Selasa, 01 Agustus 2017

Petualangan Mencari Sepak Bola Gajah

ilustrasi

Sebuah kisah menarik dari wartawan senior Jawa Pos, Djono W Oesman tentang pengalamannya mendapat tugas mencari informasi tentang pelatihan Gajah. Sebuah cerita yang menarik dan perlu dibaca oleh para wartawan di Indonesia. Selamat menikmati.

INI CERITAKU, MANA CERITAMU?

Ditulis oleh Djono W Oesman

Dahlan Iskan WA ke saya, Kamis kemarin: “DWO, saya kehilangan kontak ketua Lupus Surabaya. Bisakah dibantu?” Busyet... pikirku. Mana kenal aku dengan yang dicari? Mengapa minta tolong saya, bukan wartawan lain? Mengapa tidak dicari via internet?
---------------

Memang, saya wartawan Jawa Pos 24 tahun. Jabatan terakhir: Redaktur Pelaksana Indo Pos (Jawa Pos edisi Jakarta). Saya mantan anak buah Dahlan.

Memang, saya penulis novel true story Lupus: 728 Hari. Best seller di Gramedia, setahun lalu. Kini di-film-kan, berjudul “Jangan Salahkan Tuhan”. Diperkirakan Desember 2017 beredar.

Trus... mengapa tanya saya?

Tapi, gak masalah. Saya juga kangen penugasan dari dia. Seperti dulu.

Dulu, wartawan Jawa Pos tidak bertanya lagi, setelah ditugasi. Tidak ada penolakan, tidak ada pertanyaan. Doktrin: Tugas... kerjakan...

Seandainya ada wartawan bertanya: “Nama orangnya siapa, pak?” atau “Alamatnya dimana?”

Maka, Dahlan akan balik bertanya: “Anda ini wartawan atau tukang pos? Kalau tukang pos, maka saya beri nama lengkap, alamat lengkap, nomor telepon.”

Padahal, Dahlan juga tidak tahu nama dan alamat orang yang akan diwawancarai wartawan.

Prinsipnya: Wartawan jago mencari. Ibarat, sampai lubang semut pun, harus dapat. Meskipun sangat banyak lubang semut. Setelah ketemu lubangnya, tangkap seekor yang dicari. Idiiih...

NONTON GAJAH MASAK SAYUR, Yuuk...

Suatu pagi 1995 Dahlan menugasi saya begini: “Dwo, di Lampung ada pelatihan gajah. Banyak gajah dilatih bisa apa saja, membantu tugas manusia. Bagus untuk features.”

“Siap... pak. Saya berangkat...”

Dari Jakarta, saya siap meluncur. Ogah bertanya, Lampung sebelah mana? Gang berapa? Atau siapa nama pelatihnya? Daripada diledekin “tukang pos”?

Yakin... Dahlan dengar itu dari omongan orang. Rumor. Katanya. Konon. Indikasinya: Penugasan tidak detil. “Membantu tugas manusia” seperti apa? Membajak tanah? Membabat hutan? Main sirkus?

Dari kantor Jawa Pos, saya pulang, ngajak isteri: “Mau jalan-jalan ke Lampung, sayang? Rekreasi, nonton gajah dilatih masak.”

“Masak makanan manusia?”

“Makanan gajah, ‘kan gak perlu dimasak...”

“Mau... mau... mau...”

Berangkatlah kami naik motor ke Lampung. Berdua. Isteri di boncengan memeluk saya. Dia berkacamata hitam. Kerudungnya berkibar-kibar ditiup angin. Kayak Galih dan Ratna. Asyik...

Tiba di Metro, pusat Bandar Lampung, hari sudah siang. Kami makan di restoran. Isteri melepas kacamata, jelaslah kecantikannya. Ada stempel kacamata di seputar matanya. Dia tambah cantik.

Sebelum makan, saya menyapa pelayan restoran:

“Mbak, tempat latihan gajah dimana, ya?”

“Latihan gajah? Saya nggak pernah dengar, mas.”

“Kalau tempat gajah dikumpulkan?”

Mbak itu berpikir. Matanya melirik ke atas. Mungkin dia mencerna, pertanyaan nomor satu dan dua, mirip saja. Lalu menjawab:

“Gajah disini banyak, menyebar di hutan.”

“Ya udah, mbak... Terima kasih.”

Isteri melirik ke saya. Sambil makan, dia bertanya ke saya:

“Mas nggak tau tempatnya?”

“Titik persisnya gak tau.”

Dia sepertinya maklum.

DARI WARUNG ke WARUNG

Usai makan, kami touring lagi. Arahnya ngawur. Berhenti di sebuah rumah makan. Kami masuk. Saya pesan teh botol. Isteri gak pesan sama sekali.

Kepada pelayan, saya bertanya: “Tempat latihan gajah dimana, mbak?”

“Wah... saya gak tau, pak,” jawabnya.

Saya beranjak dari duduk, mendekati beberapa pengunjung yang sedang makan. Satu per satu. Mengajukan pertanyaan sama. Semua menjawab sama: Tidak tahu.

Isteri heran, bertanya:

“Penugasannya bagaimana, mas?” tanyanya.

“Ya... biasa.”

“Lokasinya?”

“Lampung.”

Dia ketawa. Mungkin di benaknya terbentang peta Lampung. Terbayanglah, mencari jarum di tumpukan jerami.

Kagak pake lama, kami cabut. Melaju ke arah pinggiran kota. Logikanya, kalau orang-orang di pusat kota tidak tahu, mestinya di pinggiran kota.

Di warung pinggiran kota kami singgah. Pengunjungnya hanya kami berdua.

“Pesan kopi hitam...” kataku ke wanita pemilik warung.

“Kamu pengen apa, dik?” tanyaku ke isteri.

“Pengen pulang...” jawabnya ketawa.

Pemilik warung sok ramah, ikut ketawa. Dia saya tanya lokasi pelatihan gajah. Tawanya terhenti. Lantas menjawab: Tidak tahu.

Saya merenung, isteri tambah cekikikan. Habis, deh...

Biasanya tak sesulit ini. Maksimal, tujuh-delapan kali bertanya, sudah dapat. Kini kayaknya isteri kecewa. Ternyata tidak:

“Aku becanda pengen pulang. Sebenarnya pengen tau, setangguh apa suamiku.”

“Hayo... kita buktikan,” ujarku, berangkat lagi.

Motor menyusuri pinggiran kota. Kebon di kiri-kanan jalan. Ketemu toko kelontong, saya beli rokok. Tanya latihan gajah ke ibu pemilik warung. Dia menggeleng.

Tapi, dia seperti ingat sesuatu: “Sebentar... saya tanyakan suami,” ujarnya masuk rumah. Suaminya keluar, berkata: “Teman saya pernah cerita, itu di Lampung Timur.”

“Desanya?” tanya saya.

“Tidak tahu.”

“Desa ini Lampung mana?”

“Lampung Utara.”

Saya melihat matahari, menentukan posisi. Lalu berangkat ke timur. Melaju di jalan pedesaan yang sepi. Udara desa nan segar. Sampai ketemu pasar, barulah bertanya lagi.

“Ow... itu di Way Kambas. Pelatihnya orang Thailand, ‘kan?” kata seorang pemuda.

“Dimana itu?”

“Terus kesana... Masih jauh. Tanya orang disana.”

Makin lama petunjuk makin jelas. Mengarah ke hutan.

Suit... Suiiiit... PERTANDINGAN DIMULAI
Akhirnya ketemu. Motor dititipkan di rumah warga yang kemudian mengantar kami ke lokasi. Jalan setapak 3 Km menuju rumah gubuk di pinggir lapangan.

Dari gubuk keluar seorang pemuda bertelanjang dada. Kami berkenalan. Dia bicara bahasa Inggris aksen unik. Ow... inilah pelatih gajah dari Thailand.

Tapi, tidak kelihatan gajah di lapangan ini?

Pelatih memasukkan jarinya ke mulut. Bersuit-suit kencang. Sekitar sepuluh menit, muncul tiga gajah dewasa dari rerimbunan hutan. Gajah paling depan ditunggangi seorang pemuda.

“Nah... dia juga pelatih, orang Lampung,” ujar bapak pengantar, menunjuk pemuda di atas gajah.

Itu pelatih pemula. Diajari pelatih Thailand. Mereka berdua tinggal di gubuk. Si Lampung belajar jadi pelatih, si Thailand belajar bahasa Indonesia. Komunikasinya bahasa Tarsan.

Pelatih Lampung mengatakan: “Pelatih Thailand didatangkan pemerintah, dua bulan lalu. Trus dia diminta pak bupati, ngajari saya jadi pelatih.” Kami mulai wawancara, sambil berdiri di teras gubuk.

“Gajahnya dilatih apa saja?” tanyaku.

“Sepak bola.”

“Whuiiik... saya ingin lihat gajah main bola.”

Dia memberi kode tangan kepada si Thailand. Lalu, Thailand bersuit-suit. Tak lama, dari rerimbunan hutan muncul lima gajah dewasa.

Segera, dua pelatih gajah itu menancapkan tonggak-tonggak bambu di lapangan. Membentuk tiang gawang.

Lapangan (seluas setengah lapangan bola) jadi arena. Kode-kode suitan, jadi perintah delapan gajah membentuk formasi 4 – 4. Berhadap-hadapan.

Para pelatih menunggangi masing-masing leader tim. Pelatih Thailand mendekap bola warna putih, seukuran bola basket.

Lalu, suit... suit... suiiiit....

Luar biasa... Para gajah membentuk formasi. Tiga mundur. Salah satunya mendekati gawang. Ow... keeper. Gerakan kompak antar tim, diberi nama tim Gogo dan Gaga.

Dilihat dari atas, tampak titik segi empat, masing-masing leader paling depan, berhadapan.

Priiiit... pluit ditiup pelatih Thailand. Bola dilempar ke dekat kaki gajah. Dimulai...

Tercengang... Tiba-tiba sudah ada puluhan penonton anak-anak dan orang tua, mengelilingi lapangan. Mungkin mereka datang, karena sudah hafal suitan-suitan pelatih gajah.

Maka, hutan yang semula sepi, kini heboh. Sorak-sorak gempar. Ketawa cekikikan.

Anehnya, para gajah kian bersemangat oleh sorakan. Lapangan luas jadi terasa sempit. Para gajah berebut bola. Meskipun mereka hanya berlari kecil, tapi langkahnya lebar-lebar.

Kini tim Gogo menguasai bola. Leader menggiring, menggojek bola. Mengarah ke gawang lawan. Pada jarak tembak lima meter, bola ditendang keras. Daaak...

Alamaaak... keeper Gaga... sejak tadi ndeprok (setengah tidur) melintangi gawang.

Alhasil, bola nyungsep, melesak ke sela perut keeper. Hilang. Tertindih gendutnya.

Puluhan penonton ketawa... pecah berceceran. Ibu-ibu terpingkal-pingkal. Melonjak-lonjak. Kulirik isteriku ketawa terheran-heran. Ikutan sorak-sorak.

Keeper Gaga berdiri. Bola ada di bawahnya. Lalu ditendang ke tengah lapangan.

Bola diterima lembut di kaki tim Gogo. Digocek sebentar. Lalu dioper ke leader.

Kembali, leader Gogo menggiring bola. Jalan santai, glinuk-glinuk... menggiring bola. Arahnya jelas... gawang lawan. Lurus... Sudah dekat... Tembakan keras....

Tapi, keeper Gaga sudah mengantisipasi, bro...

Ndeprok lagi. Bola lenyap ditelan lipatan perutnya.

Penonton bersorak berantakan. Seru... Sungguh, lebih dahsyat dibanding sepak bola manusia.

Saya pikir, gol tidak bakal tercipta. Tendangan rata-rata pelan. Jadinya bola menggelinding. Sedangkan, lebar gawang sekitar tiga meter. So... kalau keeper sudah ndeprok, habis-lah sudah.

Tapi, tunggu dulu. Kini bola dikuasai Gaga. Digiring leader-nya mendekati gawang. Cuman, tidak lurus ke gawang, melainkan di area kiri luar. Sehingga keeper Gogo belum mengantisipasi.

Mendadak, tembakan Gaga menyamping. Bola dikepret belalai. Menggelinding arah gawang. Keeper Gogo tetap berdiri, melihat bola meluncur. Awaaas...

“Goool....” teriak penonton.

Sorak-sorai menggelegar membahana. Penonton tepuk tangan, jingkrak-jingkrak. Gemuruh kalang-kaleng ditabuh. Luar biasa...

Seorang bocah berlari mengambil bola. Lalu melemparkannya ke pelatih Thailand.

Peran penonton vital. Mereka berfungsi sebagai garis pembatas. Sehingga bola tidak pernah out. Tinggal ditendang penonton ke tengah lapangan.

Saya heran, mengapa gajah tidak membelit bola dengan belalai? Lantas membawanya berlari? Lebih gampang. Sebab, belalai lebih aktif banding kakinya.

Ternyata pelatih mengatakan, itu sudah dilatih. Bola harus ditendang. Baik oleh kaki, maupun dikepret belalai. Dilarang dibelit belalai. Hands-ball...

Setengah jam pertandingan usai. Skor 2 : 0 untuk tim Gaga (leader pelatih Thailand).

Kata pelatih, skor itu sudah diatur. Sesuai skenario. Caranya gampang. Keeper Gogo tidak pernah diperintahkan ndeprok...

Detil kisahnya saya tulis di Jawa Pos (saat itu). Khalayak pembaca antusias. Jadi buah-bibir. Sampai populer istilah “Sepakbola Gajah”. Artinya pertandingan bola, curang. Sudah diatur.

SURGA yang KURANG DIRINDUKAN

Whattsap Dahlan Iskan ke saya tentang Lupus, jadi nostalgia penugasan jurnalistik ke Lampung. Bahwa ada doktrin: Tidak mungkin wartawan gagal memburu. Sampai ke lubang semut...

Apalagi sekarang... serba gampang. Ada internet. Sekali klik... dapat.

Maka, setelah terima WA, saya googling.

Ternyata tidak sekali klik. Berkali-kali pun, tidak ketemu. Yayasan Lupus Indonesia (YLI) cabang Surabaya tidak gaul internet. Nomor telepon Ketua YLI pusat pun tidak diangkat. Telepon kantor YLI pusat di RS Kramat, Jalan Kramat Raya Jakarta, juga kosong.

Kantor YLI Surabaya di Jl Manyar Jaya XIV no 31 saya telepon. Penerimanya bernama Prita. Katanya: “Ini bukan kantor YLI. Cuma tempat kumpul Odapus. Tapi sudah lama mereka gak kumpul lagi.”

Saya tulis status Facebook. Mohon info. Pemberi info kudoakan masuk surga.

Lebih 100 likers. Dapat dua info: Ketua YLI Jatim, Rosita. Ketua Lupus Kirana Surabaya, Finda. Kontak mereka sudah saya serahkan ke Dahlan.

Apa kata pemberi info, soal doa masuk surga?

“Makasih pak. Saya cuma membantu.”

“Bukan karena doa masuk surga?”

“Hehehe... Andai benar, ya... Alhamdulillah.”

Dia terkesan gak yakin. Mungkin gara-gara judul film. Kini surga kurang dirindukan.

(Djono W. Oesman)

***Tulisan disalin dari grup WA Newsroom KPG

Sumber gambar ilustrasi: Reddit

0 komentar:

Posting Komentar