprov dan masyarakat yang kontra. Namun tampaknya alasan itu masih belum kuat. Sehingga sang KT-1 lantas menambahkan “penguat rasa”, bahwa pembangunan masjid ini untuk simbol toleransi.

Padahal bicara toleransi, Kaltim sudah sangat paripurna untuk itu. Lihatlah berbagai pusat keagamaan yang melingkupi semua agama yang ada di Indonesia. Dan bicara masjid, Kaltim sudah punya Islamic Center dan Masjid Raya, dua masjid megah yang sangat cukup mewakili kepentingan umat Islam.

Keberadaan Masjid Al-Faruq disebut simbol toleransi mungkin karena nantinya bakal berlokasi dekat dengan tempat ibadah agama lainnya. Tapi apakah untuk dibilang toleransi harus berdekatan satu sama lain? Nyatanya setoleran apapun, masjid dan tempat ibadah lainnya punya fungsi utama sebagai tempat ibadah. Bukan tempat untuk toleransi. Indonesialah tempat toleransi itu.

Mungkin masyarakat Indonesia menganggap simbol-simbol masih begitu penting. Sehingga bangunan fisik dan monumental perlu dibangun. Padahal yang lebih penting adalah hakikat dari toleransi itu sendiri. Yaitu terciptanya masyarakat yang saling menghargai, menghormati, dan membantu satu sama lain meskipun berbeda-beda dalam hal agama, suku, ras, dan golongan. Jangan sampai kejadian seperti penistaan agama terjadi seperti sebelum-sebelumnya.

Menurut saya, cukuplah gubernur mengatakan pembangunan masjid diperuntukkan tempat salat bagi para pegawai pemprov yang konon mencapai 8 ribuan orang di lingkungan tersebut. Ketimbang ikut-ikutan “menjual” toleransi demi memuluskan pembangunan. Karena saya melihat kata-kata seperti toleransi dan pancasila, kini tak ubahnya sebagai label yang bisa digunakan begitu saja, tanpa memandang kembali apa esensi sebenarnya dari kedua kata tersebut.

Saya yakin proses yang baik pasti akan menghasilkan pembangunan yang baik pula. Termasuk pembangunan masjid ini. Isu-isu mengenai agama merupakan hal yang sensitif, sehingga perlu ditangani dengan bijak, cepat, dan tepat. Jangan sampai malah menimbulkan keresahan di kalangan umat. Kalaupun ada pro dan kontra, saya yakin hukum di Indonesia bisa ikut membantu menyelesaikannya. (*)

Sumber foto: Lukman Maulana

Minggu, 10 Desember 2017

Tidak Perlu Ragu Kuliah di Universitas Terbuka



Wisuda Universitas Terbuka

Kendati kerap dipandang sebelah mata, namun siapa saja yang ingin melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi tidak perlu ragu untuk memilih Universitas Terbuka (UT) sebagai tempat kuliah. Sebab, kualitas pendidikan dan alumninya diakui pemerintah. Selain itu, sistem perkuliahan yang diterapkan UT makin kompeten untuk menghasilkan lulusan andal dan mampu menjawab kebutuhan dunia kerja.

“Tak perlu ragu untuk kuliah di UT. Ijazahnya diakui pemerintah dan mutu lulusannya juga tak kalah bila dibanding dengan alumni perguruan tinggi negeri lain di Indonesia. Bahkan, kuliah di UT lebih baik dan lebih terjamin dari kuliah di universitas yang hau-hau,” ungkap Kepala Kantor Regional (Kakanreg) XIII Badan Kepegawaian Negara (BKN) Banda Aceh, Makmur SH Mhum ketika diminta tanggapannya soal kualitas UT, beberapa waktu lalu.

Justru, menurutnya kampus ‘hau-hau’ itu lebih bahaya jika dijadikan tempat kuliah. Sebab, selain statusnya tak jelas, akreditasi program studi juga masih perlu dipertanyakan. “Sementara di UT, prodi yang ada umumnya sudah berakreditasi B,” ujarnya. Demikian juga dengan kegiatan belajar-mengajar di UT, lanjut Makmur, benar-benar diakui oleh pemerintah. Dikatakan, proses belajar di UT diatur sedemikian rupa dengan cara dikirim modul secara berkala dan dilakukan tutorial tatap muka dalam kurun waktu tertentu.

Dikatakan, kuliah di UT juga bisa menghemat biaya karena mahasiswanya tak perlu mengeluarkan uang secara rutin untuk ongkos transport, kos, dan biaya-biaya lain serta bisa tetap tinggal bersama keluarga. “Cukup dengan mempelajari modul yang dikirim secara online, mahasiswa sudah bisa mengikuti kuliah dan mengikuti ujian. Kalaupun harus ke kampus UT, mahasiswa hanya perlu datang jika ada keperluan tertentu,” ungkap Makmur yang juga pernah menjabat sebagai Kepala Biro Hukum dan Humas Setda Aceh.

Hal lain yang bisa menjadi garansi bahwa kuliah di UT tak perlu diragukan, menurut Makmur, BKN dalam menyelenggarakan D-4 Pendidikan Ilmu Kepegawaian (PIK) bekerja sama dengan Universitas Terbuka. PIK yang terbentuk pada tahun 2008 berada di bawah naungan Direktorat Pembinaan Jabatan Analis Kepegawaian BKN. Mahasiswanya adalah pegawai negeri sipil (PNS) berasal dari provinsi dan kabupaten/kota se-Indonesia. “Mahasiswa PIK kuliahnya di kampus BKN Pusat,” ujarnya.

Kecuali itu, kata Makmur lagi, UT juga sah untuk tempat peningkatan kompetensi PNS dan diakui oleh pihak BKN. “Penyesuaian ijazah bagi PNS lulusan UT juga langsung diterima. Jadi, yakinlah ijazah itu benar-benar diakui oleh pemerintah atau dengan kata lain ijazah UT bukan ijazah palsu. Sebab, sekarang jika PNS menggunakan ijazah palsu sanksinya adalah pemberhentian dengan tidak hormat. Jadi, UT sebagai perguruan tinggi negeri yang diakui pemerintah, tak mungkin ijazah yang dikeluarkan universitas tersebut adalah ijazah palsu,” jelas Makmur seraya berharap masyarakat tak perlu terpengaruh dengan berbagai isu negatif terhadap UT.

Bagi mereka yang ingin kuliah, namun memiliki keterbatasan dana, tambah Makmur, tak ada salahnya melanjutkan studi di UT. “Ijazah yang dikeluarkan UT itu diakui pemerintah dan sama dengan ijazah di PTN lain di Indonesia,” pungkas Makmur. (*/adv)
 
Sumber: IKA-UT
Sumber foto: elmaulana.weebly.com