Kamis, 28 Juni 2018

Jangan Viral, Berat!

ilustrasi

Oleh Lukman Maulana, Redaktur Bontang Post

Dalam beberapa tahun terakhir sejak penggunaan gadget membudaya, masyarakat kita mengenal istilah “viral”. Istilah ini merujuk pada sebuah informasi, bisa berupa potongan gambar, video, tulisan, atau sejenisnya, yang menyebar melalui distribusi internet yang lantas muncul di gadget untuk kemudian “dinikmati” masyarakat dan menjadi pembicaraan ramai.

Merujuk Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), viral memiliki dua arti. Arti pertama yaitu sesuatu yang berkenaan dengan virus, sementara arti kedua yaitu “bersifat menyebar luas dan cepat seperti virus”. Dalm konteks ini, arti kedua rasanya lebih relevan menjelaskan makna viral. Walaupun saya yakin masyarakat zaman now sudah paham benar dan tidak asing lagi dengan istilah tersebut.

Konten viral sebenarnya sudah eksis sejak era teknologi informasi masih dikuasai media cetak dan elektronik. Namun dampaknya baru sangat terasa di era teknologi informasi yang berhubungan dengan internet, khususnya media sosial (medsos). Apalagi, bisa dibilang gadget ponsel pintar kini sudah bisa dimiliki oleh kebanyakan masyarakat di Indonesia, seakan bukan lagi barang mewah.

Kilas balik dulu ke belakang, konten viral awalnya lebih didominasi dengan hal-hal negatif dan sensitif, biasanya bersinggungan dengan moral. Ambil contoh video mesum anggota DPR RI Yahya Zaini dengan Maria Eva, serta video mesum penyanyi pop Nazriel Ilham alias Ariel dengan sejumlah artis ibu kota kenamaan. 

Sementara di era kekinian, konten-konten yang viral tidak lagi didominasi materi-materi negatif dan sensasional. Walaupun yang demikian itu tetap ada, namun kini masyarkat juga mulai memviralkan muatan-muatan positif yang berfaedah. Misalnya informasi orang yang membutuhkan bantuan, mempromosikan pedagang miskin yang giat bekerja, hingga membagikan ilmu-ilmu bermanfaat lainnya.

Di satu sisi, konten viral di dunia maya kerap ditunggangi berita bohong atau hoax. Canggihnya teknologi informasi yang mebuat beragam informasi begitu mudah diakses, nyatanya memiliki sisi gelap. Dengan masifnya informasi yang masuk, tingkat kevalidan, kebenaran informasi-informasi itu juga jadi banyak diragukan. 

Sayangnya, masyarakat Indonesia belum semuanya melek literasi. Karena unsur emosi atau keinginan menjadi orang pertama yang tahu, menjadi orang pertama yang menyebarkan, sering kali membuat konten-konten hoax begitu mudah terdistribusikan. Bukan hanya meresahkan, viralnya hoax juga turut berpotensi memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa khususnya di tahun-tahun politik belakangan ini.

Bukan hanya sekadar membagikan informasi dari sumber lain, tren viral juga memungkinkan masyarakat membuat sendiri informasi-informasi yang kemudian disebarkannya agar menjadi viral. Fitur siaran langsung yang ada di medsos seperti facebook, instagram, dan aplikasi-aplikasi sejenis misalnya, membuat siapa saja kini bisa menyebarkan video yang direkam, gambar yang dijepret. 

Beberapa di antaranya tidak berpikir dua kali sebelum menyebarkan materi viral, tak peduli apakah materi itu berfaedah atau tidak. Informasi-informasi yang sebenarnya bersifat pribadi dan bukan konsumsi publik pun kini bisa dengan mudah disebarkan demi alasan dendam, gengsi, hingga mencari sesuap nasi.

Lihatlah video “Bu Dandy” yang sempat viral beberapa waktu lalu. Ketika si Bu Dandy membagi-bagikan uang begitu banyak kepada perempuan yang dituding perebut laki orang alias pelakor. Kasus ini sebenarnya bersifat pribadi. Namun malah jadi konsumsi publik dan begitu jadi pembicaraan bahkan sampai masuk acara infotainment.

Kasus Bu Dandy itu merupakan salah satu informasi pribadi yang viralnya terbilang heboh. Di luar itu, ada banyak hal-hal pribadi yang tanpa rasa malu diumbar di medsos. Di grup-grup komunitas yang ada di facebook misalnya, saya kerap menemukan warganet yang dengan mudahnya mengunggah sebuah foto seseorang, untuk kemudian diberikan caption atau label sesuai tujuannya. Macam-macam, entah menuduh seseorang sebagai pelakor atau penipu, begitu vulgarnya diumbar tanpa rasa malu.

Termasuk dalam kasus kecelakaan lalu lintas, keinginan “pamer” sebagai pemberi informasi pertama kadang membuat seseorang seakan tak punya rasa kemanusiaan. Dengan begitu percaya dirinya membagikan foto-foto kecelakaan yang tragis dengan penuh darah, tanpa memedulikan perasaan keluarga korban. Padahal dalam etika jurnalistik, harus ditutupi sensor.

Pun begitu, tren viral ini menurut saya harus menjadi perhatian semua pihak agar dapat lebih berhati-hati menjaga sikap di masyarakat. Karena kalau tidak, bisa-bisa sikap negatif yang sengaja atau tidak sengaja direkam kamera, bisa menjadi viral dan membuat malu. Hingga bisa berujung penjara bila melanggar Undang-Undang ITE. 

Misalnya kasus anak-anak sekolah menengah yang merekam aksi mereka mempermainkan salat beberapa waktu lalu. Video mereka viral dan mendapat kecaman sehingga berujung pada dikeluarkannya para pemeran dalam video tersebut. Video yang awalnya iseng dan main-main, berujung pada petak dan menghancurkan masa depan.

Ya, viral memang bukan untuk main-main. Perbuatan-perbuatan negatif yang konon dilakukan karena iseng, bisa berujung nestapa, malu, hingga penderitaan. Kasus terbaru contohnya, penghinaan seorang remaja kepada presiden RI Jokowi. Video ini viral dan mendapat kecaman begitu keras karena terdapat ancaman pembunuhan kepada sang presiden. Belum lagi dikaitkan dengan perlakuan istimewa yang didapatkan pelaku, yang berasal dari etnis tertentu.

Bukan hanya kesengajaan yang bisa viral dan merusak citra diri, ketidaksengajaan juga bisa membahayakan di era keterbukaan informasi ini. Sehingga masyarakat zaman now harus benar-benar bisa menjaga dirinya dalam berperilaku di masyarakat. Karena siapa tahu ada kamera-kamera yang merekam aksi tidak terpuji, lantas memviralkannya di jaga maya.

Mengenai fenomena ini sudah banyak kasus. Contohnya kasus seorang bapak yang menendang ayunan di taman bermain, menghempaskan seorang anak laki-laki di atasnya yang sebelumnya tak sengaja menabrak putri bapak tersebut. Rupanya aksi tersebut direkam salah seorang warganet. Video detik-detik penendangan itu lantas viral dan coba tebak, membuat bapak itu mendapat kecaman dari berbagai pihak hingga harus meminta maaf.

Dengan beragam fenomena yang muncul terkait “viral” ini, maka sudah sepatutnya kita semua mawas diri. Memang tidak semua materi viral itu berfaedah, sebagian besar di antaranya bersifat negatif dan mengandung hoax. Bila tidak pintar-pintar dalam bersikap, maka kasus yang saya paparkan di atas bisa jadi akan terjadi pada diri kita.

Lantas sikap apa yang mesti kita lakukan? Di antaranya sikap agar kita tidak begitu mudah merekam/memotret hal-hal bersifat pribadi khususnya konten-konten negatif. Bila video atau fotonya bocor dan ada yang menggunggah ke dunia maya, maka nama baik kita menjadi taruhannya. Tak perlulah iseng atau sejenisnya, karena tak ada yang tahu pasti apa yang akan terjadi di masa mendatang.

Sikap lainnya yaitu agar kita senantiasa berperilaku baik di masyarakat. Karena kita tidak tahu kapan kamera-kamera para warganet merekam perilaku kasar kita yang berpotensi menjadi bahan viral. Bila begitu, mau ditaruh di mana muka ini berikut nama baik yang selama ini dijaga. Fenomena ini di satu sisi sebenarnya cukup membantu masyarakat agar berperilaku baik di mana saja dan kapan saja.

Kemudian, sikap yang perlu kita kembangkan adalah sikap berpikir berkali-kali, kalau perlu seribu kali sebelum menggunggah sesuatu di medsos. Khususnya yang bersifat pribadi, sensitif, dan kontroversial. Karena imbasnya tidak ada yang tahu seperti apa. Syukur-syukur kalau ditawari tampil di televisi, tapi bagaimana kalau malah berujung pada pencemaran nama baik yang berujung bui?

Kita pun tidak bisa langsung memercayai setiap informasi yang beredar. Untuk kemudian menyebarkannya secara luas. Dunia maya jauh berbeda dengan dunia jurnalistik, tak ada kaidah yang disepakati di sana. Maka cross check dan tabayun akan setiap informasi perlu dilakukan, demi menghindari kerugian yang bisa terjadi pada diri kita di masa depan. 

Ya memang di sisi lain viral juga bisa mendatangkan keuntungan. Seperti bakat menyanyi yang bermuara di dapur rekaman setelah videonya viral, atau pedagang yang kebanjiran pesanan karena testimoni positif yang viral. Namun kenyataannya viral bisa sangat mematikan, bahkan bisa menyebabkan kematian. 

Maka mari kita bersama-sama menjaga etika dan sopan santun, berpikir dua kali sebelum bertindak baik di dunia maya maupun di dunia nyata. Mari viralkan kebaikan, jangan viralkan kejahatan. Karena kenyataanya viral itu berat, kau takkan kuat! (***)

Sumber Ilustrasi: santricendekia.com

0 komentar:

Posting Komentar