Dosa Anies Adalah Menjadi Gubernur DKI

Ketidakadilan terus menyelimuti Anies Baswedan dalam kiprahnya menjalankan pemerintahan DKI Jakarta. Mulai dari prestasi yang tak diungkap media, hingga serangan-serangan hukum yang berat sebelah.

Ketika Islam Harus Mengalah dan Wajib Kalah

Sebuah tulisan menarik dari budayawan Emha Ainun Nadjib mengkritisi sikap pemerintah yang dianggap kerap melakukan diskriminasi terhadap umat Islam.

Jangan Sampai Meleng Awasi Anak

Bahaya penculikan terus menghantui anak-anak kita. Malahan modusnya semakin bervariasi saja. Pengawasan orang tua terhadap anak pun dituntut semakin ekstra.

Keadilan untuk Para Penyebar Hoaks

Penegakan hukum atas tindakan membuat dan menyebarkan hoaks terus dilakukan. Namun begitu, aparat dianggap masih tebang pilih melakukannya. Benarkah demikian?

Tidak Perlu Ragu Kuliah di Universitas Terbuka

Kampus yang memiliki unit pembelajaran di berbagai daerah di Indonesia ini bisa menjadi pilihan dalam menempuh pendidikan tinggi.

Kamis, 28 Maret 2019

Mengenal Minyak Esensial dan Khasiatnya untuk Kesehatan

ilustrasi minyak esensial

BELAKANGAN ini, nama minyak esensial atau minyak atsiri semakin populer di kalangan masyarakat. Khususnya dalam hal kesehatan. Lantas, apa sebenarnya minyak esensial itu?

Minyak esensial atau minyak atsiri adalah ekstrak minyak harum yang didapat dari hasil penyulingan tanaman, bunga, akar, kayu, atau biji buah. Selain bermanfaat untuk relaksasi dan menenangkan pikiran, minyak esensial juga bisa jadi obat penawar penyakit. 


Rahasia dari Dapur untuk Hubungan Intim yang Menggoda

ilustrasi

BICARA pembangkit gairah seks, tak lepas dari penggunaan parfum yang kerap menjadi afrodisiak sebelum “bertempur” di atas kasus. Namun tahukah Anda bahwa ada jalan mudah dan murah selain parfum untuk membumbui kehidupan seks Anda? Menariknya, bumbu tersebut berasal dari dapur!

Para peneliti meyakini bahwa aroma, rasa, dan penampilan beberapa makanan bisa bertindak sebagai afrodisiak potensial. Afrodisiak ini tak hanya meningkatkan mood untuk bercinta, tetapi juga membuat Anda lebih pintar bercumbu. Mengetahui makanan yang tepat dalam tahapan seksual dan proses pernikahan dapat memaksimalkan efek tersebut. 

Rabu, 19 Desember 2018

Dosa Anies Adalah Menjadi Gubernur DKI

Anies Baswedan (kanan) berbincang dengan Sandiaga Uno saat kampanye Pilkada Jakarta.
Tulisan menarik dari Dr Tony Rosyid, pengamat politik dan pemerhati bangsa. Opini tentang kepemimpinan Anies Baswedan sebagai Gubernur DKI yang menjadi "ancaman". Tulisan asli berjudul "Apa Dosamu Anies?". Selamat membaca.

Apa dosamu Anies? Itulah pertanyaan publik yang tak berhenti hingga hari ini. Kamera TV diawasi agar wajah Anies tak muncul. Demonstrasi dikirim setiap hari di Balaikota. Media menghindar saat Anies menerima tiga katagori penghargaan dari KPK. 40 Marbot masjid diumrohkan Ahok, media gempar. Anies memberangkatkan 267 marbot, tak ada kabar beritanya. Mau bangun GOR untuk Persija di BMW, anggaran dihadang di DPRD.

Rabu, 05 Desember 2018

Benarkah Dubes Saudi Melanggar Hukum Diplomatik?

Reuni 212 di Monas. (foto dari Gelora News)
Tulisan Diplomat Senior, DR Hazairin Pohan mengulas kontroversi cuitan dubes Arab Saudi terkait aksi Reuni 212 yang membuat PBNU berang. Benarkah Dubes Saudi melanggar hukum diplomatik? Selamat membaca.

SEBENARNYA saya sudah hampir final menulis artikel tentang usul PBNU agar Pemerinta R.I. mempersona-non-grata Dubes Kingdom of Saudi Arabia (KSA) untuk Indonesia, Mr. Osamah Muhammad Al-Suaib. Namun anak saya yang membantu upload sedang keluar rumah.  Oleh karena itu saya tuliskan poin-poin penting pendapat saya memenuhi permintaan teman-teman di Twitter dan Facebook, maupun di berbagai group WA.

Sabtu, 27 Oktober 2018

Ketika Islam Harus Mengalah dan Wajib Kalah

ilustrasi

Sebuah tulisan menarik dari budayawan Emha Ainun Nadjib mengkritisi sikap pemerintah yang kerap melakukan diskriminasi terhadap umat Islam. Diambil dari buku "Iblis Nusantara Dajjal", dengan judul asli artikelnya, "Saya Anti Demokrasi". Selamat membaca.

Kalau ada bentrok antara ustadz dengan pastur, pihak Depag, Polsek, dan Danramil harus menyalahkan Ustadz, sebab kalau tidak itu namanya diktator mayoritas. Mentang-mentang umat Islam mayoritas, asalkan yang mayoritas bukan yang selain Islam-harus mengalah dan wajib kalah.

Minggu, 21 Oktober 2018

Jangan Sampai Meleng Awasi Anak

ilustrasi

Catatan Lukman Maulana, Redaktur Bontang Post

JAGAD media sosial dibuat gempar. Isu penculikan anak merajalela. Bukan hanya di Jakarta atau di Jawa yang menjadi denyut pemerintahan, melainkan kini telah sampai di bumi etam. Para orang tua pun dibuat khawatir karenanya.

Isu penculikan anak ini memang patut dikhawatirkan. Lantaran dalam melakukan aksinya, para penculik anak ini semakin “kreatif” saja melakukan modusnya. Bahkan kalau bisa dibilang semakin nekat. Dalam keramaian pun mereka tak segan memisahkan anak-anak polos tak berdosa dari orang tuanya.

Senin, 08 Oktober 2018

Terjadinya Bencana karena Dosa


Seorang warga menatap puing-puing gempa-tsunami Palu, Minggu (7/10/2018).
Para ahli berpendapat ada sebab fenomena alam yang membuat terjadinya bencana. Namun sebagai umat beragama, harus meyakini bahwa penyebab bencana lebih dari itu. Simak tulisan ustaz Qomar Zaenudin Abdullah yang berjudul KARENA DOSA berikut ini untuk memahaminya.

Minggu, 07 Oktober 2018

Keadilan untuk Para Penyebar Hoaks

ilustrasi hoaks



Catatan Lukman M, Redaktur Bontang Post

HOAKS alias kabar bohong semakin merajalela. Dalam sebulan ini saja, sudah ada beberapa hoaks “skala nasional” yang penyebarannya begitu meresahkan dan menjadi perhatian publik. Mulai dari hoaks demonstrasi mahasiswa, hoaks kalimat tauhid dalam pengeroyokan suporter bola, hingga sederetan hoaks yang mengelilingi tragedi bencana gempa bumi dan tsunami di Sulawesi Tengah (Sulteng).

Seakan belum cukup diresahkan dengan rentetan hoaks tersebut, belakangan “booming” hoaks yang “berskala besar”, tentang pengeroyokan yang menimpa aktivis Ratna Sarumpaet. Dianggap berskala besar lantaran hoaks ini melibatkan sejumlah tokoh politik di kubu oposisi, sampai dengan calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) Sandiaga Uno. Langsung saja, berita hoaks Ratna Sarumpaet menjadi “bahan segar” yang “digoreng” media dan pihak petahana secara luas.

Sabtu, 29 September 2018

Teguran Tuhan dari Cincin Api

Petugas medis tengah menangani korban gempa dan tsunami di Palu.
Catatan oleh Lukman M, Redaktur Bontang Post

BENCANA kembali menerpa negeri ini. Kali ini di kawasan Sulawesi Tengah (Sulteng), tepatnya di Donggala dan Palu. Malahan dua bencana berskala besar sekaligus menerjang saudara-saudara kita di sana. Gempa berskala besar, tak tanggung-tanggung mencapai 7,4 skala ritcher, memunculkan bencana lain yang tak kalah dahsyat, gelombang tsunami.

Berbagai akses terputus. Jalan, telepon, listrik, dan perhubungan udara mati total. Mengerikan benar, khususnya bila melihat rekaman dampak gempa dan detik-detik terjadinya tsunami yang sempat beredar viral dengan cepatnya melalui berbagai jenis aplikasi pesan dan media sosial. 

Minggu, 23 September 2018

Wakil Rakyat yang Takut sama Kaus

ilustrasi kaus 2019 ganti presiden

Catatan Lukman M, Redaktur Bontang Post

PEKAN lalu, publik Kaltim khususnya Samarinda dihebohkan dengan aksi persekusi warga atas pemotor yang mengenakan kaus bertuliskan #2019GantiPresiden. Persekusi yang terekam kamera ponsel itu lantas viral dan mendapat kecaman dari berbagai pihak. Pasalnya, selain merupakan tindakan melanggar hukum, aksi persekusi tersebut diduga melibatkan tiga oknum anggota DPRD Samarinda.

Tentu saja tindakan tersebut sangat disayangkan, apalagi bila ada keterlibatan oknum legislator di situ. Wakil Rakyat yang sejatinya memberi contoh, malahan dengan terang-terangan melakukan tindakan melanggar hukum, persekusi yang terbilang cukup brutal. Bagaimana tidak, dalam video yang beredar, dua pengendara motor tersebut dipaksa menanggalkan kaus yang dikenakannya, dipermalukan di tengah jalan.

Senin, 10 September 2018

Definisi Makar di "Zaman Now"

ilustrasi gerakan tagar


Catatan Lukman Maulana, Redaktur Bontang Post

BEBERAPA waktu yang lalu jagad perpolitikan Indonesia diramaikan aksi pelarangan, penolakan, dan pembubaran terhadap sejumlah kegiatan deklarasi tanda pagar (tagar) #2019GantiPresiden di beberapa daerah. Berbagai alasan pun bermunculan untuk membenarkan pelarangan serta penolakan tersebut. Deklarasi #2019GantiPresiden dituding sebagai curi start kampanye, aksi provokasi, hingga yang sangat ekstrim, makar.

Minggu, 02 September 2018

Pencak Silat yang Mempersatukan Kita

Momen Jokowi berpelukan dengan Prabowo Subianto dan Hanifan.


Catatan Lukman Maulana, Redaktur Bontang Post

ASIAN Games 2018 yang kali ini bertempat di Indonesia resmi ditutup Minggu (2/9/2018) malam kemarin. Sederet kisah manis sekaligus pahit perjuangan para atlet dan tim olahraga dari berbagai negara Asia, termasuk tuan rumah Indonesia telah tersaji, tercatat dalam perjuangan meraih pundi-pundi medali. Entah itu kisah-kisah sengitnya persaingan menjadi yang terbaik, maupun kisah-kisah luar arena yang tercium media dan masyarakat luas.

Minggu, 26 Agustus 2018

Putih-Hitamnya Sang "Saudara Tua"

ilustrasi suporter Jepang.

Catatan Lukman Maulana, Redaktur Bontang Post

BULAN ini menjadi penting dalam sejarah olahraga Indonesia. Karena pesta olahraga terbesar benua Asia, Asian Games ke-18 diselenggarakan di dua kota Indonesia, Jakarta dan Palembang. Ini merupakan kali kedua Indonesia dipercaya menggelar Asian Games, setelah perdana tahun 1962 di era kepemimpinan Presiden RI pertama, Soekarno. 

Pada gelaran perdana di Indonesia, setengah abad yang lalu, tuan rumah Indonesia meski mengakui dominasi sang “saudara tua”, Jepang yang menjadi juara umum Asian Games 1962. Sementara Indonesia berada di peringkat kedua atau runner-up, dengan perolehan 21 medali emas, berselisih sangat jauh dengan Jepang yang kala itu membawa pulang 73 medali emas.

Lantas, bagaimanakah perkembangan rivalitas Indonesia dengan mantan penjajah tersebut di Asian Games tahun ini? Dalam hal prestasi jangan ditanya, Indonesia memang masih harus belajar banyak. Jangankan mengungguli Jepang yang merupakan salah satu raksasa olahraga Asia, untuk menggeser Iran di peringkat keempat saja Indonesia masih kesulitan. Merujuk pada klasemen sementara perolehan medali Asian Games 2018 per Sabtu (25/8/2018).

Namun bukan soal medali yang akan saya bahas kali ini. Melainkan kiprah Jepang dalam Asian Games 2018 yang penuh putih dan hitam. Di satu sisi, Jepang memberikan perilaku yang terpuji dan inspiratif, namun di sisi lain, tim matahari terbit juga mencatatkan tindakan tercela dalam keikutsertaan mereka di Indonesia.

Sejak dahulu kala, Jepang memang dikenal dengan tradisi kedisiplinannya yang begitu kental dan mendarah daging dalam masyarakatnya. Termasuk dalam hal kerapian dan kebersihan, Jepang merupakan negara yang sangat menjunjung tinggi kebersihan. Saking mendarah dagingnya, tradisi positif ini tercermin dalam perilaku sehari-hari, baik di dalam negeri maupun kala melawat ke negara orang.

Yang saya bicarakan adalah “ulah” suporter Jepang yang sempat-sempatnya bersih-bersih, memunguti sampah berserakan di kawasan Gelora Bung Karno. Puntung-puntung rokok yang dibuang serampangan oleh para penghisapnya, tak luput dari bidikan warga-warga Jepang yang datang untuk mendukung tim negaranya.

Diketahui, menjaga kebersihan merupakan kebiasaan yang sudah diajarkan sejak kecil kepada anak-anak Jepang. Tak mengherankan bila mereka akan merasa risih bila melihat sampah berserakan di jalanan. Makanya, ketika mendapati sampah-sampah berserakan di Gelora Bung Karno yang merupakan salah satu venue utama Asian Games, secara spontan para suporter ini memungutinya untuk kemudian dibuang ke tempat semestinya yaitu tempat sampah.

Tradisi menjaga kebersihan ini nyatanya diadopsi menjadi hukum di Jepang, dengan adanya denda bagi mereka yang ketahuan membuang sampah sembarangan. Membuang satu puntung rokok saja, denda yangn dikenakan mencapai Rp 300 ribu. Tak jauh denda yang dipatok pemerintah DKI Jakarta bagi pembuang sampah sembarangan yang berkisar Rp 100 ribu-Rp 500 ribu.

Sebagai turis, para warga Jepang ini bisa saja tak memusingkan keberadaan sampah di Jakarta yang bukan merupakan urusan mereka. Namun tradisi turun-temurun yang terpuji, membuat mereka seakan melupakan batas negara dan melakukan aksi bersih-bersih tersebut. Tentu tindakan mereka yang viral ini mendapat pujian, di satu sisi membuat bangga negara Jepang.

“Prestasi” warga Jepang ini nyatanya bukan kali ini menjadi perbincangan. Sebelumnya, perilaku warga Jepang telah lebih dahulu menjadi buah bibir dalam keikutsertaan negara ini di ajang Piala Dunia Sepak Bola 2018 di Rusia lalu. Para suporter Jepang beramai-ramai memunguti sampah-sampah di stadion usai laga usai, sementara para pemain tim sepak bola mereka dengan penuh tanggung jawabnya, membersihkan ruang ganti sebelum kembali ke kampung halaman.

Perilaku hidup bersih ini jelaslah patut untuk ditiru masyarakat Indonesia. Pasalnya, meski tak bisa digeneralisasikan begitu saja, namun banyak warga Indonesia yang masih hobi membuang sampah sembarangan. Entah itu di jalanan, di parit, atau di sungai. Termasuk juga puntung rokok, yang seakan akrab dijumpai di berbagai sudut wilayah di Indonesia.

Termasuk dalam event olahraga, para suporter Indonesia masih banyak yang belum sadar akan kebersihan. Utamanya dalam laga sepak bola yang menjadi olahraga terfavorit bagi para lelaki Indonesia. Sampah-sampah dan puntung rokok masih akrab didapati di sudut-sudut stadion di mana saja di Indonesia ini. Seakan lepas tanggung jawab, membebankan pembersihan sampah tersebut pada para petugas berseragam kuning.

Tentunya, aksi bersih-bersih suporter Jepang merupakan tamparan bagi warga Indonesia yang masih tidak peduli akan kebersihan lingkungannya. Khususnya bagi para perokok yang cuma bisa egois dan menyampah sesukanya. Perokok jenis ini bukan hanya mengotori lingkungan dengan sampah puntung rokoknya, melainkan juga mengotori udara dengan racun-racun mematikan.

Sayangnya, inspirasi dari para suporter Jepang tersebut justru dinodai oleh aksi tercela yang dilakukan oknum atlet mereka itu sendiri. Adalah empat pemain tim bola basket Jepang yang kedapatan terlibat prostitusi di salah satu kawasan di Jakarta. Tentu tindakan ini mencoreng nama bangsa Jepang di ajang yang sarat sportivitas tersebut.

Akan tetapi, lagi-lagi Jepang memberikan teladan yang baik, yang bisa dicontoh “saudara muda”-nya melalui insiden memalukan tersebut. Yaitu lewat sikap tegas mereka dengan langsung memulangkan keempat oknum pemain itu. Tak ada ampun, malahan keempatnya “diusir” pulang tanpa dibiayai negara. Jepang dengan legawa memohon maaf kepada semua pihak atas aksi tak terpuji yang dilakukan warganya.

Jepang, layaknya sebuah negara seperti Indonesia, tentunya memiliki putih-hitam, baik-buruk yang bisa dijadikan pelajaran. Untuk yang baik-baik seperti misalnya kedisiplinan dan juga tradisi menjaga kebersihan, tentu layak untuk ditiru. Sementara untuk yang buruk-buruk, semisal terlibat prostitusi, tentu jangan dicontoh.

Perjuangan tim Indonesia sendiri dalam Asian Games 2018 ini, juga layak untuk diacungi jempol. Terlepas dari hasil akhir yang dicapai, para atlet merah putih telah melakukan yang terbaik untuk negeri. Sebagaimana dalam final bulu tangkis beregu putra yang mempertemukan Indonesia dengan Tiongkok. Walaupun kalah, namun tak bisa dimungkiri bila para pebulu tangkis Indonesia tersebut telah berjuang sekuat tenaga.

Lihatlah betapa dua pemain tunggal Anthony Sinisuka Ginting serta Jonatan Christie, yang begitu bercucur keringat menghadapi kuatnya para pemain Tiongkok. Bahkan Anthony Ginting sampai mengalami cedera serius yang membuatnya terpaksa tumbang. Sayangnya, dengan perjuangan yang begitu keras tersebut, masih ada saja warganet yang nyinyir dan mem-bully pemain Indonesia. Padahal, apa yang mereka lakukan ini sudah sepatutnya mendapat apresiasi.

Menurut saya, Asian Games 2018 bukan sekadar ajang perlombaan siapa yang paling hebat dalam memboyong medali. Melainkan juga merupakan ajang perlombaan dalam hal sportivitas serta berbagai sikap positif lainnya. Karena dari sportivitas dan berbagai hal positif tersebut, persahabatan antar negara sebagai cita-cita dari event ini dapat benar-benar terwujud.

Bukan hanya Jepang atau Indonesia, negara-negara lainnya yang ikut serta dalam event ini pun tercatat menunjukkan sisi “putih” mereka. Walaupun tak bisa dimungkiri, sisi “hitam” juga ditemui dalam serangkaian event yang digelar. Tentu kita semua berharap agar lebih banyak lagi perilaku positif dan sportivitas yang tercetak di lapangan. Khususnya dari Indonesia yang merupakan tuan rumah. 

Walaupun nantinya Indonesia gagal menjadi yang teratas, namun berbagai sikap positif yang kita tunjukkan, mulai dari sportivitas, sopan santun, dan persahabatan, tentu akan menjadi citra baik dan berkesan bagi para tamu asing yang datang ke negeri ini. Sebagaimana Palestina yang terharu dengan dukungan dan sikap suporter Indonesia. Mari bersama-sama sebarkan semangat positif, sehingga Asian Games 2018 yang menghabiskan biaya tak sedikit tidak menjadi sia-sia. (*) 

Sumber foto: istimewa