Jumat, 25 Agustus 2017

Kisah Pita Kuning di Pohon Oak Tua

ilustrasi


TAHUN 1971 New York Post menulis kisah nyata tentang seorang pria yang hidup di sebuah kota kecil di White Oak, Georgia, Amerika. Pria ini menikahi seorang wanita yang cantik dan baik. Sayangnya tidak pernah dia hargai. Dia tidak menjadi suami dan ayah yang baik. Sering pulang malam, mabuk, dan memukuli anak dan isterinya.

Satu malam dia memutuskan mengadu nasib ke New York. Dia mencuri tabungan isterinya, lalu naik bus ke utara, ke kota besar, ke kehidupan baru. Bersama beberapa temannya dia mulai bisnis baru. Untuk beberapa saat dia nikmati hidupnya. Sex, gambling, drug. Dia nikmati semuanya.

Bulan-tahun berlalu. Bisnisnya gagal. Dia mulai kekurangan uang. Lalu terlibat tindak kriminal; menulis cek palsu dan menggunakannya untuk menipu. Polisi menciduk dan halim menjebloskannya ke penjara. Tiga tahun lamanya.

Menjelang akhir masa hukuman, dia rindu rumah. Rindukan istri. Rindu keluarga. Akhirnya memutuskan menulis surat kepada istrinya, menceritakan betapa dia menyesal. Bahwa dia masih mencintai isteri dan anak-anaknya.

Dia berharap masih boleh kembali. Namun juga mengerti, mungkin sudah terlambat. Karena itu dia akhiri suratnya dengan menulis, “Engkau tak perlu menunggu aku. Namun jika masih mungkin, maukah kau menerimaku kembali?"

"Jika kau masih menerimaku kembali, ikatkanlah sehelai pita kuning bagiku, pada satu-satunya pohon oak di pusat kota. Apabila aku lewat dan tidak menemukannya, tidak apa-apa. Aku mengerti. Aku tidak akan turun dari bus, dan akan terus menuju Miami. Aku berjanji tidak akan pernah lagi mengganggumu dan anak-anak seumur hidupku.”

Akhirnya hari pelepasannya tiba. Dia sangat gelisah. Dia tidak menerima surat balasan dari isterinya. Dia tidak tahu apakah isterinya menerima suratnya atau sekalipun dia membaca surat, apakah dia mau mengampuninya? Dia naik bis ke Miami, Florida, melewati kampung halamannya, White Oak. Dia sangat sangat gugup. Seisi bus mendengar ceritanya, dan mereka meminta sopir bus itu, “Tolong, pas lewat White Oak, jalan pelan-pelan. Kita mesti lihat apa yang akan terjadi”.

Hatinya berdebar-debar saat bus mendekati pusat kota White Oak. Dia tidak berani mengangkat kepala. Keringat dingin mengucur deras. Akhirnya dia melihat pohon itu. Air matanya menetas.

Dia tidak melihat sehelai pita kuning. Tidak ada sehelai pita kuning. Tidak sehelai. Tapi seratus helai pita kuning, bergantungan di pohon Oak itu. Ooo, seluruh pohon itu dipenuhi pita kuning!

Kisah nyata ini menjadi lagu hits nomor satu tahun 1973 di Amerika. Sang sopir langsung menelpon surat kabar dan menceritakan kisah ini. Seorang penulis lagu menuliskan kisah ini menjadi lagu, “Tie a Yellow Ribbon Around the Old Oak Tree”. Dan ketika album ini dirilis Februari 1973, langsung menjadi hits pada April 1973.

Lagu itu dinyanyikan oleh Perry Como, juga Tonny Orlando & The Dawn. *
Lagunya bisa didengarkan di sini.

*Sumber gambar: pinterest 

0 komentar:

Posting Komentar