Selasa, 31 Oktober 2017

Jangan Bugil di Depan Kamera

ilustrasi

Ditulis oleh Lukman Maulana
Wartawan Metro Samarinda

JANGAN bugil di depan kamera. Judul ini dulu pernah digunakan dalam sebuah kampanye beberapa tahun lalu. Seperti namanya, kampanye tersebut mengajak masyarakat untuk tidak bugil di depan kamera. Dalam hal ini tidak merekam tubuh yang sedang tidak berpakaian ke dalam media kamera. Bisa itu pose tanpa busana, bisa juga adegan layak sensor yang semestinya hanya dilakukan pasangan yang sah.

Kalimat kampanye ini sengaja saya angkat kembali melihat fenomena belakangan ini yang cukup menyita perhatian masyarakat. Bukan hanya di Samarinda, bahkan viral sampai nasional. Yaitu beredarnya video mesum yang diduga dilakukan oknum pelajar Kota Tepian. Beredarnya video ini yang konon direkam 2016 silam menunjukkan bahwa kampanye jangan bugil di depan kamera masih jauh panggang dari api.

Saya terkadang heran dengan masyarakat zaman now, kalau boleh meminjam istilah kekinian tersebut. Ini bukan kali pertama ada oknum pelajar yang diketahui publik merekam adegan tidak senonohnya yang kemudian menyebar ke publik. Hal semacam ini sudah berkali-kali terjadi dan menjadi konsumsi umum. Tentu sangat miris.

Kejadian-kejadian yang telah lalu menunjukkan betapa video-video yang tak perlu tersebut memunculkan efek luar biasa bukan hanya bagi para pemerannya, juga bagi penyebar, dan mereka yang menyaksikannya. Semuanya mengalami dampak yang tidak baik, khususnya bagi pelaku video yang menurut saya pasti mengalami tekanan paling berat.

Ya, apabila identitas pemeran adegan intim tersebut diketahui, masa depannya tentu sangat terpengaruh. Sebagai masyarakat yang masih memegang kuat adat ketimuran, bocornya video mesum seperti itu akan memunculkan rasa malu baik bagi diri pribadi, keluarga, dan siapa saja yang berhubungan dengan sang pemeran. Menanggung aib seumur hidup jelas merupakan konsekuensi yang bakal dihadapi.

Sebenarnya merekam video hubungan intim dengan pasangan bukanlah menjadi masalah. Selama yang melakukan adalah pasangan yang sah secara hukum, serta tersimpan aman dan tidak menyebar. Yang menjadi masalah adalah ketika video tersebut bocor ke publik dan siapa saja bisa melihatnya. Ada undang-undang pornografi yang siap menjerat mereka yang merekam dan menyebarkan.

Lebih parah lagi bila mereka yang terekam kamera tersebut bukanlah pasangan suami-istri, bahkan masih tergolong anak-anak. Definisi yang bisa disematkan perbuatan yang terekam tersebut merupakan perzinahan, yang secara agama jelas merupakan sebuah dosa. Dosa besar malah. Bisa dibilang pelakunya merupakan orang tak bermoral, kalau boleh sedikit menghakimi.

Masalahnya adalah dosa yang ditanggung sang pelaku, pemeran video tersebut berdimensi banyak. Bukan sekadar dosa yang bisa terhapus dengan bertaubat sungguh-sungguh. Karena dosa ini hadir dalam wujud video yang bisa begitu mudahnya disebarluaskan kepada masyarakat. Jelas penyebaran ini bakal berdampak pula pada siapapun yang menyaksikannya, apalagi kalau ada anak-anak yang ikut melihat adegan tak pantas tersebut.

Faktanya adalah, ada begitu banyak warganet yang berburu video ini. Di setiap kolom komentar berita video ini, selalu saya temukan mereka yang meminta tautanvideo. Ada juga yang rela merogoh kocek demi bisa melihat video ini. Dan mengingat betapa anonimnya warganet, tentu kita tidak bisa mengetahui secara pasti apakah ada di antara anonimitas tersebut yang merupakan anak-anak atau remaja di bawah umur. Naudzubillahimindzalik. Apa jadinya bila para generasi penerus bangsa sudah dicekoki materi negatif sejak dini?

Efek pornografi sudah terbukti merusak otak, menurunkan kreativitas dan berbagai potensi lainnya. Apalagi kalau sampai ketagihan, tentu akan sangat membahayakan. Bahayanya bahkan melampaui bahaya narkoba, sampai-sampai ada istilah “Narkolema” alias narkotika lewat mata. Ibarat narkoba, kecanduan akan pornografi ini juga sangat sulit untuk disembuhkan.

Artinya adalah, pembuat video mesum, walaupun tidak punya niat menyebarkan, sama dengan peracik obat-obatan terlarang. Dan ketika video ini menyebar, “dosa jariyah” langsung diterima olehnya. Dan dosa ini sulit untuk dihapuskan selama rantai penyebarannya tidak diputus. Berbeda dengan dosa besar lainnya yang bisa diampuni selama pelakunya bertaubat sungguh-sungguh.

Sementara menghapus rantai peredaran video mesum yang terlanjur keluar bukanlah hal yang mudah. Bahkan bisa dikatakan mustahil, mengingat betapa masifnya penyebaran informasi melalui teknologi informasi yang di negeri ini lebih banyak disalahgunakan. Malahan cakupannya bisa lebih luas begitu video ini tersebar keluar negeri dan menjadi koleksi industri pornografi yang masyhur di sana.

Dari sini saja sebenarnya sudah jelas bahwa merekam video seperti itu adalah sebuah pintu menuju dosa besar yang bisa jadi tak terampuni. Apalagi kalau sampai yang direkam merupakan video perzinahan. Rasa malu mungkin bakal dibawa seumur hidup, dengan berapa banyak yang sudah menyaksikan tubuh telanjang itu, bahkan sampai menyimpannya sebagai koleksi.

Belum lagi sanksi sosial yang diberikan masyarakat dan lingkungan sekitar. Mulai dari dikeluarkan dari sekolah, diberhentikan dari pekerjaan, menjadi pergunjingan tetangga, sampai menjadi bahan olok-olokan di mana-mana. Rasa malu ini jelas akan sangat berat untuk ditanggung seseorang, bahkan keluarga pun akan berat menerimanya. 

Dan bisa saja apabila batas ketabahan diri sudah tidak mampu menahan rasa malu ini, bakal berujung pada tindakan terkutuk lainnya yaitu bunuh diri. Ini sungguh telah terjadi dan seharusnya tidak terulang. Maka tidak mengherankan bila pada kasus terkini, ada postingan yang konon berasal dari salah seorang pemeran video, meminta siapa saja untuk menghapus video tersebut. Sayangnya, nasi sudah menjadi bubur.

Sudah banyak kasus terjadi dan sudah banyak penderitaan yang dirasakan hanya karena keisengan dan kecerobohan yang tak perlu. Ada penyanyi yang kehilangan pamor, keluarga yang hancur berantakan, pegawai yang dipecat tidak hormat, dan mereka yang mengakhiri hidup dengan sia-sia gara-gara hal ini. Sayangnya semua pengalaman ini seakan dikalahkan oleh nafsu yang sudah membuncah, yang dibumbui sifat narsis manusia tanpa menyadari betapa kotak pandora menanti untuk dibuka.

Maka pikirkan hal ini matang-matang. Apakah kita mau merusak masa depan kita? Membuat malu keluarga kita? Merusak masa depan anak-anak penerus generasi? Anak-anak kita? Apakah kita mau anak-anak yang kelak kita lahirkan, menanggung malu atas apa perbuatan kita di masa lalu? Perbuatan konyol yang sebenarnya tidak perlu. Apa jadinya bila mereka mengetahui bahwa kita pernah berzina dan rekamannya dimiliki semua orang? Orang tua seperti apa kita ini.

Penekanan mungkin lebih diberikan kepada para pelajar. Sungguh ironis bila anak-anak kita yang semestinya belajar dengan baik di sekolah malah melakukan tindakan tidak terpuji nan memalukan. Perkembangan teknologi informasi yang begitu kencang bisa jadi salah satu sebab. Karenanya tugas orang tua di zaman sekarang menjadi semakin berat. Terutama dalam mengawasi pergaulan anak dan memberikan pemahaman apa yang boleh dilakukan, mana yang terlarang untuk dilakukan.

Anak-anak dan para remaja zaman now harus diberikan pelajaran agama, budi pekerti dan moral yang tepat. Peran orang tua dan juga para guru sangat diperlukan  dalam memberikan arahan dan motivasi untuk berprestasi. Mereka perlu diarahkan pada kegiatan-kegiatan positif yang memberi arti dan punya andil dalam masa depan mereka kelak. Tentunya semua ini perlu diberikan dengan pendekatan yang tepat, sesuai dengan zaman mereka saat ini.

Khususnya para remaja, mereka tengah berada dalam fase pencarian jati diri. Apa yang dilakukan saat ini lebih pada mencari hiburan dan bersenang-senang. Tanpa mengetahui dampak negatif yang bisa mereka alami di masa yang akan datang. Mereka tidak tahu bahwa apa yang mereka lakukan bisa berpengaruh jauh pada tahun-tahun mereka di depan, bahkan saat mereka nantinya menjadi dewasa dan berkeluarga.

Saya yakin bila pemahaman ini bisa diterima dengan baik, maka tidak akan ada lagi anak-anak atau remaja yang merekam tubuh polos mereka di depan kamera. Tidak ada lagi mereka yang berselancar di dunia maya mencari video-video nirguna. Mereka akan lebih banyak menghabiskan waktu untuk kegiatan-kegiatan yang bermanfaat. Belajar, beribadah, dan bersosial dengan baik. 

Kuatnya pengaruh-pengaruh negatif dari luar dapat diatasi dengan benteng karakter yang kuat seperti ini. Bukan lagi menyalahgunakan teknologi untuk hal yang tak perlu dan merusak, sebaliknya mereka akan memanfaatkannya dengan cara yang baik, yang bisa memberi manfaat bagi diri sendiri, keluarga, dan bangsa. Misalnya merekam informasi yang selain bisa berbagi ilmu, juga bisa mendatangkan keuntungan materi. 

Tapi dalam kondisi saat ini, saya rasa kampanye yang pernah didengungkan beberapa tahun lalu perlu untuk kembali dihidupkan. Yaitu ajakan untuk jangan sekali-kali bugil di depan kamera. Apapun alasannya, jangan pernah melakukannya. Bahkan sekalipun kita berhak melakukannya, tetap jangan pernah bugil di depan kamera. Pikirkan kembali, kalau perlu seribu kali. Selamatkan masa depan kita, keluarga kita, dan masa depan bangsa. (***)

Sumber gambar: pixabay

0 komentar:

Posting Komentar