Selasa, 12 September 2017

Mempertanyakan Kesehatan Mental Para Jurnalis

ilustrasi

Banyak orang menilai pekerjaan seorang jurnalis atau wartawan sebagai pekerjaan yang keren dan menganggapnya sebagai sosok serba bisa. Nyatanya, apa yang terlihat tak selalu seperti yang dirasakan para jurnalis itu sendiri. Sebuah kisah berikut terbilang menarik untuk mengeksplorasi seperti apa menjalani profesi seorang jurnalis. Selamat membaca.

Ditulis oleh Philip Eil

Pertengahan 2013, saya menerima telepon dari pembaca bersuara serak yang "sewot luar biasa" sesudah membaca artikel tentang pernikahan sesama jenis, yang saya tulis. Di tahun yang sama, sesudah artikel saya membahas diskriminasi ras oleh media tayang, nama saya beberapa kali disebut di sebuah video monolog YouTube oleh "nasionalis berkulit putih" dan "pahlawan kaum kanan radikal." Video tersebut dilihat lebih dari 10.000 kali. Bagian komennya dibanjiri ujaran kebencian. Beberapa di antaranya ditujukan ke saya. 

Pernah saya ditelepon oleh pengadilan dan diminta menjadi saksi seputar kasus peredaran narkoba yang saya tulis. Saya akhirnya tidak jadi bersaksi di ruang sidang, tapi tetep aja panggilan itu agak bikin ngeri.

Saya juga pernah bekerja untuk sebuah tabloid mingguan yang kekurangan staf. Saya hampir tidak pernah libur selama 18 bulan, sebelum akhirnya menyaksikan surat kabar ini bangkrut setelah 36 tahun beroperasi. Saya kemudian disuruh menulis eulogi untuk edisi terakhir tabloid tadi. Pernah juga saya harus mengalami pertikaian panjang—dan akhirnya menjadi isu publik—dengan klien karena gaji saya sebagai jurnalis lepas tak kunjung dibayar. 

Saya berbagi semua pengalaman ini ke pembaca sekalian bukan untuk pamer—lagian karir jurnalisme saya biasa aja kok. Saya bukan koresponden medan perang atau reporter desk kriminal full-time. Saya juga tidak meliput Pemilu 2016 AS yang kacau itu. Seenggaknya saya tidak sampai apes kayak rekan wartawan lain yang dicekik narsum, digrepe pas liputan, dihujani ancaman pembunuhan atau hinaan anti-semit (kalau kamu ketahuan seorang jurnalis berdarah Yahudi). Saya juga bukan reporter perempuan di desk olahraga yang harus menghadapi pelecehan online gila-gilaan sebagai bagian dari rutinitas pekerjaan. Saya hanya seorang jurnalis biasa, yang setelah menghabiskan satu dekade dalam industri ini, mencoba mengevaluasi kondisi kesehatan mental saya secara jujur dan terbuka.

Beberapa tahun belakangan, saya merasa kondisi psikologis semakin memburuk akibat stres—kombinasi dari gelombang depresi, kecemasan, dan hipokondria. Saya merasakan hilangnya kepuasan sesudah bekerja; semacam awan negatif yang menyelimuti hidup seperti kabut—mungkin ada hubungannya sama stres akibat pekerjaan. Kemudian musim semi 2017, ketika mengerjakan artikel untuk sebuah majalah yang sangat sulit dan menghadapi berbagai peristiwa menantang dalam kehidupan pribadi, saya sadar sudah mengidap depresi klinis. 

Saya menyebut depresi yang saya idap kali ini sebagai "titik puncak". Sebab tidak seperti episode depresi ringan sebelumnya, kali ini saya tak bisa lagi bekerja ke lapangan, menulis, dan melibatkan aktivitas fisik lainnya. Ibaratnya bagian dari otak saya yang mengandung motivasi, energi, serta kemampuan mengolah ide disuntik dengan obat penenang. Saya merasa seperti zombie. Secara mental dan emosional, saya kelelahan. Kata keluarga atau kawan dekat, saya jadi pribadi yang sangat sinis.

Untungnya insting jurnalistik saya tidak padam sepenuhnya. Di sela-sela pergi ke gym, membeli makanan di luar, atau menonton film di atas kasur, saya mulai mencari jawaban dari pertanyaan yang selama ini menganggu: Mungkinkah menggeluti profesi sebagai jurnalis memberi efek buruk untuk kesehatan mental saya?

Beberapa tahun terakhir, ada banyak jurnalis yang secara terang-terangan menceritakan efek dari pekerjaan mereka yang mengganggu kesehatan mental. Pada 2014, kontributor Majalah Elle, Glynnis Macnicol menulis artikel yang berhasil menerangkan secara gamblang rasanya mengalami keletihan mental akibat tekanan profesi jurnalis. Setahun berikutnya, Huffington Post merilis laporan berseri dalam lima bagian tentang kesehatan mental di dalam ruang redaksi, seorang reporter kawakan Mac McLelland menerbitkan sebuah buku tentang pengalamannya bergelut dengan PTSD, setelah dia meliput gempa bumi di Haiti. Patut juga kita simak Gene Demby dari NPR yang menulis pengalamannya sebagai jurnalis kulit hitam selama melaporkan berita rutin tentang kematian etnisnya sendiri. Dibanding berita-berita lain di media, artikel-artikel tentang kesehatan mental para jurnalis memang belum mendapatkan banyak perhatian. Paling tidak percakapan antar sesama jurnalis soal kesehatan mental mulai terjadi. 

Para ahli psikologi dan neurosains sejak lama mengatakan jurnalisme tertinggal jauh dari profesi lain dalam hal penanganan trauma. Guru Besar Bidang Psikologi dari University of Toronto, Anthony Feinstein, pernah mengadakan penelitian tentang kesehatan mental para jurnalis di seluruh dunia diterbitkan oleh Nieman Report. Responden berasal dari Meksiko, Iran, Kenya hingga para kontributor media-media di medan perang. Dalam penelitian itu Feinsetein mengaku mulai tertarik mendalami topik ini sejak akhir 1990-an. Sayangnya, setelah melakukan "pencarian menyeluruh terhadap catatan medis dan psikologi, bahkan di dunia sastra, saya gagal menemukan satupun artikel tentang kesehatan mental jurnalis." 

Belakangan penelitian tentang kesehatan mental jurnalis mulai lebih banyak dilakukan, setidaknya di Amerika Serikat dan Eropa. Dart Center dari Columbia University memiliki banyak informasi yang luar biasa tentang topik ini—tapi budaya kerja yang mendukung wartawan menghadapi risiko depresi dan stres masih sangat kurang dan tertinggal dibanding profesi lainnya. "Kepolisian, pemadam kebakaran, atau pekerja kantor pos memiliki kultur organisasi yang lebih kuat dan pemahaman lebih baik tentang dampak negatif dari profesi mereka dan bagaimana harus mendukung kesehatan mental para pekerjanya," kata Elana Newman, profesor psikologi dari University of Tulsa sekaligus direktur penelitian di Dart Center. "Rasanya lebih mudah membicarakan kesehatan mental dengan personel militer AS dibanding dalam profesi jurnalisme." 

"Stigma yang menyelimuti kesehatan mental dalam dunia jurnalisme sangat besar," imbuh Elana.
"Sebagai seorang jurnalis, anda diharap selalu siap melaporkan tentang trauma. Anda ditekan agar tidak menjadi penderita trauma itu sendiri," kata Gabrial Arana, jurnalis lepas yang mengedit seri artikel kesehatan mental di Huffington Post. "Akibatnya, banyak rekan jurnalis menganggap ada semacam kewajiban profesional agar selalu kuat ketika mereka menderita, ketika mereka letih, atau mengalami depresi." Dia mengatakan kesan bahwa jurnalis harus menjadi manusia super yang bisa mengamati secara obyektif, tidak merasakan emosi apapun terhadap topik yang mereka liput, "sesungguhnya tidak benar dan justru membahayakan."

Saya menyadari, beberapa tahun ini terlanjur menuruti stigma-stigma tersebut. Wartawan harus kuat, jurnalis tidak boleh manja, kami harus berjarak dan tidak emosional ketika meliput isu-isu yang menyedihkan sekalipun. Saya ingat, sering berusaha meyakinkan diri sendiri kalau pekerjaan saya menyenangkan dan memuaskan. Saya sering berkata pada diri sendiri bahwa tidak mungkin profesi saya bisa berdampak negatif untuk pikiran. Saya belum menyadari saat itu melakoni pekerjaan impian kadang bisa menjadi mimpi buruk. 

Ketika saya tengah mengalami episode depresi puncak, semua perasaan itu berubah, dan saya bisa melihat secara lebih jernih bila profesi ini punya andil mengganggu kesehatan mental. Industri media kini juga sedang dalam posisi tertekan. Presiden Donald Trump menuding media massa sebagai "musuh dari warga Amerika." Jurnalisme adalah sebuah industri yang konon mengalami 'senjakala'. Ratusan ribu lapangan kerja di industri media cetak hilang begitu saja beberapa dekade terakhir. Perusahaan yang tersisa saat ini kadang tidak bisa menggajimu layak, nominalnya bahkan tak sampai upah rata-rata tahunan.

Menjadi seorang jurnalis memaksamu menyerap informasi mengenai bermacam aspek terburuk manusia. Mulai dari korupsi, perubahan iklim, kejahatan, pelecehan seksual anak-anak, dan masih banyak lagi. Ini adalah pekerjaan yang kerap dihantui tenggat, kompetisi, dan ekspektasi dari atasan di redaksi agar karya kita selalu "mendominasi percakapan di media sosial."
Satu dari berbagai macam faktor itu dapat mempengaruhi pikiran seseorang yang sehat dan kalem sekalipun, jika dia terus menerus bergelut dalam profesi jurnalis. Bayangkan kalau semua faktor negatif tadi muncul bersamaan—hasilnya akan muncul medan perang psikologis dalam kepala kalian. Kalian pasti ambruk!

Bagi saya, jurnalis lepas yang menjalankan semua peran sendirian—bikin jadwal wawancara, sekaligus CEO, nyambi jadi pengecek fakta, manajer, bahkan sampai ngurusin kerjaan akuntansi—tanggung jawab selalu sehat secara mental sangat menakutkan. Sekarang saya terlanjur depresi. Saya tidak akan lagi angkuh mengabaikan pentingnya kesehatan mental.

Musim panas ini, dalam fase depresi terburuk, saya menghabiskan enam minggu tidak melakukan apa-apa. Saya memberi waktu istirahat sepantasnya bagi tubuh. Rasanya sudah bertahun-tahun saya tidak ambil cuti atau libur. Mumpung saya sedang memantabkan hati buat istirahat, saya beli sebuah sepeda, mulai bermain golf, dan mengisi hari-hari tanpa kerja itu buat mengunjungi museum, nonton di bioskop, dan datang ke sesi terapi bareng psikiater secara reguler. Saya menghabiskan lebih banyak waktu bersama teman dan keluarga, termasuk sama keponakan yang masih bayi.

Saya mundur dari media sosial (ini terhitung penistaan bagi seorang jurnalis). Kadang, saya sengaja menghindari membaca berita. Seiring waktu, mood membaik dan saya kembali mendapatkan energi untuk bekerja; saya berhenti mencari lowongan pekerjaan di bidang lain. Akhirnya, saya bisa kembali menulis dan menggali berita. Saya berusaha menerapkan pola kerja yang lebih sehat bagi mental setelah tetap berniat menjadi jurnalis.

Saya mulai lebih aktif mengikuti percakapan seputar jurnalisme dan kesehatan mental, menggunakan platform apapun yang saya punya. Saya juga memberanikan diri berbagi cerita ke teman-teman jurnalis. Satu saran itu adalah keberanian untuk mengakui bahwa saya mengidap kecemasan dan depresi. Walaupun saya depresi, tidak otomatis saya akan menjadi jurnalis yang buruk. Setidaknya, keberanian mengakui punya masalah membuat saya menjadi seorang manusia seutuhnya. Tentu saja, ada saja jurnalis tangguh seperti Katy Tur yang tidak terpengaruh oleh hal-hal yang bisa bikin kita stres. Jujur, saya bukan salah satunya. Saya tidak bisa jadi wartawan sehebat itu. 

Saya sering terpengaruh oleh pekerjaan, kadang secara negatif. Saya mengakuinya. Dari percakapan saya dengan psikolog, saya belajar satu hal: mengabaikan isu kesehatan mental malah membuat seseorang jadi reporter yang kurang efektif. Feinstein mengatakan ke saya, wartawan yang mengabaikan kesehatan mentalnya bagaikan dokter yang sedang tidak sehat. Mana mungkin dia akan bisa membuat diagnosa yang akurat. "Ada risiko nyata ketika seorang jurnalis tidak sehat secara psikologis, ini bisa mempengaruhi hasil kerja mereka...Hasil tulisan mereka bisa sedikit berbelok dan tidak akurat."

Newman mengatakan apabila industri media memahami pentingnya kesehatan mental, maka dosen di jurusan komunikasi akan mulai banyak membahas hal-hal semacam ini: "Pekerjaan yang nantinya kalian lakukan sebagai jurnalis itu sulit dan pastinya membuat kalian letih. Coba kalian bikin paper membahas rencana kalian menjaga kesehatan mental dalam momen-momen seperti itu!"

Sayangnya, tidak ada yang pernah mengucapkan hal seperti itu ke saya semasa kuliah dulu. Saya harus belajar dari pengalaman pahit sendiri. Para jurnalis, percaya deh. Mengabaikan stres kerja hanya akan memperburuk dampaknya nanti.

Ketika sedang menulis artikel ini, saya menyempatkan ngobrol bareng Dean Yates, mantan kepala biro kantor berita Reuters di Irak. Tahun lalu dia melansir laporan luar biasa berjudul "The Road to Ward 17: My Battle with PTSD."

Di akhir wawancara kami, Yates—yang baru-baru ini memperoleh anugerah Journalist Mental Health and Wellbeing Advocate—mengatakan hal menginspirasi. Ketika dia berada di bangsal rumah sakit, dia bertemu dengan seorang polisi dan pasien PTSD lainnya yang mengatakan sangat penting agar Yates menggunakan pengalaman jurnalistiknya membahas topik kesehatan mental. Dia ingat, salah satu polisi yang mengidap trauma itu mengatakan, "kamu bisa menulis seperti apa rasanya menjadi penderita PTSD seperti saya...Kamu bisa membantu orang lain." 

"Jurnalis yang mengidap penyakit mental berada dalam posisi unik untuk bisa menceritakan cerita itu secara gamblang. Mereka bisa mengedukasi orang tentang kesehatan mental berkat pengalaman yang otentik," kata Yates. Bukan berarti setiap jurnalis harus menulis opini semacam itu ketika mereka depresi. Setidaknya mereka yang bersedia melakukannya bisa memberi dampak yang signifikan bagi pembaca. 

"Saya sempat menyimpan depresi yang saya alami akibat pekerjaan dalam waktu lama, dan saya merasa sangat kesepian," katanya. "Perasaan kesepian tersebut terasa sangat melumpuhkan."

***Disalin dari situs Vice.com

Sumber gambar: euromaidanpress.com 

0 komentar:

Posting Komentar