Sabtu, 06 Januari 2018

Memanusiakan Manusia ala Aqua Dwipayana

Aqua Dwipayana (tengah) bersama penulis (kaus merah).

Mendapatkan banyak inspirasi dari Aqua Dwipayana, motivator kenamaan yang sudah teruji reputasinya. Berikut catatan dari Irham Thoriq, wartawan Jawa Pos Radar Malang yang baru saja bertamu ke rumahnya. Kesan begitu mendalam dia rasakan setelah bertemu dengan pria peraih gelar doktor dari Universitas Padjajaran, Bandung ini.
Hari terakhir di 2017. Langit Yogyakarta masih petang ketika saya tiba di Stasiun Tugu. Kereta yang saya tumpangi telat beberapa menit dari jadwal. Tentu saja, orang yang menjemput saya terpaksa menunggu kurang lebih setengah jam. Masalahnya, si penjemput bukan orang sembarangan.

Dia adalah motivator nasional Aqua Dwipayana dan anak bungsunya Savero Karamiveta Dwipayana. Saya, istri, dan dua orang teman yang ikut dalam rombongan tentu saja terkejut yang menjemput adalah Pak Aqua dan anaknya langsung. Sebelumnya, saya tidak pernah bertemu dengan Pak Aqua.

Kami cuman sebatas kenal melalui percakapan whatsapp. Tapi, ketika saya menyampaikan rencana liburan di Jogjakarta dan ingin bertemu dengan beliau, Pak Aqua tiba-tiba menelepon.”Sudah dapat penginapan belum, kalau belum saya sediakan penginapan,” katanya di ujung telepon.
Dan benar saja, ketika tiba di Yogjakarta, saya sudah disediakan penginapan. Saat subuh berkumandang, kita tiba di penginapan yang tidak jauh dari rumah Pak Aqua. Tentu saya sedikit kikuk dengan kebaikan Pak Aqua; saya bukan siapa-siapa, dan diperlakukan seperti teman akrab yang sudah kenal lama.

Belakangan, saya kian takjub, karena saat menjemput saya Pak Aqua cuman tidur satu jam, karena banyaknya tamu yang bertandang ke rumahnya.”Ya sudah biasa seperti ini, santai aja,” kata Pak Aqua.

Rupanya, apa yang dilakukan Pak Aqua itu merupakan wujud dari caranya memanusiakan manusia. Dalam menjalin hubungan, Pak Aqua tidak pernah membeda-bedakan jabatan seseorang.”Allah saja tidak membeda-bedakan umatnya, kalau manusia membeda-bedakan umatnya, itu sudah melebihi Allah, itu kuwalat,” kata pak Aqua dalam sebuah wawancara di rumahnya.

Sikap memanusiakan manusia ini juga saya dapat dari Pak Aqua saat bertandang ke rumahnya. Kepada pembantunya yang menghidangkan minuman, Pak Aqua tak lupa bilang terima kasih. Saat kita makan malam, beberapa sopir juga diajak makan bersama.

Belakangan, seorang sopir Pak Aqua bilang kalau memang sikap Pak Aqua seperti itu.”Wong saya sopir, tapi diajak makan satu meja dengan anggota DPR sudah biasa,” kata sopir itu. Mungkin, dengan cara seperti itulah Pak Aqua ingin memanusiakan manusia.

Begitulah Pak Aqua yang sederhana dan bersahaja. Tidak membeda-membedakan manusia berdasarkan jabatan, harta, dan kekuasaannya. Karena sikap itulah, the power silaturahim yang dia gemakan, mendapatkan respons positif dari puluhan ribu orang.

Ini terbukti dari laris manisnya buku beliau tentang silaturahim, yakni laku 40 ribu eksemplar hanya dalam dua bulan. Hasil dari penjualan buku ini oleh Pak Aqua dibuat untuk memberangkatkan umrah gratis sebanyak 35 orang. Sikap Pak Aqua yang memanusiakan manusia layak kita tiru dan amalkan. Selamat mencoba.

Aqua Dwipayana bukanlah ahli tasawuf. Tapi, dalam beberapa kesempatan ngobrol dengan Pak Aqua, sejatinya pak Aqua sudah mengamalkan ilmu tasawuf, sebuah ilmu tentang olah hati yang begitu populer di kalangan santri.

Selain beliau adalah sosok yang memanusiakan manusia, sebagaimana saya tulis di awal catatan ini, Pak Aqua adalah seorang yang rendah hati. Kita tahu, sikap rendah hati hanya bisa dilakukan oleh orang yang bersih hatinya.

Hati yang bersih inilah yang mengantarkan Pak Aqua sebagai pribadi yang terbuka, positif thinking, dan mudah bergaul. Dia bergaul dengan siapa aja, dan semua diperlakukan sama oleh Pak Aqua. Mulai dari pembantu, sopir, jenderal, menteri, dan lain-lain, semuanya dihormati secara sama oleh Pak Aqua.

Rupanya, hati yang bersih itu, disadari betul pentingnya oleh Pak Aqua. Dalam bukunya yang fenomenal yakni The Power of Silaturahim, bab pertama yang dibahas oleh Pak Aqua adalah kebersihan hati.

Beliau membuka bab pertamanya dengan sebuah hadis, intinya di badan manusia ini ada segumpal darah, jika segumpal darah itu baik maka akan baik orang itu, jika segumpal darah buruk, maka akan buruk orang itu. Segumpal darah itu adalah hati.

Karena hati yang bersih, Pak Aqua dalam menjalankan ilmu silaturahmi-nya dengan bersih pula. Yakni, silaturahmi yang tidak berdasarkan kepentingan.”Jadi, kalau kita bertemu dengan seseorang, pikirkan apa yang saya bisa bantu dari orang itu,” ucap Pak Aqua.”Jangan berpikir apa yang saya peroleh dari orang itu,” imbuhnya.

Silaturahmi tanpa kepentingan itu, sudah mengantarkan Pak Aqua sebagai sosok yang luas jaringannya. Setiap hari, Pak Aqua mengirim tulisan tentang aktivitasnya kepada sekitar lima ribu orang melalui whatsapp. Kira-kira, sebanyak itulah teman pak Aqua, atau mungkin lebih karena ada juga orang yang tidak pakai whatsapp.

Dalam kesempatan berbincang senin pagi (1/1) di rumah, Pak Aqua menyayangkan pola komunikasi mayoritas wartawan kepada narasumbernya selama ini. Yang disinggung profesi wartawan, karena kebetulan saya wartawan, pak Aqua mengawali karir sebagai wartawan dan waktu itu ada juga wartawan senior dari Surabaya yakni Bapak Yamin Ahmad.”Ini yang salah kaprah, wartawan berkomunikasi dengan narasumber saat ada perlunya saja, seperti ada perlunya cari berita,” imbuhnya.

Sedangkan, komunikasi-komunikasi kecil yang membuat akrab wartawan dengan narasumber sering disepelekan. Saat saya berada di rumahnya, beberapakali Pak Aqua menelepon temannya untuk mengucapkan selamat tahun baru 2018. Tampaknya, komunikasi-komunikasi kecil inilah yang membuat Pak Aqua mudah akrab dengan orang. Menurut saya, ini sebuah komunikasi efektif yang mungkin jarang diajarkan di bangku kuliah.

Selanjutnya, menurut Pak Aqua, dalam berkomunikasi kita tidak boleh hanya memikirkan jangka pendek.”Saya pernah bantu orang, mau dikasih uang. Saya tidak mau, karena kalau saya terima ya sudah sampai disitu saja pertemanan kita,” katanya.”Jadi, pikirkanlah jangka panjang tidak hanya jangka pendek,” pungkas doktor komunikasi dari Universitas Padjajaran ini.

Aktivitas yang padat sebagai motivator nasional, membuat Aqua Diwipayana jarang berada di rumah. Tapi, kendati demikian tamu-tamu Pak Aqua selalu datang hampir tiap hari. Entah itu tamu di rumahnya yang di Bogor atau di Jogjakarta. Dan meski tanpa pak Aqua, tamu-tamu dari berbagai kalangan itu tetap dilayani dan dihormati.

Di Jogjakarta, menurut salah seorang sopir Pak Aqua bernama Mas Heri, tamu Pak Aqua hampir ada tiap hari.”Meski beliau sedang tidak ada di rumah,” kata Mas Heri saat mengantarkan saya kesejumlah tempat wisata.

Menurut sepengamatan saya, Pak Aqua dan sekeluarga seolah mempunyai SOP (Standar Operasional Prosedur) dalam melayani tamunya. Pertama, tamu diberi penginapan gratis. Kalau di rumahnya masih cukup, maka tamu akan menginap di rumah Pak Aqua. Kalau tidak cukup, tamu akan dicarikan penginapan yang dekat dengan rumah Pak Aqua.

Tamu diprioritaskan menginap dekat rumah Pak Aqua, karena Pak Aqua akan mengajak tamunya untuk makan bersama. Entah itu makan malam atau sarapan. Disela-sela makan itu, tamu akan diajak ngobrol oleh Pak Aqua yang membuat tamu semakin akrab dengan tuan rumah. Cukup sampai disitu? ternyata tidak.

Tamu-tamu Pak Aqua selalu disediakan mobil plus sopirnya untuk berwisata di Jogjakarta. Di hari pertama, salah seorang sopir Pak Aqua menjemput saya di penginapan, tapi karena saya terlanjur menyewa mobil di agen wisata, maka saya berkeliling jogjakarta di hari pertama itu dengan mobil agen wisata.”Saya di Jogjakarta ada dua mobil, di Bogor juga ada dua mobil, ya mobil-mobil itu ada untuk melayani tamu,” kata Pak Aqua saat diwawancarai di rumahnya.

Sebagaimana saya tulis di atas, dalam silaturahim ke orang, Pak Aqua memang selalu berpikir apa yang bisa diberikan ke orang itu. Tidak berpikir apa yang akan dia dapatkan. Dan yang membuat dia lega, keluarga Pak Aqua yakni sang istri Retno Setiasih dan dua anaknya yakni Alira Vania Putri Dwipayana dan Savero Karamiveta Dwipayana segendang sepenarian dalam hal memberi memanfatan kepada orang lain.”Seperti Ero, dia bisa tidak tidur kalau ada tamu tidak dapat kamar,” kata doktor ilmu komunikasi ini.

Seirama dalam berbagi ini juga yang dia rasakan ketika Pak Aqua mengumrahkan 35 orang gratis. Tahun ini, rencananya akan ada 35 orang lagi yang diumrahkan.”Saya berterima kasih sekali kepada keluarga, karena sebenarnya uang itu hak mereka, tapi mereka ikhlas untuk mengumrahkan orang,” kata Pak Aqua.

Apa yang dilakukan Pak Aqua ini terjadi karena dalam beberapa tahun terakhir, Pak Aqua memang menekankan 85 persen aktivitasnya untuk kegiatan sosial. Begitulah Pak Aqua yang langka, dan patut kita tiru kiprahnya. (*)

Ditulis oleh Irham Thoriq, wartawan Jawa Pos Radar Malang
Diambil dari situs radarmalang.id

0 komentar:

Posting Komentar