Minggu, 20 Agustus 2017

Mendobrak Penjajahan Jumudnya Pola Pikir

ilustrasi

Refleksi kemerdekaan yang menarik dari keluarga besar Pondok Pesantren Gontor tentang pentingnya menanamkan semangat wirausaha demi kemajuan bangsa. Selamat membaca.

Ditulis oleh Hasan elmore

Manuver yang digetarkan berkali-kali setiap awal tahun di Gontor, yakni pondok tidak mendidik santrinya untuk menjadi pegawai negeri (mental buruh & karyawan), adalah kontribusi besar pemikiran "trimurti" agar bangsa ini bisa benar-benar lepas dari "jerat-jerat penjajahan global".

Tentu pemikiran cerdas tersebut bukanlah berarti sama sekali melarang santrinya untuk menjadi pegawai (PNS),  melainkan agar jangan hanya gara-gara berada di lingkaran PNS kemudian kehilangan "mental-skill", alias mental kreatif .

Diksi atau penekanan makna dari ide trimurti adalah agar para santri dimanapun ranahnya dan apapun profesinya, tetap bermental-skill, kreatif, inovatif , visioner --"tidak bermental buruh" .

Oleh karenanya, Gontor mengajarkan pada para santrinya secara ekskul berupa "kesenian dan wirausaha". Sebab aspek seni-budaya dan mental wirausaha adalah hal-hal yang lekat dengan potensi kreativitas. Sedang mental kreatif itu sendiri adalah "instrumen pokok untuk menuju kemajuan" , termasuk kemajuan menuju kemerdekaan ekonomi kerakyatan yang kini sedang dirindukan anak bangsa.

Diakui atau tidak, bahwa PR raksasa bangsa ini adalah terhimpitnya ekonomi kerakyatan yang makin parah . Agenda yang mengacu pada "pemerataan ekonomi" bisa dibilang "telah terkubur".

Nah faktor krusial yang jadi penyebabnya adalah karena rata-rata pemikiran anak bangsa masih berkutat pada orientasi untuk menjadi pegawai, (baik di pemerintahan maupun perusahaan swasta), duduk manis di belakang meja, gajian rutin bulanan dan tunjangan pensiun dihari tua.

Sungguh pemikiran bapak Trimurti bisa dibilang "melampaui zaman". Kenapa? Sebab , di saat hari ini anak bangsa tengah kebingungan mencari-cari jati-diri keekonomian, Gontor (Trimurti) telah memikirkannya sejak 90 tahunan yang lalu .

Jauh-jauh tahun Gontor telah mengajarkan santrinya agar tidak hanya menjadi penduduk lokal-nasional saja, tapi juga menjadi penduduk global-internasional. Itu semua tercermin dari konsep 3 bahasa serta panca jiwa dan motto-nya . Gampangnya, Gontor adalah konseptor-konseptor peradaban Islam kontemporer" .

Dari uraian singkat ini, agaknya mudah kita simpulkan bahwa pemikiran Trimurti Gontor adalah memproduk tunas-tunas muda anak bangsa agar menjadi insan-insan kreatif, insan-insan majikan, insan-insan bos, tapi tetap bermental santri. Tidak silau dengan rayuan fatamorgana duniawi.

Pendek kata, Gontor ingin memproduk insan-insan kreatif dan berkualitas di berbagai bidang kehidupan. Yakni penceramah, kiai, dosen, ustaz, wirausahawan, seniman, budayawan , dan lain-lain.

Masih terngiang hingga kini kalimat heroik dari bapak kiai yang intinya sebagai berikut, "Lebih baik kamu jadi majikan meski kecil, daripada menjadi buruh di perusahaan orang lain."

So, ketika rata-rata anak bangsa telah memiliki mental-skill, bukan job-skill (mental pegawai), bisa diprediksikan bahwa warga Nusantara ini akan menjadi bangsa yang sebenar-benar merdeka.

Sejak dulu pun Islam telah mengajarkan pemeluknya agar sering bertafakkur alias merenung dan kreatif sesuai bidangnya masing masing .

Allahu a'lam
Refleksi
Kudus : 18/8/2017

***Disalin dari grup WA Subulana I

Sumber gambar: act.id 

0 komentar:

Posting Komentar