Rabu, 11 Oktober 2017

Kebohongan Dwi Hartanto, Matinya 'Ruang Kritik'

Dwi Hartanto

Dwi Hartanto dan berbagai bualannya ramai jadi perbincangan warganet di media sosial. Namun yang menjadi pertanyaan, mengapa kebohongan semacam ini mampu menembus proses verifikasi media dan menjadi cerita inspiratif yang laku keras di internet?

Lewat klarifikasi di atas materai, pemuda yang bersekolah di Technische Universiteit Delft Belanda itu mengaku 'khilaf' telah mengedarkan informasi tak benar seputar kompetensi dan latar belakangnya di bidang teknologi dirgantara.
Klaim sebelumnya yang mengatakan Dwi jebolan Tokyo Institute Technology Jepang yang merancang wahana peluncur satelit untuk Kementerian Pertahanan Belanda dan mengerjakan proyek strategis Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS), seluruhnya bohong. Dia pun tidak pernah menyabet juara di lomba riset antar badan antariksa di Jerman dan tidak pernah diajak bertemu oleh mantan Presiden BJ Habibie.

Faktanya, Dwi lulus dari Institut Sains dan Teknologi AKPRIND Yogyakarta pada 15 November 2005. Seperti dikutip Tempo, Rektor AKPRIND, Amir Hamzah mengatakan Dwi lulus dengan predikat cum laude, menyandang predikat lulusan terbaik, dan punya indeks prestasi kumulatif 3,88. Kini dia sedang menyelesaikan program doktoral dalam kelompok riset intelijensi interaktif, dan bukan sebagai asisten profesor seperti yang dibualkan.

Menurut Dwi, dua pekan terakhir pihak universitas TU Delft menggelar rangkaian sidang kode etik terhadap dirinya. Sampai klarifikasi ditulis, universitas masih dalam proses pengambilan sikap. ''Prestasinya lumayan ya, tanpa dia harus berbohong dia sebenarnya oke juga loh. Sayangnya dia melebih-lebihkan dan melakukannya secara sengaja,'' kata Koordinator Gerakan Bijak Bersosmed, Enda Nasution. ''Itu mungkin yang tidak bisa dimaafkan.''

''Saya melihat kayaknya ada kerinduan yang sangat tinggi untuk mendapatkan informasi yang positif tentang Indonesia. Sehingga kalau ada prestasi-prestasi orang Indonesia di luar negeri, kita jadi hiper-heboh,'' kata dia.

''Bahkan ada orang Indonesia masuk jadi marinir saja di Amerika Serikat, kayaknya buat kita sudah menjadi sebuah berita.'' Enda melihatnya sebagai 'sindrom minder', akibat merasa kurang percaya diri saat dibandingkan dengan negara lain.

''Saya melihatnya ini bukan fenomena, tapi sindrom mindernya yang masih ada. Kita merasa kurang percaya diri kalau dibandingkan dengan negara lain, seolah-olah kalau ada sesuatu yang datang dari negara lain atau sesuatu yang punya prestasi di negara lain menjadi suatu yang perlu. Tidak salah sih, tidak salah banget. Cuma jangan juga sampai buta,'' kata dia.

Di era medsos, lanjut dia, mudah sekali 'menyampaikan sesuatu yang tidak selalu benar dan tidak selalu orisinal'. Tapi sebaliknya, zaman informasi pula yang membuat proses verifikasi jauh lebih mudah.

Sejumlah media besar yang terlanjur memberi panggung bagi kebohongan Dwi Hartanto termasuk sederet media andalan seperti Detik, Tempo, dan program Mata Najwa di Metro TV. Di program Mata Najwa misalnya, Dwi bahkan disanjung sebagai orang non-Eropa pertama yang masuk dalam lingkaran penting Badan Antariksa Eropa (European Space Agency/ESA).

Enda lalu membandingkan kasus Dwi Hartanto dengan Khoirul Anwar, peneliti Indonesia yang disebut oleh media dan banyak orang sebagai penemu dan bahkan memiliki paten untuk teknologi 4G. ''Saya melihat ada benang merahnya. Untungnya Khoirul Anwar tidak menipu ya, dia betul-betul seorang peneliti dan memberi bantahan,'' kata dia.

''Saya yakin media dan orang Indonesia lain tidak punya niatan jelek untuk kemudian mendukung kebohongan Dwi Hartanto, tapi jangan juga terlalu naif untuk menerima begitu saja seolah-olah semua prestasi itu menjadi benar tanpa kita cek ulang.''

Enda berpendapat, di era medsos sekarang, sepatutnya segala lini cukup kritis untuk mengecek benar-tidaknya kabar yang beredar. ''Kadang hal kritis ini pun kita agak ragu mengungkapkannya karena khawatir dianggap iri atau tidak ingin melihat orang lain senang. Padahal ruang untuk kritis itu sebenarnya penting,'' kata dia.

Ruang kritis, yang menurut Enda luput oleh media yang memberikan panggung kepada Dwi Hartanto adalah memverifikasi prestasi akademisnya. ''Kritik terhadap teman media juga, prestasinya akademis itu sesuatu yang sebenarnya mudah untuk dicek. Berapa banyak paper yang dia tulis, berapa kali dia dikutip oleh peneliti yang lain. Itu sebenarnya sangat mudah, bisa kita cek.''

Sementara itu, Ketua Umum Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional (I4), Johny Setiawan, dalam surat pernyataan sikapnya mengatakan bahwa kelakuan Dwi Hartanto 'membahayakan integritas akademisi'. Dari kasus kebohongan intelektual ini, Johny mengingatkan kembali pentingnya 'kode etik penelitian'. (*)

Sumber berita: BBC Indonesia
Sumber gambar: Kabarsiar.id 

0 komentar:

Posting Komentar