Selasa, 15 Agustus 2017

Di Balik Konferensi Pers Berar Fathia

ilustrasi konferensi pers
Sepotong Atraksi Jurnalistik di Jawa Pos

Membaca - menulis tugas jurnalis. Baca komik, novel, sejarah, teori-teori, apa saja, terutama berita. Jurnalis Jawa Pos yang enggan membaca, bakal fatal. Digilas tugas, bisa dipecat. Kisah nyata perjuangan kebangkitan Jawa Pos ini menggambarkan itu. Dijamin seru.

Ditulis oleh Djono Wikanto Oesman

JAWA POS (JP) bangkit, antara 1982-1994. Bangkit dari koran sama sekali tidak laku. Dibagikan gratis pun, dijadikan bungkus kacang. Lalu menggeliat jadi koran laku.

Ibarat bocah belajar naik sepeda: Jatuh-bangun. Berdarah-darah. Sebelum bisa lepas-tangan.

Ibarat mesin pesawat bergemertak saat take-off. Terguncang hebat. Sebelum bisa auto-pilot, bermanuver di langit.

Pemimpin Redaksi JP saat itu Dahlan Iskan. Mantan Menteri BUMN, kini Owner JP Group, orang terkaya Indonesia urutan ke-90. Mengalahkan kekayaan anak-anak mantan Presiden Soeharto, Siti Hardijanti Rukmana ke- 132 dan Bambang Trihatmodjo ke-124. (data Pojoksatu.id, 27 Maret 2017).

Dahlan pemimpin hebat. Saya berkarir jurnalistik di JP selama 24 tahun sejak 1 Agustus1984. Jabatan terakhir Redaktur Pelaksana Indo Pos (anak JP di Jakarta).

Sore, awal Februari 1992.

Kantor JP Jakarta, Jl Prapanca Raya 40, Blok M, Jakarta Selatan, mulai ramai. Para wartawan baru saja berdatangan. Saya ngantor jelang Maghrib, setelah seharian keliling

Jakarta meliput berita di lapangan.

Sebelum mengetik berita, saya baca koran. Ada belasan koran di rak. Saya baca cepat. Hanya di halaman satu (depan) saja.

Aturannya, tindakan ini salah. Wartawan wajib ngantor pukul 07.00. Baca semua koran. Supaya tahu kompetitor, diperbandingkan dengan JP. Menang atau kalah. Setelah baca, barulah liputan lapangan. Sorenya balik ngantor lagi.

Tapi, mayoritas kami mengabaikan itu. Kami beranggapan, ada Redaktur. Di atasnya lagi ada Redaktur Pelaksana. Di atasnya lagi ada Pemimpin Redaksi. Mereka semua stand by non-stop di kantor. Jika ada sesuatu, mereka menugasi wartawan melalui pager Motorola.

Malam itu semua sibuk mengetik. Tak dinyana, terjadi insiden.

Redaktur Pelaksana Nani Wijaya memegang koran Pelita. Dia mondar-mandir gelisah. Jalan keliling ke meja-meja wartawan.

Dia teriak: “Dwoooo... ini ada orang gila. Kenapa kamu gak tau?”

Dwo panggilan saya. Panggilan model begini berarti ada yang gawat. Kayaknya kecolongan. Saya beranjak berdiri. Mendekati Nani.

Nani membanting koran di meja. Plaaak... Membentak keras:

“Ini... kenapa kamu gak tau?”

Saya amati Pelita di meja. Nani menunjuk satu berita di halaman dalam:

“......... Wakil Ketua Litbang DPP PDI Berar Fathia, akan maju mencalonkan diri sebagai Presiden RI.... Dia akan menggelar konferensi pers, besok....”

Itu hanya ada di koran Pelita.

“Kenapa kamu gak tau?” ulang Nani.

“Maafkan... tadi saya gak baca ini.”

Itu bidang politik. Bukan bidang saya. Tapi memang bisa terkait.

Bidang tugas saya features. Berita bergaya sastra. Jurnalisme sastra. Di Amerika disebut “Literary Journalism”, dipelopori Truman Capote 1957. Di JP namanya “Boks”.

Pemuatannya istimewa, dikotaki (diberi garis kotak khusus) agar mencolok. Ini unggulan.

Berar Fathia bisa dianggap wanita gila. Di era Orde Baru tidak ada pria berani mencalonkan diri jadi Presiden RI. Apalagi wanita. Calonnya selalu tunggal: Soeharto. Berar orang pertama Indonesia, pesaing Soeharto.

Kini Nani berpaling dari saya. Menuju meja telepon. Menelepon. Dari gaya bicara, dia terhubung dengan Dahlan Iskan di Surabaya. Suaranya berbisik. Selesai telepon, dia jalan, keliling meja-meja wartawan. Lalu berteriak-teriak:

“Kalian semua...  tidak baca koran. Kenapa.... kenapa...”

Sepi. Tidak ada yang berani dengan Nani. Kami semua tahu, Nani orang spesial Dahlan. Khusus. Siapa berani membantah Nani, berarti dia berniat keluar dari JP. Mutlak. Terbukti.

“Kenapa kalian diam....” bentaknya, menggebrak meja.

Semua diam. Pura-pura sibuk mengetik. Bola panas kini menyebar.

Jurnalistik pekerjaan tim. Siapa tahu sesuatu, meski bukan bidangnya, wajib menyampaikan ke atasan. Dari situ tugas didistribusikan. Walaupun, penanggung-jawab utama

Pemimpin Redaksi, wakilnya, Redaktur Pelaksana, Koordinator Liputan, Redaktur. Berjenjang.

Sudah... sekarang mau apa? Pikirku. Sudah kecolongan.

Tunggu dulu... Berita di Pelita ini sangat singkat. Saya paham, Pemred Pelita takut pada Presiden Soeharto. Semua koran takut Pak Harto. Sehingga berita itu kecil, singkat. Tidak detil. Berarti ada peluang.

“Dwo... kamu buat boks sekarang. Gak tau, gimana caranya,” kata Nani.

“Siap...” jawab saya.

ATRAKSI PUN DIMULAI

Sekarang pukul 20.00. Alamat Berar Fathia masih akan kucari. Deadline normal 21.00. Muskil. Tapi saya harus katakan, siap. Apa pun.

Mendadak, Nani mengerahkan seluruh wartawan JP mencari alamat Berar. Karena pasti, dia sadar, bahwa tidak mungkin saya kerjakan semuanya sendirian.

“Cepat... cepat... bantu Dwo... cari alamat Berar. Cepaaaat...,” teriak Nani.

Busyet.... Suasana berubah drastis.

Kawan-kawan belingsatan hunting telepon. Semua saluran digunakan. Bahkan, telepon masuk pun langsung ditutup. Digunakan menelepon.

Nani rajin berteriak:

“Cepat.... cepat... cepat... Khusus ini, deadline diundur. Sampai dapat,” teriaknya.

Sungguh... semua sibuk. Mereka yang tak kebagian line telepon, pun berkontribusi. Memberi catatan nama dan nomor telepon seseorang, yang mungkin tahu alamat Berar. Asli, kesibukan menyebar.

Saya tak tinggal diam. Keluar, menuju halaman parkir. Motor saya Suzuki A 100 saya starter. Mesin saya panasi. Stang gas saya geber-geber. Mesin meraung-raung. Suaranya tembus ke ruang kerja.

“Ayo... kawan-kawan. Ayo... ” teriak saya, menggeber motor.
Saya menyemangati kawan-kawan. Supaya segera. Cepat... Nebeng Nani, ikutan teriak-teriak. Biar agak keren. Sekali-sekali-lah.

Sejatinya saya gelisah. Sebagai hunter saya selalu siap mental. Cuma, kali ini durasi waktu sangat pendek. Jalanan Jakarta malam-malam begini masih macet. Suzuki A 100 speed 80 sudah goyah. Belum wawancara Berar. Belum balik kantor lagi. Belum mengetik beritanya. Ampuuun...

Waktu bergerak, saya kian stress. Kawan-kawan berkutat di telepon, belum ada hasil. Entah, siapa saja yang mereka hubungi. Saya khawatir sebagian mereka hanya pura-pura

sibuk. Semoga tidak. Toh, Nani kontrol keliling. Menguping pembicaraan telepon mereka.

Pukul 21.00 lewat, Wartawan Rasyid lapor: Alamat Berar Fathia di Bekasi.

Semua bersorak riang.

Hati saya dag-dig-dug dengar kata “Bekasi”. Sekitar 40 kilometer dari kantor.

“Persisnya dimana?” sambut Nani, segera.

“Sebentar, saya lanjut telepon kawan lain lagi,” jawab Rasyid.

Halaaah....

Tambah malam, tambah gelisah.

Saya hitung, andai alamat ketemu sekarang. Tit... Saya meluncur. Tiba Bekasi sekitar 22.00. Wawancara sejam. Balik kantor, bisa 24.00. Mengetik beritanya sejam. Pukul 01.00 berita dikirim via modem ke Surabaya. Pas. Deadline berita khusus pernah segitu.

Itu seandainya alamat Berar didapat sekarang.

Tapi waktu terus bergerak. Target belum tercapai. Nani mondar-mandir, sesekali melihat jam.

Pukul 22.00 tetap belum ketemu. Sudah dua jam kawan-kawan bergelut.

Nani menyerah.

“Sudah… sudah… Tidak mungkin lagi,” ujarnya.

Semua berhenti berjuang. Meletakkan gagang telepon. Mereka kembali ke kursi masing-masing. Melanjutkan ketikan yang tertunda. Dua jam waktu hilang percuma.

Gagal. Semua lemas. Berita JP untuk topik ini, gagal unggul.

Nani kembali marah-marah. Sejenak kemudian dia sadar, bahwa kemarahannya mengganggu konsentrasi wartawan. Lalu dia umumkan, rapat setelah deadline.

Di rapat dia lanjutkan marah-marah. Topiknya “Malas Baca Koran”. Tapi berlama-lama. Sampai kami kekenyangan. Kenyang omelan.

“Dasar, wartawan gombal semua....” katanya.

Khusus kepada saya, ditugasi:

“Besok kamu ke lokasi konferensi pers Berar Fathia, pagi-pagi sekali. Sebelum ada wartawan lain. Wawancara tuntas,” tuturnya.

“Siap...”

Jadwal konferensi pers 08.00 di Cikini, Jakarta Pusat. Dia lupa waktu. Mengatakan “besok”. Padahal di akhir rapat sekarang ini sudah 01.00.

Dia lantas mencari Umar Fauzi (wartawan foto). Tapi Umar sudah pulang. Wartawan foto tak perlu sampai malam, sebab toko pencetak foto tutup 19.00. Zaman itu foto menggunakan film. Harus dicuci-cetak.

Nani menugasi Umar lewat pager Motorola. Agar hadir di konferensi pers pukul 08.00. Dilarang keras telat.

Saya tiba di rumah gak berani tidur. Seumpama tidur, bisa bablas kesiangan.

Saya merenungi kawan-kawan saat hunting telepon. Hebat. Seolah mereka pemilik Jawa Pos. Barangkali kami terpengaruh ucapan Dahlan, sering berkata: “Bekerja-lah total.

Jawa Pos kelak bakal besar, kita semua akan sejahtera bersama-sama.”

Motivasi dahsyat.

Di waktu yang tepat: Take-off. Memanaskan mesin pesawat take-off. Dan, mesin terbukti panas gemertak.

Pada orang yang tepat: Wartawan. Produk koran hanya berita. Itulah satu-satunya yang dijual. Bukan kertas bekas.

Cara yang tepat: Disiplin keras.

MANAJEMEN HEMAT PANGKAL HEBAT

Pukul 05.00 saya berangkat.

Lokasi kantor LPHAM Jalan Kalipasir, Cikini. Belum pukul 06.00. Rumah kuno, besar, pintu pagar besi masih digembok.

Penjual ketoprak keliling, lewat. Saya hentikan. Sarapan, berdiri bersandar di pagar besi, tempat konferensi pers. Sebab penjualnya tidak bawa kursi.

Sampai usai makan, belum ada orang.

Pintu pagar saya pukul-pukul, keluar seorang pemuda. Kayaknya dia baru bangun tidur. Saya tunjukkan kartu pers, lalu disilakan masuk.

Saya sendirian. Menunggu sejam lebih.

Berar datang kira-kira setengah jam sebelum acara dimulai. Menyusul, dua wartawan cewek.

Sedih deh. Tidak mungkin wawancara eksklusif. Terpaksa bertiga. Tapi, saya bersemangat lagi setelah tahu, dua cewek itu wartawan majalah mingguan. Hasil wawancara mereka akan tayang beberapa hari lagi. Sedangkan saya, besok.

Kami wawancara mendalam, detil, tuntas, tapi cepat. Sebelum yang lain datang.

Jelang pukul 08.00 puluhan wartawan datang. Wawancara selesai, sebab konferensi pers langsung dibuka.

Acara berlangsung, saya hanya nonton. Tersenyum menang. Sebab, sesi tanya-jawab konferensi pers selalu acakadul. Tidak intensif kronologis. Puluhan wartawan berebut.

Potong-memotong. Pertanyaan cerdas-bodoh campur-aduk. Sedangkan, waktu dibatasi.

Sialnya, fotografer Umar belum muncul. Gawat ini.

Antisipasi, minta foto ke fotografer lain. Semua menolak. Kami memang bersaing.

Pukul 09.00 saya keluar. Menuju telepon umum (koin). Telepon kantor, diterima Nani. Saya laporkan kondisi. Whaduuuh... dia marah berat. Teriak-teriak:

“Gak mau tau.... harus ada foto...” teriaknya. “Dasar... Wartawan gombal semua....”

Kutu kupret.... problem lagi. Tak habis-habisnya.

Balik ke konferensi pers, saya melobby teman, fotografer Media Indonesia, Gino. Minta foto. Dia juga menolak.

“Gini aja, mas. Datang ke kantor saya, temui sekretaris redaksi. Beli foto saya,” kata Gino.

Formal sekali. Dijelaskan, jika dia memberi saya, lalu fotonya dimuat JP, dia kena warning. Karirnya bahaya.

“Tolonglah... Gin.”

“Gak bisa mas. Sorry.”

Saya terjepit. Doktrin JP, terserah apa pun caranya dapat foto, asal jangan beli. Manajemen JP luar biasa irit. Hemat pangkal hebat. Maklum, pesawat take-off.

Tit... tit.... tit.... Pager saya bunyi, bergetar.

Pesan dari Umar. Minta petunjuk arah ke lokasi acara.

Diamput... Umar ini arek Suroboyo. Belum banyak tahu jalanan Jakarta.

Saya meloncat, menuju telepon umum. Menghubungi Motorola. Kirim pesan, petunjuk arah jalan ke pager Umar.

Balik lagi ke konferensi pers, acara bubar. Mati aku.

Maka, saya tahan agar Berar tidak pulang. Caranya, saya cerita macam-macam. Berusaha membuat dia tertarik. Supaya tertahan.

Umar akhirnya muncul juga. Berar masih ada.

Anehnya, Umar kelihatan lesu. Tahu-tahu dia marah ke saya.

Katanya, dia tadi didamprat Nani di kantor. Habis-habisan. Gara-gara saya telepon kantor. Padahal, dia tidak merasa ditugasi ke acara ini.

Kami jadi berdebat.

Debat terhenti oleh suara Berar:

“Tolong, cepat. Saya mau pergi. Ada acara lagi,” katanya.

Kontan, debat terhenti.

Umar segera bekerja, memainkan kamera. Modelnya Berar Fathia.

SEHARI SEBELUMNYA, VERSI UMAR FAUZI

Ini cerita Umar, setelah liputan usai. Katanya, semalam dia sama sekali tidak menerima penugasan. Lewat pager. Dari siapa pun.

“Pager-ku nggeletak, kayak lele mati,” ujarnya, mirip pelawak Doyok.

Pager dicopot dari pinggangnya, dilempar ke meja. Glodak...

“Lho.... lele mati,” ujarnya menunjuk pager.

Aneh. Berarti ada kelemahan pager. Semalam saya dengar Nani telepon Motorola, menyampaikan penugasan ke pager Umar.

Pagi itu Umar ke kantor berniat utang ke Mbak Endang, bagian keuangan. Dijawab Endang, tunggu hasil tagihan iklan, siang nanti. Uang di kas kosong.

Umar sabar menunggu.

Karena merasa belum ada tugas, sambil menunggu, dia masuk ruang redaksi.

Pilih komputer, duduk, Umar main digger (game zaman itu). Umar berani. Itu dilarang keras. Jika ketahuan Dahlan, gawat. Dahlan bakal menggebrak-gebrak meja. Katanya, itu pemborosan listrik dan tidak bermanfaat bagi JP.

Di meja kerja belakang Umar, ditempati cewek. Mereka duduk saling membelakangi. Hanya mereka berdua di ruang redaksi, pagi itu.

“Cewek cuma kelihatan rambutnya, sebab terhalang sandaran kursi. Kayaknya cewek bagian iklan,” katanya.

Posisi duduk saling membelakangi, otomatis Umar melihat layar komputer si cewek. Sama-sama main digger. Bahaya... jika Dahlan datang.

Telepon kantor berdering (dari saya di lapangan) cewek beranjak. Mendatangi meja telepon. Mengangkat telepon.

Umar kaget.

“Sebab cewek iku ternyata Mbak Nani.....” katanya.

Lebih kaget lagi, Nani marah-marah. Jingkrak-jingkrak. Menyebut-nyebut nama Umar.

“Dasar, wartawan gombal semua,” teriak Nani.

Duh, Gusti... Untungnya posisi Nani berdiri membelakangi Umar.

Sadar bahaya, Umar berdiri. Beringsut, mengendap-endap. Peluang kabur masih ada. Harus cepat.

Tapi, astaga.... pada saat bersamaan, pembicaraan telepon usai. Nani membanting gagang telepon. Praaak...

Umar sudah bergerak. Tapi telat. Justru dia langsung berhadapan hidung dengan Nani.

Mati…

Sejenak mereka sama-sama tertegun. Sama-sama kaget. Menarik napas.

Nani berkacak pinggang. Wajahnya memerah, melihat komputer Umar bergambar digger.

Beberapa detik. Nani memuntahkan amarah:

“Ternyata... kamu ngumpet disini... Main digger…”

Rahang Umar terkatup. Kaku terkunci. Dia berusaha tersenyum.

Nani tambah marah: “Cepat pergi, wartawan gombal....” teriaknya, menggebrak meja.

Umar melompat menuju pintu. Kabur…

Tapi, ia balik lagi. Lho... lho... kenapa?

Alamaaak…. Tas kameranya ketinggalan. Sial banget. Saat mengambil tas itulah dia menghadap-lengket monitor komputer Nani: Digger.

Nani tambah panas. Berusaha mencopot sepatunya, sepatu hak tinggi. Tapi saat sepatu hendak dilemparkan, Umar sudah mencetat, melabrak pintu, ngaciiir….

Nani masih mengejar.

Dengan langkah dingklang (tergeol-geol) karena pakai sepatu sebelah, Nani merangsek ke pintu.

Sepatu diacungkan tinggi-tinggi.

Namun, saat pintu dia buka, Umar sudah menyelinap di halaman parkir. Cepat luar biasa...

Vespa tua Umar distarter gak hidup-hidup. Whadow…

Sebelum Nani nyusul ke halaman, membawa sepatu, Umar mencengkeram kopling. Masuk gigi dua, Vespa didorong sambil lari. Kratak… kratak… krataaaak….

Mesin Vespa hidup setelah terbatuk-batuk. Nasib… Utangan gak dapat, nyaris dapat sepatu.

SESI FOTO BERAR FATHIA

Pantas saja, sewaktu Umar tiba di konferensi pers yang sudah bubar, wajahnya kuyu. Saya protes Umar, karena nyaris kehilangan momen foto.

Umar malah membalas sengit:

“Sampeyan jangan cuma mencela. Saya ini tidak ditugasi, tahu-tahu didamprat Nani.”

Kami berdebat. Tapi sudah dilerai Berar:

“Sudah... sudah... ayo cepat foto.”

Umar pun bekerja.

Tiba-tiba saya sedih. Terbayang, fotonya pasti bakal jelek. Tidak ada suasana konferensi pers.

Umar ternyata memikirkan itu juga. Setelah beberapa jepretan, ia berhenti lalu celingukan. Ada tiga pembantu wanita yang mengemasi sampah, dipanggil Umar.

“Ayo, mbak... kalian duduk disini, menghadap kesana,” kata Umar, jadi sutradara.

Ada lagi dua lelaki, mungkin office boy, digeret Umar juga supaya ikut duduk berderet di kursi yang tadi untuk wartawan.

Sedangkan Berar diatur, duduk di tempatnya bicara tadi, di depan mikrofon.

Sutradara Umar mengatur: “Tolong…. Ibu Berar ngomong apa saja di mike.”

Berar menuruti. Cuap-cuap di mikrofon yang mati.

Umar belum puas: “Tolong Bu... tangannya bergaya, menunjuk saya. Nah... bagus. Sekarang tangan mengepal, meninju atas....”

Saya tetap saja was-was.

Dalam perjalanan pulang, sama-sama naik motor, saya usul, foto pembantu dan office boy sebaiknya gak usah dicetak. Bisa bahaya.

Tapi pembicaraan kami tidak efektif. Sama-sama sedang nyetir motor. Lantas kami berpisah, liputan lagi ke tempat lain.

Jelang sore saya ngetik, Umar datang langsung membuat kopi di dapur.

Nani muncul, mendekati saya:

“Bagaimana hasilnya, dwo?”

Saya tegas: “Pokoknya semua koran lain kalah di edisi besok.”

Nani mendesak, “Mengapa bisa begitu?”

“Analisis saya.... berdasar back ground Berar, dia memang gila. Dan, wartawan lain tak wawancara sedalam ini.”

Wajah Nani pun ceria. Dia pesan: “Tulis detil seperti biasa, ya…” ujarnya meninggalkan saya.

Dia lalu mencari Umar. Bakal seru, nih…

Umar ngumpet. Ngopi di dapur. Begitu ketemu, Nani pasti hanya tanya foto Berar. Tidak tanya lain-lain.

Lewat dinding kaca, saya mengamati Umar membuka tas besarnya. Mengeluarkan beberapa foto Berar sendirian. Sudah betul. Mantap.

Tapi Nani minta lebih. “Mana yang lain? Mana konferensi pers?”

Umar ogah-ogahan merogoh tasnya. Sibuk mencari-cari di dalam tas besar. Terasa lamban. Akhirnya dia mengeluarkan beberapa foto lagi.

Aduh, biyung.... foto itu.

Nani tertegun memandangi foto-foto 'konferensi pers’. Diamati teliti. Wajahnya mengkerut sambil geleng-geleng.

Meledak amarahnya:

“Ini bukan konferensi pers. Tapi foto babu-babu….” teriaknya sambil membanting foto-foto ke meja. Bertebaran.

Umar berusaha menjelaskan, tapi Nani keluar kantor. Pergi begitu saja sambil mengumpat-umpat.

Umar tak mau kalah, pergi juga.

Kalau begini saya yang repot. Saya ambil foto-foto Berar yang berserak di meja. Foto Berar sendirian, saya serahkan ke Totok (saat itu OB) untuk dibawa ke bandara.

Di bandara Cengkareng nanti, Totok akan titipkan foto-foto itu ke penumpang pesawat tujuan Surabaya. Nah… di Bandara Juanda, Surabaya, orang JP menjemput si volunteer.

Penjemput akan tahu volunteer, setelah Totok telepon ke kantor JP Surabaya. Menyebut rincian ciri-ciri volunteer.

Begitulah 'teknologi' JP kirim foto di zaman itu. Hemat pangkal hebat.

Malamnya, pager saya bergetar. Pesan dari Umar: “Ditunggu di tempat biasa.”

Pekerjaan selesai, saya meluncur ke Biliar Rodeo di Blok M. Itulah tempat biasa saya dan Umar. Kami main biliar. Ketawa-ketawa. Teriak-teriak. Bebas.

Tamat.

Kisah ini saya dedikasikan buat wartawan JP angkatan ‘Pesawat Take-off’. Yang kini jualan kopi, nyeduh sendiri. Jualan tahu tek-tek, ngulek sendiri. Jualan nasi uduk, suami-isteri. Sopir taksi Grab.

Dagang gorengan, lontong isi kentang, nasi kucing sambel tempe Rp 4.000-an. Garing-getir.

Jauhi bicara keadilan, bro... sist... Semua orang menuntut keadilan. Padahal keadilan hakiki hanya milik Sang Khalik.

(Jakarta, 9 Agustus 2017)

***Disalin dengan izin dari situs CowasJP.com.

0 komentar:

Posting Komentar