Senin, 21 Mei 2018

Tidak Ada Surga untuk Teroris

ilustrasi penanganan teroris.



Catatan Lukman Maulana, Redaktur Bontang Post


Teror bom bunuh diri yang mengguncang Surabaya, lantas Riau, mengundang kembali kesedihan mendalam bagi masyarakat Indonesia.  Pasalnya teror bom yang dalam beberapa waktu terakhir sempat terhenti, kini muncul kembali bahkan dengan skala dan radius yang begitu tak terduga. Yang lebih memprihatinkan, selain menelan banyak korban, pelaku teror turut mebawa serta keluarga mereka yang usianya masih sangat belia, bahkan ada yang belum genap 10 tahun.

Tentu menjadi pertanyaan apa yang sebenarnya dicari oleh para teroris ini sehingga mereka bisa melakukan apa saja yang di luar nalar manusia. Bunuh diri jelaslah hal yang dilarang agama. Dan ini sudah jelas di agama Islam, diterangkan adalm Alquran dan hadis sahih. Apalagi bila bunuh diri yang dilakukan bertujuan untuk membunuh orang lain, maka betapa berlapisnya dosa si pelaku karena secara jelas agama Islam melarang membunuh, apalagi yang dibunuh merupakan umat beragama lain yang tengah melakukan ibadahnya dengan damai.

Bila bunuh diri dan membunuh saja sudah begitu dosanya, lantas tambahan dosa apalagi yang akan didapatkan ketika mengajak serta buah hati yang belum akil balig melakukan dua perbuatan terkutuk itu? Apakah dengan dosa seperti itu, surga menanti jiwa-jiwa mereka di akhirat? Apakah yang melakukan itu akan selamat dari siksa di alam barzah?

Saya bukan ustaz atau ahli agama, akan tetapi bila merujuk pada Alquran dan hadis sahih, sudah jelas dapat dipahami bahwa apa yang dilakukan oleh teroris merupakan tindakan dosa. Bahkan termasuk dosa besar, yang ancamannya adalah neraka. Lantas bila merujuk pada tindakan itu saja, apakah layak disebut bila teroris bisa mendapat surga dengan kekejian yang dilakukan?

Itu baru dilihat dari kitab suci, belum bila melihat pada kisah nabi. Bagi umat Islam yang taat, pasti sudah mengerti seperti apa keteladanan yang kebaikan hati dari sang uswatun hasanah. Nabi Muhammad tak pernah mengajarkan teror. Yang diperbolehkan adalah berperang ketika terjadi kesewenang-wenangan. Itu pun bukan sekadar perang, melainkan perang sesungguhnya yang begitu menganut hukum-hukum peperangan.

Indonesia, meskipun tidak bisa dikatakan sepenuhnya sejahtera, namun kondisinya berada dalam kedamaian. Masyarakatnya rukun antaragama, suku, ras, dan golongan. Tidak sedang dalam perang. Sehingga perang yang dijadikan alasan para teroris sejatinya tidak pernah ada. Mereka sendirilah yang menyulut perang tanpa mengindahkan aturan-aturannya.

Hukum perang yang dianut Rasulullah adalah hukum perang yang adil, yang fair saling berhadapan satu sama lain. Saling adu kekuatan di medan tempur. Tidak ada yang datang ke rumah ibadah lantas meledakkan diri. Tidak pernah ada. Bahkan saking santunnya hukum perang Rasulullah, para tahanan perang diperlakukan dengan baik, tak boleh ada penyiksaan ketika lawan sudah menyerah.

Keadilan perang yang ditunjukkan Rasulullah juga meliputi mereka yang terlibat di medan tempur. Anak-anak yang belum cukup umur dan juga perempuan tidak diperkenankan ikut perang. Bahkan orang yang dianggap masih punya tanggungan hidup, disarankan tetap berada di rumah. Kisah ini mestinya menunjukkan betapa yang dilakukan para teroris sama sekali tidak punya dasar. Membawa perempuan dan anak-anak menyerang tempat ibadah, sama sekali tidak pernah ada contohnya.

Perlakuan terhadap umat beragama lain, juga sejatinya secara jelas telah ditunjukkan teladannya oleh Rasulullah. Yaitu selama tidak mengganggu atau menindas, maka haram untuk diperangi. Keberadaan umat berbeda keyakinan ini malahan harus dijaga dan dirangkul, dipastikan keamanannya sebagaimana yang dilakukan Rasulullah pada pemeluk Yahudi dan Nasrani yang ada di Madinah. Maka, nabi yang mana yang diikuti para teroris?

Dengan begitu banyaknya pelanggaran atas perintah Allah dan sabda nabi, sudah seharusnya tudingan Islam mengajarkan terorisme dihapuskan. Sebaliknya, ajaran kedamaian dan cinta kasih Islam harus lebih dikampanyekan. Aksi para teroris, mulai dari Bom Bali, Bom Surabaya, hingga ISIS, sudah seharusnya dilepaskan dari embel-embel Islam. Karena Islam tak pernah mengajarkan semua itu.

Makanya saya heran dengan cuitan Ade Armando yang menyebut Islam tak bisa dilepaskan dari aksi teroris. Pria berkacamata yang mengaku dosen itu menyebut ada banyak ayat di Alquran yang merujuk pada aksi terorisme. Mendapati pendapat tak berdasar itu, saya berkeyakinan bila Ade Armando ini tidak pernah mempelajari Alquran.

Logikanya, kalau memang Alquran mengajarkan terorisme, maka Indonesia ini akan binasa dari dulu, karena mayoritas penduduknya adalah Islam. Faktanya, justru umat Islam tercatat sejak zaman penjajahan, kemerdekaan, hingga sekarang ini sebagai garda terdepan dalam menyelematkan negeri. Sungguh pendapat yang amat beracun yang sangat disayangkan keluar dari mulut seorang dosen yang katanya beragama Islam.

Memang, banyak pihak yang telah dibutakan oleh aksi terorisme mengatasnamakan Islam sehingga dengan kepentingan pribadi atau golongan, dengan menggunakan emosi yang labil bisa mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang kontroversial yang bukannya meneteramkan, tapi justru semakin memperkeruh suasana. Yang seperti itu menurut saya juga layak dilabeli teroris, karena dengan kalimat-kalimatnya bisa menjadi provokator yang meresahkan masyarakat.

Saya bukan Tuhan, dan saya pikir saya juga tidak berhak menghakimi. Tapi saya rasa kita semua sepakat terlepas dari apapun keyakinan kita,  bahwa tidak pernah ada surga untuk teroris. Karena surga tidak pernah bisa “dibeli” dengan penderitaan manusia lain. Alih-alih seperti mujahid atau para pejuang syahid, para teroris mengatasnamakan agama ini justru berakhir seperti Firaun yang jasadnya tidak diterima bumi. Lihatlah betapa muncul beragam penolakan di berbagai daerah terhadap jenazah para teroris. Mirip dengan yang terjadi pada Firaun di zaman Nabi Musa.

Maka berhenti mengaitkan terorisme dengan Islam atau dengan agama apapun. Karena saya meyakini semua agama mengajarkan perdamaian. Stigma ini seharusnya sudah hilang di zaman now, tapi tetap saja Islam selalu menjadi kambing hitam bahkan di negeri mayoritas muslim itu sendiri. Ditambah lagi dengan kebodohan aparat yang bisa dengan mudah mengaitkan Islam dengan aksi kekerasan.

Kita pasti ingat komentar salah seorang petinggi aparat keamanan yang dengan mudahnya menyebut ucapan “Allahu Akbar” sebagai ciri teroris. Lantas yang terbaru, betapa Alquran yang begitu suci dijadikan barang bukti untuk kejahatan terorisme. Belum lagi tudingan dan tuduhan keji kepada para santri maupun muslim yang berjenggot atau bercadar. Sungguh hal-hal yang sangat disayangkan oleh negeri yang dasar negaranya bersumber dari agama Islam.

Entah apa yang dituju oleh para teroris, entah apa yang mereka cari, tapi jelas itu bukanlah jalan yang diridai Allah. Karena kalamullah, Alquran tak pernah mengajarkan itu. Maka cukup wajar bila kita lantas  berasumsi bahwa  aksi-aksi teroris itu sengaja dilakukan untuk menjelekkan nama Islam. Untuk memperburuk citra Islam, untuk membuat dunia membenci Islam. Bahwa aksi terorisme yang belakangan marak merupakan agenda besar untuk menjauhkan umat dari kebenaran. Wallahu a’lam bishawab. (*)

Ilustrasi foto: Antara

0 komentar:

Posting Komentar