Minggu, 12 November 2017

Jad, Si Anak Yahudi Masuk Islam

ilustrasi
 
Sebuah cerita menarik dan inspiratif tentang bagaimana menerapkan agama Islam dengan cara yang benar. Patut untuk disimak.

JAD, SI ANAK YAHUDI

Jad, adalah seorang bocah berusia 7 tahun di era tahun 40-an. Tinggal bersama keluarganya di salah satu apartemen pada sebuah kota di Prancis. Ia terlahir dari keluarga Yahudi yang taat dan berpendidikan tinggi. Ibunya salah seorang professor di universitas terkemuka di Perancis kala itu.

Di salah satu sudut lantai dasar apartemen tersebut, ada sebuah toko kecil "serba ada" yg menjadi tempat bagi warga sekitar untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka, termasuk keluarga Jad. Toko itu milik seorang berkebangsaan Turki,  Ibrahim, 67 tahun. Seorang yang sangat sederhana, bukan dari kalangan berpendidikan tinggi.

Jad kecil hampir setiap hari berbelanja di toko ini. Bila berbelanja, selalu, tanpa sepengetahuan Ibrahim, setidaknya begitu persangkaannya, diam-diam dia mengambil sebuah permen coklat. Sampai suatu hari ia lupa mengambil (maaf: mencuri) cokelat tersebut.

Ketika melangkah meninggalkan toko, Ibrahim memanggilnya dan berkata, "Jad, kamu lupa sesuatu, Nak." Jad kecil memeriksa belanjaannya. Tetapi, tidak menemukan sesuatu yang terlupakan.

"Bukan itu," kata Ibrahim. "Ini." Sambil memegang coklat yang biasa diambil Jad.  Tentu saja Jad kaget dan ketakutan. Takut bila Ibrahim menyampaikan 'hal memalukan' tersebut ke orang tuanya.  Reaksinya, bengong dan pucat.

"Tidak apa-apa, Nak,.. Mulai hari ini kau boleh mengambil sebuah coklat gratis setiap berbelanja sebagai hadiah. Tapi, berjanjilah untuk jujur mengatakannya," kata Ibrahim sambil tersenyum.

Sejak hari itu, Jad menjadi sahabat Ibrahim.
Ia tidak hanya datang menjumpai Ibrahim untuk berbelanja, tetapi juga menjadi tempat bercerita dan menumpahkan keluh kesahnya.

Bila menghadapi suatu masalah, Ibrahim adalah orang yg pertama diajaknya berbicara. Dan, bila itu terjadi, Ibrahim tidak pernah langsung mnjawabnya, namun selalu menyuruh Jad untuk membuka halaman sebuah buku tebal yang tersimpan di sebuah kotak kayu. Ibrahim akan membaca dua halaman tersebut tanpa suara, kemudian menjelaskan jawaban dari masalah yang dihadapi Jad.

Hal tersebut berlangsung selama lebih kurang 17 tahun. Sampai satu ketika salah seorang anak Ibrahim mendatangi Jad dan memberikan kotak tersebut kepadanya sembari membawa berita yang sangat menyedihkan Jad yang saat itu telah menjadi pemuda. Ibrahim, sahabat sejatinya telah berpulang. Wafat.

Kotak berisi kitab itu diterimanya penuh haru. Jad memperlakukannya dengan takzim sebagai representasi Ibrahim.

Satu ketika, saat ia berhadapan dengan satu masalah pelik, ia mengambil kotak dan membuka kitab yang ada di dalamnya, sebagaimana yang sering ia lakukan dengan Ibrahim. Ternyata kitab itu bertuliskan huruf Arab. Ia pun memohon kepada temannya yang berkebangsaan Tunisia untuk menjelaskan makna dari dua halaman yang dipilihnya secara acak.

Sang teman ini pun kemudian membacakan makna tulisan itu.  Sungguh, apa yang disampaikan sahabatnya,  seakan bagai jawaban khusus bagi masalah yang sedang ia hadapi....
Jad lalu bertanya kepada sahabatnya: "Ini kitab apa..?"

"Al-Qur'an, kitab suci Umat Islam."

Kaget dan takjub Jad mendengar hal tersebut, Ia langsung bertanya bagaimana syarat untuk menjadi seorang Muslim.

Dijawab oleh Si Tunisia : "Mudah, Syahadat dan berusaha menjalankan Syariah."

Hari itu Jad masuk Islam dan mengubah namanya menjadi Jadullah Al-Qurani. Dia berjanji untuk mempelajari Al-Quran dengan sebaik-baiknya dan semampunya.

Tentu saja keluarganya yang beragama Yahudi, terutama Ibunya yang profesor,sulit menerima hal tersebut dan brusaha untuk mengembalikan Jad kepada keyakinannya semula.
Sang Ibu berjuang dengan berbagai cara bahkan mengajak teman-teman dari kalangan intelektual Yahudi untuk memberi pengertian pada Jad. Ini berlangsung selama 30 tahun, tetapi tidak berhasil.

"Pengaruh Ibrahim yang bersahaja, ternyata mengalahkan semua orang-orang pintar di sekitar Jad."

Jadullah pernah berkata, "Saya jadi Muslim di tangan seorang lelaki yang justru tidak pernah berbicara tentang agama. Tak pernah berkata kamu Yahudi, kamu Kafir, belajarlah agama, jadilah muslim. Tapi, dia menyentuh saya dengan "akhlak", sebaik-baiknya perilaku. Memperkenalkan kepada saya se baik-baiknya kitab, Al-Qur'an."

Jadullah Al-Qur'ani meninggal di tahun 2003, dalam perjalanan hidupnya sebagai seorang Muslim. Selama 30 tahun lebih dia telah mengIslamkan lebih dari 6 juta orang di Afrika. Sementara Ibunya masuk Islam di tahun 2005, di usia 78 tahun,  dua tahun setelah meninggalnya sang anak tercinta : Jadullah Al-Qur'ani.

Saudaraku...
Ini kisah nyata luar biasa yg sngt inspiratif, terutama bagi para juru Dakwah. Apa lagi masih banyak dari Saudara Muslim kita yang masih suka mengkafir-kafirkan saudara Muslim yang lain, karena hanya berbeda cara memaknai sebuah, atau beberapa ayat Al Qur'an atau Hadits....

Semoga kita termasuk Muslim yang kaffah. Aamiin. (*)
 
Sumber: forum Alfada
Sumber gambar: indahnyaislam.my

0 komentar:

Posting Komentar