Selasa, 03 Juli 2018

Korelasi Antara Pilkada dan Piala Dunia

TPS yang didesain bertema Piala Dunia 2018.

Catatan Lukman M, Redaktur Bontang Post

PEKAN terakhir Juni kemarin merupakan masa yang menentukan. Setidaknya bagi para pasangan calon (paslon) kepala daerah yang mengikuti Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak 2018. Sebanyak 171 daerah pada 27 Juni lalu menyelenggarakan hajatan demokrasi untuk menentukan pemimpin baru dalam kurun waktu lima tahun ke depan.

Di sisi lain, pekan lalu juga menjadi penentuan bagi para tim sepak bola dunia untuk bisa terus berlaga di turnamen akbar empat tahunan, Piala Dunia 2018. Bertempat di Rusia, laga terakhir masing-masing grup di fase penyisihan tercatat menjadi laga penentu bagi beberapa tim, khususnya tim-tim besar Eropa dan Amerika untuk bisa lolos ke fase gugur 16 besar.

Sekilas dua gelaran ini, Pilkada dan Piala Dunia tampaknya tak berkorelasi. Namun dalam perjalanannya, saya mencatat ada beberapa persamaan di antara event nasional dengan event internasional beda dimensi ini.

Persamaan pertama sangat jelas yaitu aroma kompetisi yang kental, sama-sama mewarnai dua event ini. Sebagaimana 32 tim yang bersaing memperebutkan gelar tertinggi di kancah sepak bola dunia (mungkin juga semesta), para pasangan calon kepala daerah  di 171 daerah yang menggelar pilkada juga demikian. Mereka berkompetisi merebut sebanyak mungkin suara untuk menjadi orang nomor satu dan nomor dua di daerahnya masing-masing.

Baik calon kepala daerah maupun tim sepak bola, dituntut memberikan kemampuan terbaik tanpa melakukan pelanggaran dalam caranya masing-masing. Tim bola tentu dilarang keras melakukan pelanggaran-pelanggaran kala bertanding di lapangan hijau. Karena kalau melanggar, wasit akan mengganjar dengan kartu kuning atau kartu merah yang jelas akan berpengaruh pada kondisi tim.

Sedangkan calon kepala daerah, dituntut untuk tidak melakukan pelanggaran-pelanggaran aturan kampanye maupun pemilu. Misalnya melakukan praktik politik uang, kampanye hitam, hingga politisasi isu SARA. Bila ketahuan, pihak pengadil baik pengawas pemilu ataupun aparat penegak hukum bisa memberikan sanksi, baik pidana maupun pembatalan keikutsertaan dalam pilkada.

Dengan pembatasan pergerakan melalui aturan-aturan yang telah dibuat, baik tim sepak bola maupun calon kepala daerah dituntut harus berkompetisi dengan sportif. Termasuk ketika gagal menang, harus mau mengakui kekalahan. Apabila ada potensi-potensi dugaan kecurangan, bisa melakukan protes sesuai mekanisme yang berlaku.

Di Piala Dunia, kini dilengkapi video assistant referee (VAR) alias asisten video untuk wasit. Sehingga ketika ada tim yang merasa dicurangi, bisa protes ke wasit untuk kemudian dipastikan kebenaran klaim tersebut dengan melihat kembali tayangan ulang di video. Meski masih mengundang kontroversi, tapi toh penerapan VAR dinilai banyak membantu menghasilkan pertandingan yang bersih.

Di ranah Pilkada, kontestan bisa melapor ke pengawas pemilu, baik itu Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) maupun Badan Pengawas Pemilu (Panwaslu) bila merasa dirugikan oleh pihak-pihak tertentu. Khususnya dalam hal kampanye, termasuk ketika hasil pilkada diumumkan. Ketika suatu paslon dinyatakan kalah, namun mengklaim memiliki bukti yang bisa membalik keputusan itu, ada koridor yang mesti dilewati. 

Sportivitas inilah yang bila ditunjukkan, bisa menjadi teladan bagi masyarakat luas. Baik itu sportivitas di lapangan hijau maupun sportivitas di kancah politik. Di satu sisi, sportivitas ini akan berbuah positif yang hasilnya kembali ke pelaku sportif itu sendiri.

Ambil contoh tim Jepang, yang karena telah melakoni tiga pertandingan fase grup H dengan penuh sportivitas, akhirnya diganjar lolos ke babak 16 besar Piala Dunia. Padahal dari segi perolehan poin berikut selisih gol, tim matahari terbit sebenarnya seimbang dengan Senegal. Sehingga penentuan siapa di antara dua negara lain benua ini untuk menjadi runner-up grup untuk lolos ke fase berikutnya ditentukan melalui fair play.

Ya, secara data, Jepang paling sedikit mendapat kartu kuning ketimbang Senegal. Sehingga Jepang menjadi tim yang lebih fair play, lebih sportif dibandingkan Senegal. Di satu sisi untuk Senegal, karena ada beberapa pemainnya yang mendapat kartu kuning, mesti merelakan pulang lebih awal meskipun sejatinya memiliki peluang yang sama. Lihatlah betapa sportivitas bisa berdampak pada masa depan mereka yang melakukannya.

Teladan dari “saudara tua” Indonesia ini bukan hanya ditunjukkan oleh tim Jepang, melainkan juga oleh para suporternya yang hadir memberikan dukungan langsung di stadion. Seusai pertandingan, para supporter yang kerap dijuluki “pemain keempat” ini melakukan aksi terpuji, yaitu memunguti sampah di dalm stadion sebelum beranjak pergi. 

Padahal, kala itu Jepang baru saja meraih kemenangan kontra Kolombia. Bukannya larut dalam hingar binger kemenangan, para suporter ini sebaliknya malah menyempatkan waktu membersihkan stadion. Hebatnya, tindakan terpuji yang lantas viral ini diikuti oleh suporter tim Senegal melakukan hal yang sama.

Sportivitas di kancah pemilu, di sisi lain, sejauh ini yang tampak dominan adalah sikap legawa dari para kandidat yang kalah. Dalam perhitungan cepat (quick count), meski bukan hasil akhir, cukup efektif melihat hasil akhir pemilu. Pemandangan yang terlihat, paslon kepala daerah yang kalah dalam hitung cepat, ada yang sudah mengakui kegagalan dan mengucapkan selamat kepada pemenang versi quick count. 

Pengakuan tersebut juga semestinya ditiru oleh para pendukung atau tim sukses masing-masing calon kepala daerah. Tentunya setelah hasil penghitungan sebenarnya atau real count sudah final. Karena saya melihat dalam penyelenggaraan pemilu sebelum-sebelumnya, para kandidat sudah berdamai, namun para pendukungnya masih saja gontok-gontokan.

Persamaan kedua yang juga terlihat jelas adalah momen antara Piala Dunia dan Pilkada yang diselenggarakan di bulan Juni. Persamaan ini menurut saya memiliki korelasi, setidaknya untuk momen Pilkada. Pasalnya ada tim paslon yang menyebut angka golongan putih (golput) alias tidak menggunakan hak pilih dalam Pilkada tahun ini salah satunya disebabkan oleh siaran Piala Dunia.

Ya memang siaran Piala Dunia yang karena perbedaan waktu tayang dini hari waktu Indonesia, membuat banyak masyarakat utamanya penggila bola begadang demi menyaksikan pertandingan, lantas bangun kesiangan keesokan harinya. Kebetulan juga di dini hari Rabu (27/6) kemarin yang menjadi hari-H pemungutan suara Pilkada serentak, disiarkan laga menentukan antara Argentina melawan Nigeria sekira pukul 02.00 Wita.

Cukup masuk akal sih mengaitkan Piala Dunia dengan tingkat golput, namun sejauh ini klaim tersebut belum bisa dibuktikan. Nyatanya saya, yang begadang menyaksikan laga tersebut dan baru tidur usai Subuh, masih sempat datang ke tempat pemungutan suara (TPS) untuk menyalurkan hak suara saya. Maka sebenarnya kurang tepat bila “menyalahkan” Piala Dunia mengingat golput itu menurut penelitian para pakar disebabkan oleh banyak faktor, tidak berdiri tunggal.

Persamaan ketiga dari Pilkada dan Piala Dunia, sebagaimana yang saya sebutkan di awal-awal tulisan ini, adalah adanya saat-saat menentukan, kejutan-kejutan yang terjadi di menit-menit terakhir. Persamaan ini, menurut saya merupakan pelajaran berharga yang mesti dipetik bukan hanya oleh tim sepak bola maupun oleh calon kepala daerah, melainkan juga oleh siapa saja dalam berusaha mencapai tujuan.

Kita lihat betapa Brasil yang sempat mengalami kebuntuan kala melawan Kosta Rika di laga kedua fase grup, justru mampu mencatatkan kemenangan di menit ke-90, yang merupakan menit terakhir dalam pertandingan sepak bola. Bukan hanya satu gol, dua gol diciptakan juara lima kali Piala Dunia ini untuk kemudian mengembalikan semangat tim yang sempat turun saat gagal menang di laga perdana.

Pun dengan Argentina yang gagal meraih hasil maksimal di dua laga awal grup D, bahkan dibantai 0-3 kala melawan Kroasia, di menit-menit terakhir pada pertandingan terakhir grup D pula mampu meraih hasil positif yang membuat mereka melenggang ke 16 besar.

Hal yang sama juga sejatinya berlaku untuk Jerman. Pada laga kedua melawan Swedia, Jerman dituntut menang agar asa melaju ke babak 16 besar bisa terus dimiliki. Sementara hingga injury time, Jerman masih tertahan hasil imbang. Kemenangan lantas diraih melalui tendangan bebas Kroos di menit terakhir, yang tiada dinyana-nyana membobol gawang Swedia.

Sayangnya kemenangan ini tak dijadikan pelajaran bagi Jerman. Die mannschaft mesti pulang lebih awal setelah dipermalukan Korea Selatan, lagi-lagi di menit terakhir. Kejutan diberikan oleh Korea Selatan yang di luar dugaan mampu memukul jatuh sang juara bertahan di menit terakhir. 

Meski hasil pertandingan tak lagi menentukan bagi Korea Selatan yang sudah dipastikan pulang, namun tim berjuluk Taeguk Warriors ini tetap bermain dengan kemampuan terbaiknya. Hasilnya, di luar dugaan mereka sukses mengubur impian Jerman mepertahankan gelar juara. Jerman pun mesti pulang lebih awal, dan kutukan “juara gagal di fase grup” kembali terulang di Piala Dunia edisi ini.

Beberapa hasil pertandingan dalam Piala Dunia 2018 di Rusia tersebut tentu bisa menjadi pelajaran berarti bagi siapapun yang tengah berjuang meraih sebuah tujuan atau kesuksesan. Hasil-hasil tersebut menunjukkan bahwa, selama peluang masih ada, maka seharusnya pantang untuk menyerah. Sekalipun dalam mengejar keberhasilan itu kita sempat terjatuh atau terpuruk. Karena tidak ada yang tahu hasil apa yang akan didapatkan. Sehingga yang perlu dilakukan adalah berjuang sekuat tenaga.

Dan sebagaimana yang dikatakan pepatah, perjuangan takkan mengkhianati hasil, itu pulalah yang dicapai tim-tim yang tetap optimistis hingga detik-detik terakhir. Sementara bagi mereka yang pesimistis atau terlalu jemawa, bisa saja malah mendapat kegagalan yang lebih menyakitkan. Sebagaimana yang dialami Jerman.

Hal serupa menurut saya bisa berlaku untuk Pilkada tahun ini. Tak usah jauh-jauh, lihat saja hasil cepat Pemilihan Gubernur (Pilgub) Kaltim. Paslon nomor urut 3, Isran Noor-Hadi Mulyadi secara mengejutkan merajai hasil hitung cepat. Paslon yang diusung Partai Gerindra, PKS, dan PAN ini di luar dugaan mampu mencatat suara tertinggi di atas 30 persen, melampaui tiga kandidat lainnya.

Padahal dalam survei-survei yang dirilis sebelum hari-H, paslon nomor urut 4 Rusmadi-Safaruddin dan paslon nomor urut 1 Andi Sofyan Hasdam lebih banyak diunggulkan. Pun dalam debat publik, kedua paslon ini lebih diminati pengamat. Berbeda dengan Isran-Hadi yang justru dianggap blunder selama penyelenggaraan debat. Nyatanya Isran-Hadi unggul teratas versi hitung cepat.

Namun begitu, kemenangan Isran-Hadi masih belum final, karena keunggulan itu masih hasil hitung cepat. Sementara penentuan resmi pemenang Pilgub menanti hasil perhitungan sebenarnya atau real count dari Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kaltim yang diumumkan 7-9 Juli mendatang. 

Nah, sebagaimana dalam pertandingan-pertandingan sepak bola yang sudah saya jabarkan, di masa-masa penantian jelang pengumuman tersebut, peluang bagi paslon lain untuk memenangkan pilgub ini masih ada. Bisa jadi nantinya dalam hasil perhitungan resmi paslon lain yang malahan unggul. 

Karena metode hitung cepat itu juga memiliki kelemahan. Apalagi bila selisih suara yang diraih kandidat berselisih tipis. Berkaca dari pengalaman-pengalaman terdahulu, terdapat paslon yang menurut quick count menang, namun setelah keluar rekapitulasi resmi dari KPU, justru menjadi pihak yang kalah.

Maka agar tidak malu di kemudian hari, saya sarankan kepada semua pihak kandidat kepala daerah untuk menahan diri mengklaim sebagai pemenang. Sabar-sabar saja menunggu hasil dari KPU yang tinggal hitungan hari. Baru deh bisa mengklaim sesuka hati. Karena kan malu kalau sudah syukuran kemenangan, sudah pamer di berbagai media, tapi ternyata malah gagal terpilih.

Kesimpulannya adalah, baik Pilkada maupun Piala Dunia, sama-sama merupakan sebuah kompetisi yang menuntut sportivitas tinggi. Tak boleh ada pelanggaran, harus sesuai aturan. Kalau tidak, bakal kena hukuman. Pun begitu, namanya kompetisi, apapun bisa terjadi. Selama peluang menang masih ada, mestinya pantang untuk menyerah dini.

Tentu sebagai kompetisi, banyak pelajaran berharga yang bisa diambil. Yang pasti kembali ke tujuan awalnya, kompetisi diadakan untuk mencari yang terbaik di antara yang baik. Sehingga tim manapun yang keluar sebagai juara Piala Dunia, tentu merupakan tim yang terbaik. Sementara siapapun yang terpilih dalam Pilkada, khususnya Pilgub Kaltim, semoga saja merupakan yang terbaik untuk masa depan kita semua yang lebih baik. Aamiin. (*)

Sumber foto: Unang/PojokBogor

0 komentar:

Posting Komentar