Jumat, 09 Februari 2018

Dahlan: Media Cetak Siap-siap Kehilangan Wartawan

Dahlan Iskan membaca koran.

PADANG —Sekitar 70 persen pemilik media cyber berasal dari wartawan surat kabar. Berbagai faktor yang mendorong pelaku pers lari dari surat kabar menuju online. Mulai dari surat kabar tidak maju, pimpinannya kurang inovatif dan tidak bisa diandalkan hingga masalah kesejahteraan.

“Untuk mendirikan sebuah media online tidak menghabiskan dana yang besar. Biayanya cukup Rp 11 juta, pendapatan bisa tembus Rp 10 juta. Bekerjanya bisa sendirian, dibantu istri atau anaknya masih kuliah. Kondisi ini dianggap lebih baik daripada bekerja di perusahaan media cetak yang gajinya, misalnya hanya Rp 2 juta atau di atasnya, atau bahkan tidak digaji,” kata tokoh pers, Dahlan Iskan, saat Konvensi Nasional Media Cetak dalam rangka Hari Pers Nasional 2018, di Hotel Grand Inna Padang, kemarin.

Mantan CEO Jawa Pos itu menilai keputusan melahirkan media online seperti itu adalah langkah yang terbaik untuk saat ini. “Silakan saja, masing-masing keluar dari medianya dan mendirikan dot com sendiri-sendiri. Sebab, sekecil-kecil pendapatannya dari dot com, masih lebih besar dari gajinya yang Rp 2 juta misalnya. Bisa pula membanggakan diri sebagai bos dot com, pemilik media itu. Eksistensinya sebagai wartawan juga terawat,” terang Dahlan.

Konvensi bertajuk “Iklim Bermedia yang Sehat dan Seimbang serta Mempertahankan Eksistensi Media Massa Nasional dalam Lanskap Informasi Global terhadap Persaingan Usaha Media Pascarevolusi Digital itu juga dihadiri Menteri Kominfo Rudiantara, Menteri Keuangan Sri Mulyani, tokoh pers dan ratusan wartawan se-Nusantara.

Kondisi ini juga perlu dikhawatirkan media cetak. Sebab, ke depan bisa saja akan lebih banyak wartawan dan redakturnya berhenti bekerja untuk mendirikan media online. “Ini tantangan media cetak. Itu menurut saya biasa saja. Karena perubahan akan terus berjalan. Pada akhirnya, persaingan ini akan sangat bebas,” ucap mantan Menteri BUMN ini.

Dahlan mengingatkan lakukan apa yang penting Anda lakukan saat ini. Yang penting niatnya baik, untuk menghidupi anak, istri dan keluarga, menjaga eksistensi diri sebagai wartawan. “Jangan memeras, melanggar kode etik jurnalistik,” tegas Dahlan Iskan. 

Presiden Direktur VIVA Media Group, Anindya Novyan Bakrie menegaskan kendati banyak tekanan yang menghimpit media nasional saat ini, bukan berarti media nasional ini harus menyerah. Justru munculnya tantangan ini membuat semua pemain yang ada di dalamnya mencari jalan keluar agar bisnis ini ‘sustainable’.

Media ke depan harus berpikir lebih banyak, kata Anin, mendengarkan lebih baik dari sisi pelanggan dan mencoba melayani secara 360 derajat. Artinya, media ke depan harus menjadi gabungan platform yang ada, seperti gabungan event management, talent production dan content management. 

“Jadi, ini murni untuk melayani pelanggan dengan lebih baik, di tengah tekanan yang besar itu tadi,” tuturnya.

Tekanan selanjutnya, terang Anin, disrupsi teknologi yang ditandai masuknya platform baru, di mana pemain-pemain asing masuk dan bersaing. Karena, tidak sedikit pemain-pemain yang memiliki platform teknologi beralih menjadi pemain media.

Mereka juga melakukan konsolidasi dari sisi aplikasi atau platform. Tadinya hanya berupa media sosial, berubah menjadi chat Apps, search engine, dan video streaming. ”Tekanan itu yang menjadi deflasi di industri ini akan terus terjadi, dan ini tak bisa dielakkan,” tutur Anin.

PERS BERPERAN BANGUN INDONESIA

Sementara, Menteri Keuangan RI Sri Mulyani saat Konvensi Nasional Media Massa mengatakan pers adalah salah satu pemangku kepentingan dan aktor penting dominan dalam proses pembangunan di negara ini.

“Pemerintah menggunakan pers untuk menyalurkan informasi dan mengedukasi serta menyampaikan program-program pembangunan oleh pemerintah,” kata Sri Mulyani.

Namun pada dasarnya, kata dia, rakyat Indonesia bertanggung jawab untuk membesarkan bangsa. Termasuk juga insan pers yang menjadi pemegang tongkat estafet dari setiap program yang telah dikerjakan pemerintah.

“Apa pun bidang pekerjaan yang kita geluti, pada akhirnya tujuan kita adalah sama, yaitu membawa Indonesia maju, yang sejahtera adil dan makmur,” tutur Sri Mulyani.

Sri Mulyani menambahkan, salah satu program pemerintah tentang ekonomi inklusif tidak akan pernah berhasil tanpa ada peran insan pers dalam mengabarkan program tersebut.

“Kami rangkum satu program unggulan dalam membangun ekonomi nasional dalam program ekonomi inklusif di mana masyarakat dapat terlibat dalam pembangunan dan merasakan hasil dari apa yang dikerjakan,” ucapnya.

Sementara, Ketua Dewan Pers Indonesia Yosep Adi Prasetyo menjelaskan Kemerdekaan Pers sama dengan kebebasan berekspresi dan demokrasi. “Kebebasan pers diperlukan untuk wujudkan keadilan, keterbukaan, memajukan dan mencerdaskan bangsa,” sebutnya.

Wakil Gubernur Sumbar Nasrul Abit mengatakan saat ini hoaks atau fitnah merupakan masalah utama. “Oleh karena itu, kami mengimbau membangun pers yang sehat, berimbang, membangun, menyejukkan, dan tidak menyesatkan masyarakat,” harapnya. (ril)

Sumber: Padang Express

0 komentar:

Posting Komentar